Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Film Horor dan Keresahan Sosial

M. Syarifuddin • Rabu, 24 April 2024 | 10:40 WIB
TEGUH PAMUNGKAS
TEGUH PAMUNGKAS

INDUSTRI film nasional kembali menggeliat. Perusahaan film berlomba-lomba membuat tontonan untuk ditayangkan di bioskop-bioskop. Film horor berjudul Kiblat yang sedianya tayang di tahun ini menjadi perbincangan para penggemar film. Bahkan dikeluhkan hingga menuai banyak kritikan di media sosial. Trailer yang dirilis sebulan lalu, berselang beberapa hari pun ditarik kembali beserta materi promosi filmnya.

    Oleh TEGUH PAMUNGKAS
    Penyuluh Keluarga Berencana
    Perwakilan BKKBN Kalimantan Selatan

Lantas, mengapa hal itu bisa terjadi? Dari pemilihan judul dan poster film dirasa mengganggu umat muslim. Mengapa? Gambar pada poster terlihat seorang perempuan sedang memperagakan gerakan rukuk dalam salat. Tetapi gerakan rukuk itu dengan posisi sebaliknya, membungkuk namun posisi kepala mendongak ke atas dengan rupa yang mengerikan dilihat.

Begitu pun dalam pemilihan judul film. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata kiblat memiliki arti; 1. arah ke Kakbah di Mekkah (pada waktu shalat) 2. arah, tujuan atau mata angin. Kiblat memiliki arti berupa arah yang merujuk pada suatu tempat di mana bangunan Kakbah berada.

Dalam dunia penulisan (naskah), judul sebagai nama atau identitas dari isi suatu karangan atau cerita. Jika dalam film, judul merupakan perwakilan isi tersiratnya dari film yang ditayangkan tersebut. Pemilihan judul digunakan untuk menarik perhatian orang membaca dan atau menonton tayangan. Di setiap topik yang diangkat di dalamnya terkandung masalah dan tujuan.

Sejumlah film horor ramai diproduksi belakangan ini. Sebutlah ada film horor berjudul Khanzab, Munkar, Sholat Sendirian, Makmum dan lainnya. Namun kehadirannya banyak disorot khalayak, karena dianggap film-film horor yang ada mengarah pada eksploitasi agama. Sehingga tidak pantas tayang dan tidak diedarkan untuk ditonton.

Karena mayoritas penduduk Indonesia adalah muslim, maka film horor pun dibumbui dengan nilai religi Islam. Film "dihiasi" atribut ibadah, seperti poster film horor dengan seorang perempuan mengenakan mukena yang sedang rukuk di film itu.

Atau paling tidak ada adegan salat yang dilakukan tokoh dalam film. Padahal seperti halnya film-film lainnya, biasanya masih alur seputar balas dendam, kekayaan, atau percintaan. Memang saya hanya melihat poster dan membaca judul, namun saya bertanya-tanya, mengapa film horor Kiblat ini bisa lolos lembaga sensor hingga trailernya pun tayang?

Tontonan film horor seolah-olah menjadi tren tersendiri, baik penontonnya maupun para pemain/artis film sendiri. Tetapi, apakah film horor yang diproduksi bernilai edukasi dan pengetahuan, atau hanya merupakan lahan bisnis semata.

Bagi pemeran film, menjadi aktor atau aktris merupakan saat yang tepat untuk mengenalkan diri dan menunjukkan kemampuan berakting. Namanya pun makin dikenal dan populer di dunia hiburan tanah air.

Mengemas Film

Salah satu peran perusahaan film memberikan tayangan kepada keluarga dan khalayak melalui suguhan film yang berkualitas. Tontonan film yang bertajuk hiburan dengan menggambarkan alur cerita, penokohan, dan karakter yang menarik.

Selanjutnya jalan cerita dalam naskah dituangkan dalam rupa audiovisual sebaik mungkin yang dibumbui dengan soundeffect. Cerita film yang diangkat ada berasal dari novel, roman, pengalaman, maupun penulis skenario.

Tak hanya itu, perusahaan film dengan memperhitungkan beberapa aspek dalam membuat sebuah film. Seperti aspek pemilihan peran, alur atau tema cerita yang dibuat, sampai pemilihan efek suara dan penentuan tempat-tempat pembuatan film. Memang masih banyak film yang mengusung hiburan edukasi dan informatif pada ceritanya.

Berbagai ragam argumen dan interpretasi atas tayangan film horor pun muncul. Respon khalayak menyikapi film bergenre horor tersebut memberi warna tersendiri dalam kehidupan pribadi, keluarga dan sosial. Dalam kehidupan pribadi, bahwa apa yang ditonton dalam film horor menjadi ketakutan baru dalam melakukan sesuatu.

Seperti orang enggan bangun untuk melakukan sholat malam, karena dipengaruhi menonton salah satu adegan film. Diceritakan di film, saat melakukan salat malam seolah-olah ada orang yang turut serta. Gara-gara tontonan itu, ia tak mau bangun dan salat malam lagi.

Yang sangat disayangkan adalah ketika bioskop beramai-ramai menayangkan film horor, namun tak diimbangi sikap dewasa dari penontonnya. Padahal, setiap cerita film pasti membawa pesan tertentu.

Di setiap film diperlukan adanya nilai-nilai yang mendidik dan rasional, menghindari cerita yang berlebihan (baca; dramatisir). Sehingga khalayak pun lebih bisa memahami esensi film tersebut tanpa rasa ketakutan dan keresahan. Tak hanya bagi kaum tertentu saja, film pun dapat menjadi referensi penonton, menjadi sumber pengetahuan lintas agama.

Selanjutnya, perusahaan film bisa lebih peka memperhatikan kebutuhan bersama, bukan mencari keuntungan semata. Sebab bahwasanya film merupakan milik (tontonan) publik ketika telah mengantongi izin ditayangkan di bioskop-bioskop. Tentunya adalah tontonan yang mengandung tuntunan. Film bergenre horor memang boleh diproduksi, namun tetap memperhatikan efeknya dalam tatanan kehidupan sosial.

Editor : Arief
#Opini #Film