Oleh: Sitti Nurhadijah
Dosen Keperawatan, Department of Nursing
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Makassar
Bayangkan jutaan orang Indonesia menjalani hari-hari mereka tanpa sadar bahwa kaki mereka bisa hilang akibat penyakit yang seharusnya bisa dicegah. Lebih dari 12 juta warga Indonesia hidup dengan diabetes, dan angka ini diproyeksikan melonjak drastis dalam dekade mendatang. Pemerintah memang telah memperluas program diabetes dan jaminan kesehatan universal, tetapi di balik angka-angka itu terdapat celah fatal: berapa banyak pasien diabetes yang benar-benar diperiksa untuk Penyakit Arteri Perifer (PAD) sebelum amputasi menjadi satu-satunya jalan keluar?
Indonesia kini termasuk dalam 10 besar negara dengan jumlah penderita diabetes tertinggi di dunia. Pada 2021 tercatat lebih dari 12 juta kasus, dan diperkirakan mencapai 16,7 juta pada 2045 (IDF, 2021). Meskipun anggaran dan program perawatan diabetes meningkat, skrining PAD di layanan primer hampir tidak ada. Faktanya, kurang dari 20% pasien diabetes menjalani pemeriksaan kaki atau vaskular secara rutin—padahal PAD adalah prediktor utama amputasi dan kematian akibat penyakit jantung. Kurangnya deteksi dini ini bukan hanya kekurangan administratif, melainkan kegagalan sistemik dalam pencegahan, yang menghasilkan kecacatan yang seharusnya bisa dicegah, beban biaya kesehatan, dan hilangnya produktivitas nasional.
Apa yang membuat masalah ini terus berulang? Masalah ini diperparah oleh beberapa faktor utama:
Pertama, kurangnya kesadaran masyarakat. Banyak penderita diabetes tidak menyadari bahwa aktivitas fisik rutin bukan sekadar cara menjaga kebugaran, tetapi merupakan komponen penting dalam pengendalian gula darah dan pencegahan komplikasi. Aktivitas fisik, seperti jalan kaki, senam ringan, atau olahraga terstruktur, membantu tubuh menggunakan glukosa secara lebih efektif, meningkatkan sensitivitas insulin, dan menurunkan risiko resistensi insulin. Selain itu, deteksi dini Penyakit Arteri Perifer (PAD) sangat krusial. PAD adalah kondisi penyempitan arteri yang mengurangi aliran darah ke kaki, yang bisa berujung pada ulserasi, infeksi, atau amputasi jika tidak ditangani sejak awal. Banyak pasien tidak tahu bahwa pemeriksaan sederhana seperti Ankle-Brachial Index (ABI) atau pemeriksaan kaki rutin bisa mendeteksi PAD sebelum komplikasi serius muncul. Kurangnya kesadaran ini sering kali diperparah oleh minimnya edukasi kesehatan di masyarakat, kurangnya konsultasi rutin dengan tenaga kesehatan, dan mitos yang beredar tentang diabetes. Akibatnya, banyak pasien mengabaikan gejala awal, seperti kaki yang mudah lelah, terasa dingin, mati rasa, atau luka kecil yang sulit sembuh.
