SORE di pengujung tahun 2023, suasana di Kayu Tangi Banjarmasin sangat syahdu. Hujan yang turun sejak siang hari tidak menyurutkan rencana pertemuan saya dan sahabat-sahabat yang telah lama tidak berjumpa. Awalnya kami hanya membicarakan topik ringan, peristiwa sehari-hari yang ditemui semenjak pertemuan terakhir. Sampai akhirnya seorang teman bertanya serius tentang pencapaian dan harapan yang belum terealisasi di tahun 2023.
Oleh PANCA IRVAN SUJIANTO
Konsultan manajemen
Satu per satu cerita mengalir sampai akhirnya muncullah pernyataan yang mengejutkan dari salah seorang teman yang selama ini terlihat selalu optimis, "Aku gagal di tahun ini, andai ada mesin waktu yang bisa membawaku kembali ke masa lalu, pasti tidak akan seperti ini jadinya." Kami terhenyak dengan kata-katanya. Terutama mengenai impiannya akan mesin waktu.
\Keinginan untuk kembali ke masa lalu memang wajar. Berbagai alasan dikemukakan, antara lain untuk memperbaiki keadaan di masa lampau, menemui orang yang mungkin telah tiada, atau nostalgia kebahagiaan di masa kecil. Mesin waktu tak hanya diharapkan membawa balik ke zaman dahulu tetapi juga mampu membawa ke masa depan. Perjalanan waktu adalah sebuah konsep berjalan maju atau mundur ke titik berbeda dalam waktu. Saat ini mungkin mesin waktu merupakan bagian dari imajinasi dan khayalan. Bayangkan andai mesin waktu benar-benar ada? Tentu akan banyak peristiwa aneh ditemukan. Misalnya, kita di usia 70 tahun dari masa depan menyambangi diri kita sendiri di usia 20 tahun atau menemui masa muda orang tua kita pada saat kita belum dilahirkan.
Para Penjelajah Waktu
Keinginan untuk memecahkan misteri waktu memang diinginkan oleh banyak orang. Telah banyak ilmuwan yang mempelajari mesin waktu. Pakar fisika terkenal, Stephen Hawking (1942-2018), sepanjang hidupnya mencoba untuk menguak rahasia waktu. Dia berpendapat bahwa pada dasarnya terdapat dimensi ruang dan waktu yang saat ini kita jalani, yang tidak saling beririsan dengan dunia dan waktu lain. Hal ini didasari tidak adanya pengunjung dari masa lalu ataupun masa depan yang datang ke masa kini. Sehingga tidak memunculkan paradoks waktu, yaitu konsep perubahan atas peristiwa di masa lalu yang mampu mengubah alur kehidupan.
Kita mengira dengan mesin waktu akan dapat memperbaiki keadaan, padahal konsekuensinya dapat diluar dugaan kita, yaitu timbul kekacauan.
Sebelumnya di awal abad 20, muncul teori relativitas umum dan mekanika kuantum dari Albert Einstein (1879-1955) yang juga berusaha mengupas rahasia waktu. Menurut Einstein, setiap orang pada prinsipnya akan berjalan sesuai dengan alur waktu. Namun dengan memanfaatkan energi khusus serta punya kemampuan bergerak melampaui cahaya, maka dimungkinkan untuk melompati ruang dan waktu. Lebih lanjut, Einstein mengemukakan tentang wormhole, pintu gerbang portal waktu, yang dapat mengantarkan seseorang melintasi dimensi waktu. Semuanya itu belum dapat dibuktikan juga sampai saat ini.
Selain itu, di Kalimantan Selatan kita menjumpai kisah para ulama besar, semisal Datu Sanggul di Tapin yang konon dapat "melipat waktu". Secara fisik berada di Banua namun di waktu yang sama dapat ditemui sedang melaksanakan ibadah salat Jumat di Makkah. Ada pula kisah kehebatan Guru Sekumpul yang dalam satu momen dapat ditemui secara bersamaan di beberapa tempat yang berbeda-beda. Itulah sebagian dari karamah yang dimiliki ulama dalam mengarungi dimensi ruang dan waktu.
