Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Selamat Datang Haji Mabrur

M. Syarifuddin • Selasa, 2 Juli 2024 | 13:26 WIB
NOORWAHIDAH
NOORWAHIDAH

PELAKSANAAN ibadah haji tahun 1445 Hijriah sudah usai. Kloter demi kloter jemaah haji Indonesia mulai kembali ke tanah air. Kita ucapkan selamat datang dari tanah suci. Semoga jemaah Indonesia memperoleh haji yang mabrur. Haji yang baik dan diterima Allah SWT.

       Oleh: NOORWAHIDAH
       Dosen UIN Antasari dan IAID Martapura

Siapa pun yang menunaikan ibadah haji tentu mendambakan pahala mabrur. Dambaan tersebut sangat beralasan karena haji mabrur memiliki nilai dan keutamaan yang luar biasa. Haji mabrur merupakan salah satu amaliah yang paling utama dibanding amal-amal yang lain.

Rasulullah Saw pernah ditanya tentang amal yang paling afdhal (utama). Beliau menjawab, "Iman kepada Allah dan Rasul-Nya." Sahabat bertanya lagi, "Kemudian apa?" Rasul menjawab, "Jihad di jalan Allah (fi sabilillah). "Kemudian apa lagi?" Beliau menjawab, "Haji yang mabrur." (HR Bukhari dan Muslim).

Betapa besar nilai dan keutamaan haji mabrur sampai-sampai Rasulullah secara tegas menyatakan bahwa balasannya tidak lain kecuali surga. Dalam sebuah hadis, beliau bersabda, "Umrah yang satu dengan umrah berikutnya adalah kifarat (penebus dosa) di antara keduanya. Haji yang mabrur tidak ada balasan lain kecuali surga." (HR Bukhari dan Muslim). Ini artinya, siapa pun yang memperoleh haji mabrur adalah calon penghuni surga.

Karena nilainya sangat tinggi, untuk memperoleh haji mabrur tidaklah gampang. Harus ada niat, tekad, dan usaha yang sungguh-sungguh yang harus dilakukan, setidak-tidaknya meliputi empat hal: Pertama, niat berhaji harus benar-benar betul-betul ikhlas swt, bukan karena ada kepentingan lain, termasuk kepentingan politik. Niat yang ikhlas menjadi syarat mutlak untuk memperoleh haji mabrur. Dalam sebuah hadis populer dinyatakan, "Sesungguhnya segala amal perbuatan itu dengan niat dan setiap orang tergantung kepada apa yang ia niatkan." (HR Bukhari dan Muslim).

Kedua, dana dan semua perangkat yang digunakan untuk pelaksanaan ibadah haji adalah dana dan peralatan yang halal, tanpa campuran yang haram sedikit pun. Dana dimaksud baik dana yang disetorkan untuk biaya perjalanan ibadah haji maupun uang belanja. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Abdullah bin Abbas mengatakan, "Barangsiapa membeli pakaian seharga 10 dirham, termasuk satu dirham di dalamnya ada uang yang haram, Allah tidak akan menerima salatnya selama ia memakai pakaian tersebut." Kalau salat saja tidak diterima karena memakai pakaian yang diperoleh dari uang haram, apalagi ibadah haji.

Ketiga, semua pekerjaan haji harus dilaksanakan dengan baik dan benar sesuai dengan tuntunan sunnah. Nabi bersabda, "Ambillah daripadaku manasik haji kalian, Sesungguhnya aku tidak tahu, barangkali aku tidak berhaji sesudah haji yang kulakukan ini." (HR Muslim).

Pekerjaan haji yang paling pokok mendapat perhatian adalah rukun, syarat, dan wajib haji. Sementara hal-hal yang sunnah tetap dikerjakan semampunya untuk menyempurnakan ibadah mulia tersebut, namun tidak boleh “mengalahkan” pekerjaan yang wajib. Bukanlah hal yang baik jika seseorang sangat giat dan gigih melaksanakan ibadah sunnat, tetapi menganggu apalagi merusak ibadah yang wajib.

Keempat, tidak menodai kegiatan ibadah haji dengan perkataan atau perbuatan yang kotor, dosa, dan maksiat. Di dalam surah Al-Baqarah (2) ayat 197 Allah swt berfirman, “…barangsiapa menetapkan niatnya di dalam bulan-bulan tersebut (bulan haji) untuk mengerjakan haji maka tidak boleh rafats (mengucapkan kata-kata kotor dan keji), berbuat fasik (dosa dan maksiat), dan tidak boleh berbantah-bantahan."

Apabila keempat hal di atas dilakukan dengan sempurna oleh seorang muslim, insyaallah haji mabrur ia peroleh. Apakah ada ciri-ciri seseorang memperoleh haji yang mabrur? Jawabannya, tentu ada. Ciri-ciri tersebut dapat dijadikan indikator untuk mengukur mabrur tidaknya ibadah haji yang telah dilaksanakan. Ciri-ciri itu antara lain: Pertama, akhlaknya bertambah baik. Ia lebih santun dan lebih sopan dibanding sebelum menunaikan ibadah haji. Sikap keras, kasar, kaku, dan senang menzalimi ditinggalkan, berubah menjadi lembut dan penuh cinta dan kasih sayang.
Kedua, ibadahnya makin meningkat, baik kuantitas maupun kualitasnya. Ia menjadi senang dan gemar beribadah.

Ketiga, memiliki kesalehan sosial yang lebih tinggi. Ia menjadi sangat peduli kepada penderitaan orang lain, terutama fakir miskin dan kaum dhuafa (lemah) sehingga ia tidak segan berinfak dan bersedekah, bahkan lebih dari yang seharusnya.

Keempat, menjauhkan diri dari perbuatan dosa dan maksiat serta tidak mau terlibat di dalam kegiatan yang tidak ada manfaatnya atau membuang waktu dengan sia-sia.

Kelima, senang menebarkan salam. Salam bukan hanya sekedar mengucapkan assalamualaikum ketika berjumpa orang lain, tetapi juga menebarkan kedamaian di mana pun ia berada. Ia selalu berusaha menciptakan suasana sejuk, aman, dan damai, sekalipun berada di lingkungan yang penuh dengan suasana ketegangan, keresahan, dan ketidaknyamanan.

Alangkah indahnya kehidupan seseorang yang sudah memperoleh haji mabrur. Tiap detik yang dilewati dalam hidupnya penuh dengan ibadah kepada Allah swt. Tidak ada ucapan yang ia ucapkan kecuali yang menyenangkan dan menyejukkan. Tidak ada perbuatan yang ia lakukan kecuali hanya yang baik dan terbaik saja. Wajar jika hamba Allah semacam ini menjadi calon penghuni surga.

Editor : Arief
#Opini