Oleh: H MUHAMMAD TAMBRIN
Kepala Kanwil Kementerian Agama Kalsel
Bagi para ahli syuhud (orang yang menyaksikan kehadiran Allah dalam segala sesuatu), dunia ini tidak terwujud. Yang membuat dunia ini nampak hanyalah wujud Allah semata, persis seperti pancaran sinar matahari yang masuk ke dalam sebuah lentera berkaca. Tak ada wujud, kecuali wujud Yang Maha Benar.
Dengan kemunculan Allah pada segala sesuatu, semuanya menjadi ada, sesuai tabiatnya masing-masing. Aslinya, mereka tidak berwujud dengan sendirinya.
Pembaca Tarbiyah di hari Jumat yang mulia ini. Barang siapa yang melihat alam semesta ini tanpa merasakan kehadiran Allah di sana, berarti telah kehilangan Nur Ilahi (cahaya Allah) yang membuatnya musyahadah. Di samping itu, ia juga tidak mungkin akan mendapat makrifat karena telah disilaukan oleh semesta ini.
Al-Mukarram Al-Allamah Al-Arif Billah KH Muhammad Bakhiet telah menjelaskan hikmah ini. Alam semesta (al-kaun) itu maa siwallah, sesuatu yang selain Allah, dia disebut alam. Baik itu surga, neraka, dunia, akhirat, manusia, hewan, termasuk amal perbuatan kita termasuk alam.
Maka seluruhnya alam itu gelap. Gelap merupakan istilah dari berbagai macam, di antaranya menunjukkan ketiadaan. Contoh dikatakan “Apakah sudah ada berita? Dijawab masih gelap, yang berarti belum ada berita”.
Gelap juga bisa berarti kesesatan dan kejahatan. Jadi, alam semesta ini seluruhnya adalah gelap, yang bisa saja berarti tidak ada, kesesatan atau kejahatan.
Sebaliknya, terang pun memiliki berbagai macam makna. Contohnya “Sudah ada kabar?” Dijawab sudah ada titik terangnya, yang berarti adanya berita yang dimaksud. Jadi, terang itu bisa berarti ada. Maka apabila kita gunakan istilah terang itu artinya ada, maka alam semesta ini adalah zulmat artinya tidak ada.
Terang bisa juga berarti petunjuk. Petunjuk bisa disebut cahaya yang terang, seperti cahaya iman.
Kalau dipakai istilah terang sebagai petunjuk, maka ketika alam semesta sesat, hanya Allah sajalah yang memberi petunjuk pada alam itu.
Terang bisa juga berarti kebaikan. Sesuatu yang baik dapat diartikan dengan cahaya terang. Artinya alam semesta itu seluruhnya jahat kecuali apabila diterangi oleh Allah SWT, maka alam itu menjadi baik.
Untuk mendekatkan pemahaman, kita ambil salah satu bagian. Alam semesta adalah perbuatan. Bila dikaitkan dengan gelap itu adalah kejahatan, dan terang adalah kebaikan.
Dapat dikatakan, perbuatan-perbuatan manusia itu adalah seluruhnya gelap/jahat. Hanya saja perbuatan manusia itu akan baik ketika dimusyahadahkan atau disertakan dengan Allah SWT.
Seluruh perbuatan kita tidak baik, kecuali bila perbuatan itu disertai petunjuk Allah, baru kemudian perbuatan kita itu menjadi baik.
Lalu bagaimana cara kita menyertakan Allah dalam setiap perbuatan? Sebelum berbuat, kita sudah ingat bahwa tidak ada daya upaya dan kemampuan kecuali daya upaya dari Allah. Pada saat atau sesudah berbuat, kita menyadari bahwa perbuatan itu adalah perbuatan Allah pada hakikatnya.
Barang siapa melihat perbuatan baik dirinya ataupun perbuatan orang lain, tapi dia tidak bisa musyahadah kepada Allah (dalam perbuatan itu tidak ada Allah) maka orang ini adalah mahjub (terdinding/tersesat), dan dia merupakan makhluk yang paling jahat.
Kenapa dia terdinding? Sebab, karena tertancapnya zahir gambar perbuatan di dalam hatinya, sehingga terdinding daripada mengingat bahwa perbuatan itu adalah perbuatan Allah SWT.
Apabila kita ini menjadi orang yang terdinding/sesat, amal taat yang kita lakukan itu menjadi kejahatan. Lebih lagi amal jahat, sudah tentu lebih jahat lagi.
Orang yang di dalam hatinya tiada ingat dengan Allah, hanya ingat kepada makhluk. Orang ini kalau berbuat taat, maka taatnya itu adalah kejahatan. Kenapa taatnya kejahatan? Karena taatnya itu tidak sunyi daripada ujub, riya, dan merasa mulia.
Kenapa demikian? Karena tidak ingat karena Allah, itu adalah ujub. Salat mengharapkan balasan/pujian orang lain, maka riya namanya. Salat lalu merasa lebih baik daripada manusia lainnya, merasa mulia namanya. Kalau ibadah itu demikian halnya, maka ibadah taat berubah menjadi kejahatan.
Adapun orang yang melihat perbuatan, dan di situ dia ingat kepada Allah. Dia salat, dan ingat salat karena petunjuk, taufik dan daya upaya yang diberikan-Nya, sehingga bisa mengerjakannya. Maka orang ini dibukakan dan diterangi mata hatinya oleh Allah, sehingga dia melihat perbuatan itu seluruhnya adalah cahaya, karena selalu ada Allah SWT. Orang seperti ini yang disebut mukasyaf (dibukakan), munawwar yang diterangi mata hatinya.
Sehingga setiap kali melihat perbuatan hamba, maka kita akan selalu ingat Pencipta. Ada orang datang mencari maki atau pun memuji, yang dilihat itu adalah semuanya dari Allah.
Melihat orang lain marah, maka marahnya itu dari Allah. Dia yang memberikan daya upaya, sehingga pada hakikatnya Allah yang marah kepadaku, Allah sedang menegurku.
Inilah orang yang dibuka mata hatinya, tidak ada dendam, dengki padanya.
Demikian hikmah Al Hikam ke-14. Semoga kita selalu mendapat rahmat dan berkah dari Allah. Insya Allah atas izin dan taufik-Nya kita bertemu kembali dalam kolom Tarbiyah ini. Ampun maaf dari Al Akir yang daif.(*) Editor : Arief