Oleh DIDIK TRIWIBOWO
Mahasiswa program pascasarjana Doktor Ilmu Lingkungan
ULM Banjarmasin
Beberapa destinasi wisata yang telah lama dikenal di Kalimantan Selatan (Kalsel) adalah Loksado dan Kawasan Taman Hutan Rakyat (Tahura) Sultan Adam yang merupakan bagian dari Geopark Meratus.
Geopark (Taman Bumi) sendiri ditetapkan oleh badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yaitu UNESCO dengan mempertimbangkan kekayaan, keunikan dan keberagaman nilai geologi (Geodiversity), lingkungan atau ekologi (Biodiversity) dan budaya (Culturaldiversity).
Saat ini ada sekitar 195 situs geopark yang tercatat di UNESCO Global Geoparks (UGG) tersebar di 48 negara, di mana Indonesia menyumbang 10 situs geopark. Bagaimana dengan Geopark Meratus?
Sejak tahun 2018, Geopark Meratus telah ditetapkan menjadi Geopark Nasional, menjadi geopark yang pertama di Kalimantan dan saat ini diperjuangkan untuk bisa masuk ke dalam list UGG. Salah satu dinas yang proaktif menggaungkan dan memperjuangkan Geopark Meratus adalah Dinas Lingkungan Hidup Kalsel, baik dari aspek kesiapan di lapangan maupun pemenuhan persyaratan untuk masuk dalam list Geopark UGG.
Geopark Meratus sendiri membentang di enam kabupaten/kota, yaitu Kota Banjarbaru, Kota Banjarmasin, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kabupaten Tapin, Kabupaten Barito Kuala, dan Kabupaten Banjar.
Mengapa Geopark Meratus menjadi hal penting untuk "dijual"? Hal ini karena potensinya yang besar sebagai penggerak ekonomi yang berkelanjutan. Sektor ekstraktif seperti tambang, suatu saat akan berakhir. Jangan sampai terlambat melakukan transisi ekonomi dari ekstraktif menjadi ekonomi berbasis sumber daya alam yang terbarukan.
Potensi Sumber Daya Alam (SDA) Kalsel cukup melimpah dan beragam, yang berdasar sifatnya seperti SDA tidak terbarukan: batu bara, minyak bumi dan gas maupun SDA yang terbarukan seperti keanekaragaman hayati, sungai, lahan perkebunan, pertanian yang kesemuanya dapat dimanfaatkan demi kesejahteraan masyarakat.
Era tambang migas telah terlebih dulu beroperasi di Tanjung, Tabalong sejak zaman Belanda. Seiring dengan menipisnya cadangan migas, kemudian berganti era batu bara, dan saat ini pun mulai menapaki jalan mengarah kepada senjakala.
Masih belum terlambat bagi pemerintah untuk menggunakan semua hasil pajak dan royalti eksploitasi tambang secara bijak untuk meletakkan pondasi kuat untuk pembangunan ekonomi ke depan yang lebih berkelanjutan. Pemerintah dan masyarakat harus bersiap akan perubahan ekonomi ke depan dari berbasis sumber daya tambang menjadi sumber daya alam terbarukan.
Langkah Strategis
Momentum saat ini akan menjadi awal langkah strategis transisi ekonomi yang berkelanjutan ke depan. Fokus penguatan tentu di aspek sumber daya manusia (human capital) yang menjadi motor penggerak ekonomi, menciptakan peluang ekonomi baru dari keragaman potensi sumber daya alam yang dimiliki Kalsel.
Kita bisa belajar dari negara-negara di dunia yang mampu menciptakan kesejahteraan warganya meskipun tidak memiliki limpahan kekayaan sumber daya alam seperti Jepang, Korea Selatan, Singapura di Asia atau Swiss di Eropa.
Swiss bisa kita jadikan contoh, produsen produk cokelat kelas dunia yang terkenal cita rasa dan teksturnya. Tanaman cokelat atau kakao (Theobroma cacao L) merupakan tanaman iklim tropis dengan suhu hangat, kelembaban cukup tinggi dan hujan yang cukup. Tanaman ini tidak tumbuh di Swiss yang sub tropis. Namun dengan kemampuan sumber daya manusianya, Swiss mampu menempatkan negaranya sebagai pengolah dan produsen produk olahan cokelat terkemuka di dunia. Swiss mengimpor biji kokoa dari negara-negara produsen seperti Indonesia dan mengolah bahan mentah ini menjadi produk cokelat kualitas tinggi.
Kalsel perlu mencetak banyak local hero berbasis kearifan lokal untuk dapat mengoptimalkan potensi sumber daya alam di tingkat lokal desa sehingga akan terwujud "satu desa satu produk" atau OVOP (One Village One Product). Sebenarnya, pemerintah pusat telah mengadopsi OVOP yang semula berhasil dikembangkan di Jepang, melalui Inpres Nomor 6 Tahun 2007 tentang Kebijakan Percepatan Pengembangan Sektor Riil dan Pemberdayaan Usaha Mikro Kecil dan Menengah.
