****
SIDANG pembaca Radar Banjarmasin, kolom Jumat ini melanjutkan ulasan untaian hikmah yang ketiga dari kitab Al Hikam.
"Tekad usaha perjuangan yang kuat tidak akan mampu menembus takdir" (Al Hikam karya Syekh Imam Ahmad Ibnu Atha'illah As-Sakandari).
Ini menguatkan hikmah sebelumnya. Seakan Al Imam Ibnu Atha'illah menyatakan bahwa keinginan tidak akan ada gunanya bila berbeda dengan keinginan Tuhan.
Jika tekad yang kuat saja tidak akan membuahkan hasil apa-apa, kecuali dengan takdir dan izin Allah. Hikmah ini ditujukan untuk mendinginkan keinginan dan cita-cita di dalam hati yang selalu berkeyakinan bahwa segala sesuatu itu beragantung pada usaha sendiri dan seolah-olah pasti berhasil.
Tekad dan usaha merupakan kekuatan nafs, kekuatan manusiawi. Di mana kekuatan itu tidak akan terwujud kecuali dengan izin Allah. Bagaimanapun keras usaha pekerjaan seseorang, tetap kembali kepada takdir Allah.
Namun sosok manusia bukanlah malaikat, manusia tetap harus melakukan sebab dan usaha yang mendatangkan akibat, sebagai sebuah ikhtiar dan usaha. Semua hasil baik suka dan duka, harus dikembalikan bahwa itu takdir yang ditentukan oleh Allah yang Maha Kuasa.
Kiai Muhammad Bakhiet dari Barabai, tentang hikmah Al Hikam menyampaikan, "Keinginan yang kuat disebut quwwatu al azimah. Keinginan yang kuat dalam diri kita menimbulkan dorongan, di antaranya al kasbu (usaha), berdoa, dan tawajjuh. Tawajjuh ini, bagi orang saleh dinamakan karamah, sedangkan bagi orang fasik dinamakan istidraj."
Guru Bakhiet juga menjelaskan, kita beriman dengan takdir Allah dengan empat hal yang wajib diketahui dan diresapi.
Pertama, wajib atas engkau beriman bahwa terjadinya sesuatu itu sesuai dengan ilmu Allah yang azali.
Kedua, wajib atas engkau beriman bahwa Allah itulah yang menciptakan perbuatan hamba seluruhnya. Baik, jahat, iman dan kafir, itu seluruhnya adalah ciptaan Allah. Kita wajib di dalam hati meyakininya.
Ketiga, wajib engkau beriman bahwa sesuatu yang ditakdirkan Allah itu pasti terjadi, dan yang tidak ditakdirkan-Nya mustahil terjadi.
Keempat, wajib atas engkau rida atas apa-apa yang ditakdirkan Allah. Dan menyikapinya dengan sesuatu yang dituntut.
Kita berusaha, berdoa dan ber-tawajjuh sebagai asbab, tapi ujung-ujungnya kita mesti ingat bahwa semua itu adalah takdir Allah. (gr/fud) Editor : Arief