Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Menikmati Hari Kemenangan Dalam Kebersamaan

M. Syarifuddin • Senin, 15 April 2024 | 08:28 WIB
SYAIFUL BAHRI DJAMARAH
SYAIFUL BAHRI DJAMARAH

PISAH sambut telah terjadi. Selamat berpisah Ramadan. Selamat datang Syawal. Awal Syawal adalah awal dimulainya hari lebaran. Hari raya Idulfitri. Dalam tradisi Islam, Idulfitri adalah hari kemenangan bagi umat Islam di seluruh dunia. Kemenangan itu memang pantas dinikmati setelah sebulan berpuasa di bulan Ramadan.

         Oleh SYAIFUL BAHRI DJAMARAH
         Dosen PAI dan PPG Fakultas Tarbiyah dan Keguruan
         UIN Antasari Banjarmasin

Puasa Ramadan adalah arena pendidikan. Sebuah padepokan membina dan memperbaiki diri. Membina diri dengan melakukan berbagai amal kebajikan. Memperbaiki diri dengan tidak melakukan hal-hal yang dilarang selama berpuasa. Jadi, esensi puasa adalah pengendalian diri.

Seseorang dikatakan mampu mengendalikan diri adalah orang yang mampu mengontrol hawa nafsunya. Itu sebabnya, kita tidak hanya diharuskan mengendalikan diri dari melakukan perbuatan mungkar, bahkan mengendalikan diri dari makan dan minum berlebihan meskipun thoyyib lagi halal. Sebab memanjakan hawa nafsu termasuk tidak cerdas mengendalikan diri.

Ketika hari kemenangan telah tiba, maka masa pendidikan dalam bentuk pembinaan dan perbaikan diri di Ramadan telah selesai. Itu sebabnya, Idulfitri adalah arena pembuktian awal, apakah esensi puasa, yaitu pengendalian diri telah berhasil dilakukan.

Jika ketika selama menikmati hari kemenangan, kita tidak dapat mengendalikan diri dalam segala hal. Makan dan minum sepuas-puasnya, kembali berprilaku tidak sopan, berbahasa tidak santun, di hati muncul lagi benih-benih ria, uzub, dan sum'ah (sombong), berdusta mulai terdengar... maka gagallah pendidikan pengendalian diri yang telah dibina selama berpuasa di padepokan Ramadan.

Oleh karena itu, makan dan minumlah sesuai euforiamu, tetapi berhentilah sebelum kenyang agar dirimu menjadi cerdas. Cerdas secara spiritual, intelektual, dan sosial.

Secara sosiologis, setiap umat Islam di berbagai belahan dunia merayakan hari kemenangan ini dengan caranya masing-masing. Umat Islam di Indonesia, Iran, Irak, Baghdad, Rusia, dll. merayakan dan menikmati hari kemenangan dengan budayanya masing-masing.

Begitupun tradisi Idulfitri di Indonesia. Setiap provinsi dengan tradisinya masing-masing dalam menikmati hari kemenangan. Sumatera Barat dengan sajian masakan Rendang, Banjarmasin dengan sajian Katupat lebaran, dst.

Di antara distingsi itu, ada titik persamaan ketika umat Islam menikmati kemenangan, yaitu budaya silaturahmi. Di Barabai, Kalimantan Selatan misalnya, ada tradisi yang jarang sekali terlihat dalam masyarakat perkotaan di masa sekarang, yaitu tradisi silaturahmi dan kebiasaan saling mengantar makanan atau "wadai" antar tetangga di hari lebaran.

Tradisi ini turun temurun masih kuat dipegang warga Barabai. Salah satu contohnya di Desa Pelajau. Ketika lebaran, antar tetangga dekat saling mengunjungi. Tak lupa mengantar makanan atau wadai ke rumah tetangga terdekat. Ini perekat tali kekerabatan antar tetangga. Bukan hanya alam, ini juga patut dilestarikan.

Terkait dengan silaturahmi. Seiring dengan perjalanan waktu, tradisi silaturahmi lebaran sepertinya semakin memudar di kalangan masyarakat Islam. Terutama di kalangan generasi muda Islam. Di kota lebih parah daripada di desa. Mereka lebih tertarik pergi ke objek-objek wisata atau menikmati hingar bingar musik pop daripada berkunjung ke rumah keluarga atau tetangga. Ada juga yang menikmati lebaran hanya di rumah saja. Padahal, ada waktu dan kesempatan untuk bersilaturahmi ke rumah keluarga, bahkan tetangga dekat.

