Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Literasi Kurban: Memahami Ibadah Pengorbanan yang Benar

admin • Kamis, 5 Juni 2025 | 09:20 WIB
Nor Hasanah
Nor Hasanah

              Oleh: Nor Hasanah
              Pustakawati UIN Antasari Banjarmasin

Ibadah kurban adalah salah satu syariat Islam yang agung, dilaksanakan setiap Hari Raya Idul Adha dan hari-hari Tasyrik. Lebih dari sekadar tradisi tahunan menyembelih hewan, kurban memiliki dimensi spiritual, sosial, dan ekonomi yang mendalam. Namun, di tengah antusiasme pelaksanaannya, masih banyak masyarakat yang perlu memahami literasi kurban secara menyeluruh, agar ibadah ini benar-benar dilaksanakan sesuai tuntunan syariat dan memberikan keberkahan yang maksimal.

Dasar dan Tujuan Kurban

Literasi kurban dimulai dari pemahaman dasar. Kurban, yang secara etimologi berarti "mendekatkan diri", adalah ibadah penyembelihan hewan ternak (unta, sapi, kambing, domba) yang dilakukan sebagai bentuk ketaatan dan rasa syukur kepada Allah SWT. Dasarnya kuat dalam Al-Qur'an (QS. Al-Kautsar: 2) dan sunah Nabi Muhammad SAW.

Tujuan utama dari ibadah kurban adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah (taqarrub). Ini adalah esensi kurban, sebuah wujud penghambaan dan bukti ketundukan mutlak, mengikuti jejak Nabi Ibrahim AS. Di samping juga sebagai wujud rasa syukur atas nikmat kehidupan dan rezeki yang Allah berikan. Kurban juga bertujuan membangun kepedulian sosial. Daging kurban didistribusikan kepada fakir miskin, kaum duafa, dan masyarakat yang membutuhkan, sehingga tercipta solidaritas dan kebahagiaan bersama sebagai upaya menghidupkan syiar Islam simbol kebesaran dan kekuatan umat Islam.

Pemahaman tujuan ini penting agar ibadah kurban tidak hanya menjadi rutinitas, melainkan amal yang penuh kesadaran dan keikhlasan.

Kriteria Hewan Kurban

Salah satu aspek krusial dalam literasi kurban adalah pengetahuan mengenai syarat hewan kurban. Tidak sembarang hewan bisa dijadikan kurban. Kriteria ini meliputi: pertama, Jenis Hewan: Hanya boleh dari golongan bahimatul an'am, yaitu unta, sapi (termasuk kerbau), kambing, dan domba. Kedua, Usia Hewan: Ini adalah syarat mutlak. Untuk Domba/Kambing: Minimal berumur 1 tahun dan telah masuk tahun ke-2 (disebut jaz'ah), atau minimal 2 tahun (disebut tsaniyah) menurut beberapa mazhab. Namun, untuk domba, jika berumur 6 bulan tetapi sudah berganti gigi, boleh dikurbankan. Untuk Sapi/Kerbau: Minimal berumur 2 tahun dan telah masuk tahun ke-3 (tsaniyah). Untuk Unta: Minimal berumur 5 tahun dan telah masuk tahun ke-6 (tsaniyah). Ketiga, Kondisi Fisik Hewan: Hewan harus dalam kondisi sehat, tidak cacat parah yang mengurangi kualitas daging atau mengganggu pertumbuhan. Cacat yang tidak membolehkan untuk kurban antara lain: Sakit parah yang terlihat jelas, Buta sebelah atau kedua matanya, Pincang parah sehingga tidak bisa berjalan normal, Sangat kurus hingga tidak bertulang sumsum, Tidak memiliki sebagian besar telinga atau ekor (terputus),

Masyarakat harus jeli dan teliti dalam memilih hewan kurban. Peternak atau penjual juga memiliki tanggung jawab untuk menyediakan hewan yang memenuhi syarat ini. Pencegahan penyakit hewan menular (seperti PMK atau LSD yang sempat marak) juga menjadi bagian penting dari literasi kurban, memastikan daging yang dikonsumsi aman dan higienis.