Lalu terdapat pula cerita Kota Saranjana, yang menggambarkan bagaimana portal dimensi dapat membawa seseorang ke suatu dimensi ruang dan waktu yang lain. Lebih lanjut diceritakan seseorang yang pernah berada di Saranjana mengira hanya beberapa hari tinggal di sana, namun setelah kembali ke dunia nyata ternyata waktu yang dilaluinya sudah jauh lebih lama dibandingkan perkiraannya.
Dalam ajaran Islam, dikisahkan pula bagaimana tujuh pemuda Ashabul Kahfi yang bersembunyi di dalam gua menghindari kejaran dan siksaan Raja Digyanus di Romawi. Mereka tertidur di dalam gua tersebut dan menyangka tinggal di sana hanya dalam waktu beberapa hari saja. Namun betapa terkejutnya mereka ketika mengetahui bahwa mereka sudah berada di dalam gua tersebut selama 309 tahun.
Selanjutnya yang tak kalah luar biasa, terdapat pula kisah mengenai Nabi Khidir yang diyakini sebagian ulama masih hidup sampai saat ini dan menjadi penjelajah waktu menyampaikan syiar dakwahnya. Wallahu a'lam bisshowab.
Impian
Keberadaan mesin waktu sudah banyak digambarkan dalam berbagai macam film dan cerita. Film-film yang membahas mesin waktu antara lain Back to the Future (1985, 1989 dan 1990), Looper (2012), Edge of Tomorrow (2014), Interstellar (2014), To My 19 Year Old (2018), The Flash (2023), serta masih banyak lagi lainnya.
Selain itu ada pula kartun Doraemon yang dibantu mesin waktu mengantarkan Nobita ke masa lalu dan masa depan. Semuanya itu makin memperkuat angan-angan untuk dapat mengarungi mesin waktu. Film-film tentang mesin waktu ini juga sangat digemari oleh banyak kalangan, bahkan di media sosial YouTube, kisah-kisah tentang mesin waktu sampai saat ini mendapat jumlah penonton (viewer) yang fantastis.
Menghargai Waktu
Bagi orang yang mengedepankan rasionalitas, keberadaan mesin waktu menjadi tidak relevan. Walaupun telah banyak orang yang berkisah mempunyai pengalaman mengarungi perjalanan waktu, saat ini eksistensi mesin waktu merupakan hal yang mustahil. Impian untuk menciptakannya masih sebatas angan dan imajinasi. Teori-teori mengenai mesin waktu pun masih menjadi misteri dan perdebatan.
Namun di balik itu, berbicara mengenai arus waktu, tanpa adanya mesin waktu akan memberikan banyak sekali hikmah kehidupan. Pertama, kita jadi lebih menghargai waktu dan tidak terjebak atau terpaku pada hal-hal yang terjadi di masa lalu, namun juga dapat menyiapkan diri menghadapi tantangan di masa depan. Karena waktu tidak akan kembali, sudah seharusnya kita memanfaatkan kesempatan, mengusahakan semua hal secara optimal.
Kedua, kita diajarkan untuk meyakini bahwa takdir adalah bagian rukun iman dan harus berikhtiar secara maksimal untuk mewujudkannya. Terdapat takdir yang sudah mutlak akan terjadi (Takdir Mubram), namun ada pula takdir yang bergantung pada usaha kita (Takdir Muallaq). Dan yang terpenting, kita dilatih untuk bisa menjalani secara ikhlas semua jalan takdir tersebut.
Selanjutnya yang ketiga, kita dituntut lebih bijak menimbang berbagai alternatif pilihan termasuk risiko yang dihadapi. Keempat, kita mampu move on serta berupaya berdamai dengan keadaan saat ini dan masa lampau.
Terakhir, memaafkan diri sendiri apabila mempunyai penyesalan kehidupan masa lampau sehingga dapat melangkah lebih ringan dalam menjalani kehidupan. Penyesalan terjadi karena kita merasa segala sesuatu akan lebih baik jika kita mengambil opsi yang berbeda di masa lalu.
Melalui momentum pergantian tahun, di awal 2024 ini, semoga kita dapat lebih menghargai waktu dan menggunakan secara bijak, optimis menghadapi masa depan, serta yakin akan dapat mewujudkan semua resolusi dan cita-cita.
Editor : Arief