Hal ini mungkin ada kesalahan tradisi dari orangtua. Di masa lalu, ketika bersilaturahmi ke rumah keluarga atau tetangga, orang tua tidak hanya berduaan suami istri atau seorang diri, tetapi selalu saja mengikutsertakan anak. Hal ini dimaksudkan agar anak-anak saling mengenal sehingga cepat atau lambat keakraban terbangun. Keterasingan di antara mereka bisa mendatangkan petaka yang tidak diinginkan.

Dalam suatu kasus, perkelahian antar geng remaja di perkotaan, di mana dalam perkelahian antar dua remaja, salah satunya meninggal dunia. Setelah diselidiki, ternyata kedua remaja yang berkelahi itu adalah saudara dekat dalam garis keturunan biologis dari pihak ayah (kekerabatan patrilineal). Kasus ini disebabkan karena orang tua mereka masing-masing tidak pernah membawa mereka ketika bersilaturahmi sehingga keduanya tidak saling mengenal.

Silaturahmi adalah tradisi ampuh dan strategis dalam membangun keakraban kekerabatan. Sayangnya, karena kuatnya belenggu individualisme, sehingga tradisi silaturahmi jarang terlihat. Padahal untuk mempertahankan keakraban kekerabatan, salah satunya adalah saling mengunjungi. Tidak adil dan ihsan jika silaturahmi hanya dituntut secara sepihak.

Yang benar dan bijak saling bersilaturahmi. Jika memiliki kemauan yang kuat bukan tidak mungkin silaturahmi itu bisa dilaksanakan. Waktu dan kesempatan pasti ada ketika etiket baik menggelora untuk bersilaturahmi.

Silaturahmi lewat online seperti berkiriman notifikasi di WA memang bisa dilakukan. Akan tetapi, cara ini bukanlah hakikat silaturahmi karena tidak bisa bertatap muka bertemu pandang. Lewat video call bisa dilakukan. Itupun semuanya serba terbatas. Terkesan tidak alamiah. Ada sesuatu yang tidak terwakili.

Oleh karena itu, bagi mereka yang masih memiliki sense of belonging terhadap nilai kekerabatan, karena rindu bersua, karena kuatnya ikatan jiwa, meluangkan waktu dan kesempatan, menyisihkan uang untuk bisa pulang kampung. Mudik lebaran menjelang lebaran. Mereka ingin menikmati kemenangan, merayakan Idulfitri langsung bertatap muka, bertemu pandang, bersua bicara dari hati ke hati, bercengkerama, bersenda gurau, bersama orang tua, sanak keluarga, dan handai tolan di kampung halaman.

Idulfitri memang arena untuk menikmati kemenangan. Tak peduli disabut awan atau tidak, permadani kemenangan itu terhampar ketika hasil sidang Isbat penentuan 1 Syawal 1445 H diputuskan.

Alhamdulillah, meski sempat menanti dengan harap-harap cemas, akhirnya Kementerian Agama RI tidak berbeda dengan Muhammadiyah dalam menetapkan 1 Syawal, yaitu Rabu 10 April 2024. Itu berarti umat Islam di Indonesia tidak lagi berbeda merayakan hari raya seperti tahun sebelumnya.

Tahun ini umat Islam Indonesia bersatu, bersama-sama menikmati hari kemenangan. Jika jemaah An-Nadzir dan Naqsabandiyah melaksanakan Idul Fitri Selasa 9 April 2024, tetap harus dihormati. Sebelum penetapan awal Syawal oleh Menteri Agama, sebagian masyarakat Islam tradisional di Kalimantan Selatan sudah bertakbiran. Itulah moderasi beragama.

Secara sosiologis, Idulfitri merupakan perwujudan dari sistem kekerabatan umat Islam yang sangat kuat. Kuatnya sistem kekerabatan tersebut karena dibingkai oleh rasa seiman dan seagama. Bersama-sama menikmati kemenangan di hari lebaran karena setiap individu memiliki kesamaan identitas, yaitu Islam.

Oleh karena itu, berkat kesamaan penetapan awal Syawal antara pemerintah dan Muhammadiyah, euforia hari kemenangan terasa sekali pada hari raya Idulfitri tahun ini, terkesan bersatu, sangat semarak, dinikmati bersama-sama oleh umat Islam tanpa diskriminasi.

Akhirnya, selamat Idulfitri saudaraku. Mohon maaf lahir batin. Selamat menikmati kemenangan di hari fitri ini. Semoga kita termasuk orang yang cerdas mengendalikan diri. Jika tidak, maka ada yang tidak beres dengan kita selama Ramadan. Siapakah kita itu?

Editor : Arief
#Opini