Waktu Penyembelihan dan Distribusi Daging

Waktu penyembelihan kurban juga memiliki batasan syariat. Penyembelihan dimulai setelah shalat Idul Adha pada tanggal 10 Dzulhijjah dan berakhir saat terbenam matahari pada akhir Hari Tasyrik, yaitu tanggal 13 Dzulhijjah. Artinya, ada empat hari untuk melaksanakan penyembelihan kurban (10, 11, 12, 13 Dzulhijjah). Penyembelihan di luar waktu ini tidak dianggap sebagai kurban.

Adapun distribusi daging kurban, ulama menganjurkan pembagian menjadi tiga bagian: Sepertiga untuk pekurban dan keluarganya, Sepertiga untuk kerabat, tetangga, atau teman, Sepertiga untuk fakir miskin dan yang membutuhkan.

Meskipun pembagian ini dianjurkan, pekurban dibolehkan mengambil seluruhnya jika memang sangat membutuhkan, atau menyedekahkan seluruhnya. Yang terpenting adalah esensi berbagi kepada sesama.

Proses Penyembelihan

Literasi kurban juga mencakup pemahaman tentang tata cara penyembelihan yang benar sesuai syariat Islam dan standar kebersihan, yaitu pertama, Niat: Penyembelih harus berniat menyembelih untuk kurban. Kedua, Menghadap Kiblat: Hewan dihadapkan ke kiblat. Peralatan Tajam: Menggunakan pisau yang sangat tajam untuk meminimalkan rasa sakit pada hewan. Ketiga, Memutuskan Saluran: Memotong tiga saluran utama: saluran pernapasan (tenggorokan), saluran makanan (kerongkongan), dan dua urat nadi di leher. Keempat, Basmalah dan Takbir: Mengucapkan "Bismillahi Allahu Akbar" saat menyembelih. Kelima, Penanganan Higienis: Setelah disembelih, darah harus tuntas keluar. Proses pengulitan, pemotongan, dan pengemasan daging harus dilakukan secara bersih untuk menjaga kualitas dan keamanan pangan. Panitia kurban perlu memastikan tempat penyembelihan bersih, air bersih cukup, dan limbah (darah, jeroan) dikelola dengan baik agar tidak mencemari lingkungan.

Partisipasi dan Amil Kurban

Di era modern, partisipasi dalam kurban semakin mudah melalui sistem patungan (urunan) untuk sapi/unta (maksimal 7 orang per ekor) atau melalui lembaga amil yang terpercaya. Literasi kurban juga harus mencakup pemahaman tentang memilih lembaga amil yang amanah, transparan, dan memiliki rekam jejak yang baik dalam pengelolaan dan pendistribusian kurban. Ini penting untuk menghindari penipuan atau penyaluran yang tidak tepat sasaran.

Bagi para amil (panitia) kurban, literasi ini sangat esensial. Mereka adalah garda terdepan dalam memastikan ibadah kurban berjalan lancar, syar'i, higienis, dan bermanfaat luas. Pelatihan bagi amil mengenai fikih kurban, penanganan hewan, dan manajemen distribusi sangat dianjurkan.

Dengan memahami literasi kurban secara komprehensif, masyarakat tidak hanya akan melaksanakan ibadah ini sebagai ritual turun-temurun, tetapi sebagai wujud ketaatan yang cerdas, pengorbanan yang bermakna, dan kontribusi nyata dalam membangun kepedulian sosial. Ini akan menjadikan Idul Adha bukan hanya perayaan, tetapi sebuah momentum untuk memperkuat iman dan solidaritas umat

Editor : Arief
#hewan #Opini #kurban #iduladha