Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Bisakah Banjarmasin Meniru Melaka?

admin • Rabu, 7 Januari 2026 | 21:56 WIB
Chusnul Hakim
Chusnul Hakim

           Oleh: Chusnul Hakim
           Mahasiswa S2 Politik dan Pemerintahan asal Banjarmasin
           Universitas Gadjah Mada

Mungkin Sebagian dari kita pernah berwisata di Malaysia. Pergi ke negeri Melaka yang sarat akan Sejarah kemegahan pelabuhannya sebagai pusat perdagangan dunia pada abad ke 15. Sejarah kota Melaka tidak hanya hadir dalam cerita rakyat, namun turut menghiasi dinding kota yang turut menjadi saksi Sejarah kota tersebut. Warisan dunia tersebut juga bernafas lewat deretan bangunan yang diisi oleh kedai kopi tua dan dalam keramahan warganya yang berjalan dengan nyaman melewati trotoar. Romantisme kota melaka dikemas begitu apik hingga menarik jutaan manusia untuk menyaksikan sejarahnya secara langsung. Melihat kesuksesan tetangga serumpun, muncul kerinduan sekaligus pertanyaan dalam benak. Bisakah Banjarmasin, yang usianya hampir menginjak lima abad, meniru kesuksesan kota Melaka dalam mengelola kota tua nya?

Banjarmasin sesungguhnya memiliki modal narasi Sejarah yang tidak kalah hebat. Sebagai bandar perdagangan lada yang pernah disegani di Nusantara, kota ini menyimpan lapisan Sejarah yang tebal. Kawasan “Kota Lama” di sekitar Jalan Hasanuddin HM atau permukiman vernakular di Sungai Jingah adalah bukti fisik yang masih tersisa. Namun, terdapat perbedaan mendasar antara memiliki Sejarah dan merawat Sejarah. Melaka berhasil karena mereka tidak hanya menjual bangunan tua sebagai objek wisata, namun mereka menjual suasana dan pengalaman ruang yang memanusiakan manusianya. Di sana, pejalan kaki adalah raja, kendaraan bermotor dipaksa mengalah demi memberikan ruang bagi manusia untuk menikmati nilai sejarah yang tersirat dalam lukisan dan bangunan tua.

Kondisi ini berbanding terbalik dengan realitas yang kita temui di Banjarmasin hari ini. Upaya menghidupkan kembali Kawasan Kota Lama belakangan ini memang patut diapresiasi sebagai langkah awal yang baik. Lampu-lampu hias dipasang dan kedai-kedai kopi kekinian bermunculan menghidupkan kawasan yang dulunya gelap. Akan tetapi, romantisme kota tua tidak bisa dibangun hanya dengan modal lampu gantung dan kedai kopi. Tantangan terbesar Banjarmasin adalah kenyamanan dan konektivitas. Di Melaka, wisatawan bisa berpindah antara satu destinasi ke destinasi lainnya hanya dengan berjalan kaki, trotoar yang menjadi jalurnya bersih dari pedagang yang menutupi jalur tersebut. Di Banjarmasin, berjalan kaki seringkali menjadi aktivitas yang menyiksa, antara karena terik matahari yang menyengat tanpa adanya filterisasi dari pepohonan yang rindang, serta trotoar yang biasanya diokupasi oleh pedagang dan parkir liar.

Jika Banjarmasin ingin meniru kesuksesan Melaka sebagai kota warisan dunia, maka pekerjaan rumah utamanya bukan sekedar mengecat ulang dinding ruko. Pekerjaan rumah paling berat adalah mengubah pola pikir pembangunan kota. Pemerintah dan masyarakat harus satu suara untuk sedikit mengerem laju modernitas yang agresif demi memberi ruang pada warisan masa lalu. Ini berarti berani menerapkan regulasi ketat mengenai perubahan fasad bangunan, menertibkan kabel-kabel yang menjuntai dan semrawut, dan membatasi akses penggunaan kendaraan pribadi pada kawasan Kota Lama. Untuk menumbuhkan romantisme wisata kota lama, perlu untuk menghadirkan suasana ketenangan kota agar suara dinding sebagai saksi dari masa lalu bisa terdengar dengan jelas.

Aspek humanis juga menjadi kunci vital. Melaka terasa sangat hidup karena dalam bangunan-bangunan tua yang berdiri masih ada warga asli yang melaksanakan aktivitas tradisionalnya tanpa takut tergusur oleh modernisasi. Pembuat dupa, penjual roti bakar, penjual kelapa, atau toko penjual gula melaka khas melaka yang telah berada disana sejak puluhan tahun. Di Banjarmasin, kita harus waspada agar revitalisasi tidak berubah menjadi gentrifikasi yang mengusir keotentikan asli kota ini. Jangan sampai kawasan Kota Lama atau Sungai Jingah kelak hanya dipenuhi oleh kafe-kafe kekinian dan toko souvenir buatan pabrik, sementara pengrajin lokal sasirangan dan pembuat wadai-wadai khas banjar justru tersingkirkan. Keindahan fisik bangunan hanya menjadi wadah kosong jika tidak ada aktifitas tradisional autentik didalamnya.

Namun meniru bukan berarti menyalin sepenuhnya tanpa filter. Banjarmasin memiliki satu keunggulan yang tidak dimiliki oleh Melaka dalam skala yang sama, yaitu budaya sungai. Jika kota-kota di Malaysia berorientasi pada jalan raya dan laut, maka Banjarmasin adalah kota amfibi. Identitas sebagai kota “seribu sungai” adalah pembeda utama yang harus diintegrasikan dalam konsep kota tua. Bayangkan jika wisatawan bisa menyusuri kanal-kanal kecil di kawasan sekitar dengan menggunakan jukung, lalu berhenti sejenak ke dermaga-dermaga tua menghampiri acil-acil yang sedang berjualan lengkap dengan pupur basah menghiasi wajah. Romantisme Banjarmasin adalah dengan mempertemukan antara air dan daratan. Revitalisasi kota tua di sini tentunya harus mencakup pemulihan sungai sebagai halaman depan, bukan sekedar tempat estetika.

Menyetarakan Banjarmasin seperti Melaka bukanlah hanya utopia belaka, tetapi juga bukan pekerjaan semalam. Dibutuhkan usaha yang panjang dan konsistensi kebijakan yang tidak berganti setiap berganti kepemimpinan. Dibutuhkan pula partisipasi warga untuk turut serta mencintai kotanya, bukan dengan cara merusak fasilitas umum, melainkan dengan menjaga kebersihan dan keramahtamahan. Kita harus mulai menghargai bangunan tua bukan sebagai rumah kosong yang dihuni oleh jin, melainkan sebagai aset sejarah yang tak ternilai yang menyimpan kenangan di dalamnya.

Banjarmasin tidak perlu menjadi Melaka kedua. Banjarmasin harus menjadi dirinya sendiri. Sebuah kota yang mampu memadukan riuh air pasar terapung, keanggunan rumah bubungan tinggi, dan kenyaman ruang publik yang modern. Kita bisa belajar dari tetangga tentang manajemen dan promosi, tetapi jiwa dari kota ini tetaplah milik Urang Banjar. Jika kita mampu merawat dengan  hati dan pikiran, bukan tidak mungkin suatu saat Banjarmasin menjadi kota percontohan bagi kota lainnya dalam membangun ulang romantisme kota. Romantisme itu selalu ada, hanya menunggu kita merawatnya.

Editor : Arief
#Opini