Entah mengapa sampai hampir dua dekade belum ada hasil riilnya. Tidak seperti Thailand yang juga mengadopsi program yang sama, telah berhasil meningkatkan nilai tambah produk-produk pertaniannya.
Padahal produk-produk unggulan desa ini nantinya bisa dipasarkan di situs-situs kunjungan yang menjadi bagian dari Geopark Meratus.
Fokus kedua, tata telola pemerintahan yang baik. Banyak kriteria yang harus dipenuhi terkait tata kelola pemerintahan yang baik ini, di antaranya birokrasi yang transparan dan akuntabel, efisien. Dalam hal yang berkaitan dengan publik, pemerintahan harus mampu mewujudkan pemenuhan infrastruktur dan layanan publik yang efisien yang dibutuhkan masyarakat serta layanan kesehatan dan pendidikan yang memadai.
Satu poin penting, pemerintah wajib memiliki visi strategis jangka panjang yang jelas dan menetapkan tujuan strategis di masa mendatang untuk menjadi panduan pengambilan keputusan pembangunan.
Terkait Geopark Meratus, kepemimpinan gubernur diperlukan untuk mendorong bupati dan wali kota yang wilayahnya menjadi bagian dari Geopark Meratus untuk bersama-sama menjadikan bagian dari strategi pembangunan ekonomi berbasis kekayaan geologi, ekologi dan budaya. Bupati dengan kewenangannya dapat mengimbau perusahaan-perusahaan besar di wilayahnya agar karyawannya berwisata ke situs-situs Geopark Meratus, tidak perlu harus ke luar Kalsel.
Fokus ketiga, sinergi antar pemangku kepentingan antara pemerintah dengan lembaga pendidikan khususnya universitas dan sektor swasta. Pada 1 November 2023, Universitas Lambung Mangkurat bersama Pemprov Kalsel Kalsel dan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kalsel bersinergi membentuk Sustainable Development Goals (SDGs) Center ULM dalam rangka mencari terobosan untuk mencapai tujuan Pembangunan berkelanjutan di Kalsel.
Semoga agenda launching ini tidak hanya berhenti sebagai seremonial belaka, namun ditindaklanjuti dengan rencana dan program nyata untuk mewujudkannya. Secara khusus memang SDGs Center ULM menjadi mitra strategis pengembangan Geopark Meratus.
Kita tunggu kiprahnya yang tentu fokus pada aspek kajian perencanaan, manajerial, strategi pelibatan masyarakat, penguatan kelembahaan lokal, pendidikan dan kemitraan konservasi, pengembangan wisata berkelanjutan dan penelitian serta pengembangan potensi keunikan geologi, ekologi dan budaya.
ULM juga dapat berperan sebagai host seminar, workshop maupun agenda ilmiah lainnya yang mengundang mahasiswa maupun peneliti baik di dalam maupun luar negeri untuk hadir di Kalsel.
Dalam agenda ini, bisa dimasukkan agenda touring ke Geopark Meratus. Sektor swasta, seperti hotel, wajib menyuguhkan menu kunjungan wisata ini di lobi hotelnya. Bisa bekerja sama dengan agen pariwisata untuk meningkatkan kenyamanan tamu mengunjungi situs-situs di Geopark Meratus.
Fokus keempat, peningkatan akses informasi dan infrastruktur penunjang Geopark Meratus. Akses informasi perlu diperluas jangkauannya. Saat ini, dengan banyaknya generasi milenial dan Z yang sering menyuarakan kembali ke alam dan tingkat kepedulian lingkungan yang tinggi, dapat digandeng menjadi influencer positif promosi Geopark Meratus.
Media sosial dapat digunakan untuk terus memperkenalkan Geopark Meratus dan keunikan-keunikan yang dimiliki. Saat ini, Geopark Meratus menawarkan empat rute wisata: Rute Barat dengan 9 situs kunjungan, Rute Timur dengan 17 situs, Rute Selatan dengan 14 situs dan Rute Utara dengan 14 situs.
Masing-masing rute menawarkan keunikan pesona lansekap geologi, ekologi flora fauna dan budaya yang khas. Infrastruktur yang perlu dikembangkan tentunya kesiapan situs-situs kunjungan dalam menyambut wisatawan, termasuk akses jalan maupun perairan serta sarana transportasi kendaraan yang diperlukan.
Hal utama dalam pengembangan Geopark Meratus adalah konsistensi dan determinasi tinggi dari semua pihak. Tanpa hal ini, mustahil mewujudkan Geopark Meratus yang berdampak positif bagi pembangunan ekonomi yang berkelanjutan bagi Banua. Semoga Geopark Meratus mendatangkan berkah fulus bagi masyarakat Banua secara berkelanjutan.
Editor : Arief