Kedua, akses terbatas. Salah satu hambatan utama bagi penderita diabetes untuk rutin beraktivitas fisik adalah keterbatasan fasilitas olahraga yang aman dan program komunitas terstruktur. Di banyak daerah, terutama pedesaan dan wilayah berpendapatan rendah, lapangan olahraga, taman, atau pusat kebugaran yang layak hampir tidak ada. Bahkan jika tersedia, fasilitas tersebut seringkali tidak terjangkau secara finansial atau tidak dilengkapi dengan program yang sesuai untuk penderita diabetes dan lansia.Kondisi ini secara langsung memengaruhi motivasi dan kemampuan pasien untuk bergerak. Tanpa ruang yang aman dan dukungan program komunitas, banyak orang merasa sulit untuk memulai atau mempertahankan rutinitas olahraga. Hal ini semakin diperparah bagi mereka yang sudah mengalami komplikasi diabetes, seperti neuropati atau nyeri kaki, yang membuat aktivitas fisik terasa menakutkan atau menyakitkan. Akibatnya, penderita diabetes cenderung pasif, yang meningkatkan risiko peningkatan gula darah, obesitas, dan komplikasi serius seperti Penyakit Arteri Perifer (PAD). Dengan kata lain, keterbatasan akses tidak hanya mengurangi aktivitas fisik, tetapi juga mempercepat progresi penyakit dan menambah beban kesehatan masyarakat. Fasilitas olahraga aman dan program komunitas terstruktur masih jarang ditemukan, terutama di pedesaan dan wilayah berpendapatan rendah. Tanpa fasilitas ini, motivasi untuk bergerak menurun, apalagi bagi mereka yang sudah mengalami keterbatasan fisik akibat komplikasi diabetes.
Ketiga, hambatan fisik dan psikologis. Kelelahan, depresi, neuropati, dan rendahnya motivasi membuat pasien enggan untuk berolahraga secara rutin. Tanpa dukungan, mereka rentan menyerah pada gaya hidup pasif yang mempercepat progresi penyakit.
Keempat, norma sosial dan budaya. Di banyak komunitas, aktivitas fisik tidak dianggap bagian dari kehidupan sehari-hari, terutama bagi orang dewasa dan perempuan. Pola hidup yang pasif, ditambah minimnya pendidikan kesehatan, memperparah risiko komplikasi diabetes.
Solusinya jelas dan mendesak: skrining PAD harus menjadi bagian rutin dari perawatan diabetes. Perawat, dokter, dan tenaga kesehatan masyarakat perlu dilatih untuk melakukan pemeriksaan sederhana dan murah, seperti Ankle-Brachial Index (ABI), pada setiap kunjungan pasien. Deteksi dini memungkinkan amputasi dicegah, biaya rumah sakit ditekan, dan produktivitas nasional tetap terjaga.
Implementasi ini harus didukung dengan panduan klinis yang jelas, program pelatihan tenaga kesehatan, dan edukasi masyarakat. Kementerian Kesehatan, BPJS Kesehatan, dan Puskesmas harus bersinergi agar skrining dapat menjangkau seluruh Indonesia, termasuk desa terpencil dan daerah kurang terlayani.
Selain skrining, aktivitas fisik harus menjadi resep kesehatan nasional. Pemerintah dan komunitas perlu menciptakan lingkungan yang mendukung olahraga rutin—dari fasilitas publik, program komunitas, hingga edukasi keluarga. Aktivitas fisik bukan sekadar gaya hidup, tapi senjata ampuh untuk menurunkan risiko PAD, penyakit jantung, dan komplikasi diabetes lainnya.
Beberapa pihak mungkin berpendapat bahwa menambahkan skrining rutin akan membebani fasilitas kesehatan atau menambah biaya. Tapi fakta berbicara tegas: pencegahan jauh lebih murah daripada amputasi dan kecacatan seumur hidup. Biaya pemeriksaan ABI sangat minimal dibandingkan beban emosional, sosial, dan ekonomi akibat kaki yang hilang.
Pesan yang tidak bisa ditawar: menyelamatkan kaki berarti menyelamatkan nyawa—dan masa depan bangsa. Setiap hari tanpa tindakan berarti risiko amputasi dan kecacatan preventable terus meningkat. Jika Indonesia ingin menjaga jutaan orang dewasa produktif, mengurangi biaya rumah sakit, dan membangun generasi sehat, skrining PAD dan aktivitas fisik harus menjadi prioritas nasional sekarang juga.
Tidak ada waktu untuk menunda. Setiap langkah kecil dalam pencegahan hari ini bisa menyelamatkan kaki, nyawa, dan masa depan bangsa. Jangan tunggu sampai amputasi terjadi baru tersadar. Kaki yang sehat adalah masa depan yang produktif—dan tanggung jawab kita semua untuk memastikan itu terjadi.
Editor : Arief