- Penulis: Mursyidah, S.Pd (Guru SDN 2 Guntung Payung)
Berkenaan hal tersebut muncullah sebuah gagasan yang mampu memenuhi kebutuhan belajar peserta didik yang berbeda-beda tersebut. Gagasan yang dimaksud adalah pembelajaran berdiferensiasi yang berlatar belakang keragaman dan keunikan karakteristik belajar peserta didik.
Pembelajaran berdiferensiasi adalah pembelajaran yang mampu mengakomodir kebutuhan belajar peserta didik dalam artian pembelajaran yang memberi keleluasaan pada peserta didik untuk meningkatkan potensi dirinya sesuai dengan kesiapan belajar, minat, dan profil belajar peserta didik. Guru memfasilitasi peserta didik sesuai dengan kebutuhannya, karena setiap peserta didik mempunyai karakteristik belajar yang berbeda-beda, sehingga tidak bisa diberi perlakuan yang sama. Dalam menerapkan pembelajaran berdiferensiasi guru perlu memikirkan tindakan yang masuk akal yang nantinya akan diambil, karena pembelajaran berdiferensiasi tidak berarti pembelajaran dengan memberikan perlakuan atau tindakan yang berbeda untuk setiap peserta didik, maupun pembelajaran yang membedakan antara peserta didik yang cepat tanggap dengan yang kurang tanggap.
Selama ini guru lebih memaksakan kehendaknya sendiri. Guru tidak memahami minat dan keinginan peserta didik dalam belajarnya. Kebutuhan belajar peserta didik tidak semuanya terpenuhi karena ketika proses pembelajaran menggunakan satu cara yang menurut guru sudah baik, guru tidak memberikan beragam kegiatan dan beragam pilihan. Hal tersebut berdampak pada kualitas pembelajaran serta kualitas peserta didiknya.
Pembelajaran berdiferensiasi ini harus membuat peserta didik merasa nyaman dalam belajar, adanya peningkatan keterampilan baik segi hard skill atau soft skill, dan adanya kesuksesan belajar dari seorang peserta didik yaitu peserta didik mampu merefleksikan diri dimana ada kemampuannya yang dimulai dari titik awal pembelajaran sampai peningkatan diri selama proses pembelajaran dan pada akhir pembelajaran.
Untuk dapat menerapkan pembelajaran berdiferensiasi di kelas, hal yang harus dilakukan oleh seorang guru antara lain, yang pertama melakukan pemetaan kebutuhan belajar peserta didik berdasarkan tiga aspek, yaitu: kesiapan belajar, minat belajar, dan profil belajar peserta didik (bisa dilakukan melalui wawancara, observasi, atau survey menggunakan angket, dll.
Kedua, merencanakan pembelajaran berdiferensiasi berdasarkan hasil pemetaan (memberikan berbagai pilihan baik dari strategi, materi, maupun cara belajar). Dan yang ketiga, mengevaluasi dan merefleksi pembelajaran yang sudah berlangsung.
Dalam pengaplikasian pembelajaran berdiferensiasi tentunya kita akan mengalami berbagai tantangan dan kendala. Guru harus tetap dapat bersikap positif, untuk tetap dapat bersikap positif meskipun banyak tantangan dalam penerapan pembelajaran berdiferensiasi adalah: pertama, terus belajar dan berbagi pengalaman dengan teman sejawat lainnya yang mempunyai masalah yang sama dengan kita (membentuk Learning Community). Kedua, saling mendukung dan memberi semangat dengan sesama teman sejawat. Ketiga, menerapkan apa yang sudah kita peroleh dan bisa kita terapkan meskipun belum maksimal. Keempat, terus berusaha untuk mengevaluasi dan memperbaiki proses pembelajaran yang sudah diterapkan.
Pembelajaran berdiferensiasi sangat berkaitan erat dengan filosofi pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara yang berkenaan dengan nilai dan peran guru , visi guru, serta budaya positif. Salah satu filosofi pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara adalah sistem “among”, guru harus dapat menuntun peserta didiknya untuk berkembang sesuai dengan kodratnya, hal ini sangat sesuai dengan pembelajaran berdiferensiasi yang akan diterapkan di kurikulum Merdeka saat ini.
Apabila seorang guru memperhatikan strategi mendiferensiasikan pembelajaran dan bagaimana pembelajaran berdiferensiasi tersebut, maka jelas pembelajaran berdiferensiasi adalah pembelajaran yang memerdekaan peserta didiknya, dikarenakan pembelajaran berdiferensiasi dibangun atas dasar memenuhi kebutuhan belajar peserta didiknya. Pemenuhan belajar peserta didik adalah salah satu hal yang mendasar dari proses pembelajaran yang menekankan pada kodrat peserta didik. Selain itu, pembelajaran diferensiasi dapat menumbuh kembangkan profil pelajar Pancasila yang menekankan pada Keberimanan, kemandirian, gotong-royong, berkebinekaan global, bernalar kritis dan kreatif. Sehingga pembelajaran berdiferensiasi untuk merdeka belajar peserta didik di kelas.
Pembelajaran akan sangat menarik dan menyenangkan apabila pembelajaran itu bermakna, dimana peserta didiknya ikut terlibat untuk menemukan hal baru yang akan diketahuinya. Belajar akan lebih bermakna jika peserta didik mengalami langsung dengan apa yang dipelajarinya dengan mengaktifkan lebih banyak indera daripada hanya mendengarkan seorang guru menjelaskan materi pelajaran. Sehingga peserta didik akan mudah menerima informasi yang dipelajarinya secara bermakna lebih lama dapat diingatnya.
Inti kunci dari pembelajaran berdiferensiasi adalah ketika guru dapat mengetahui dan mengenal peserta didiknya dengan baik, sehingga guru dapat merencanakan pengajaran baik secara individu, kelompok kecil dan atau seluruh kelas. Strategi mendiferensiasi pembelajaran ada 3 strategi yaitu: pertama, Diferensiasi Konten, hal ini berkaitan dengan materi ajar, konsep dan keterampilan yang harus dipelajari peserta didik berdasarkan kurikulum. Hal ini terlihat dari pengorganisasian peserta didik dan membedakan format penyampaian.
Kedua, Diferensiasi Proses, berkaitan dengan kegiatan belajar atau proses kegiatan belajar yang dilakukan peserta didik untuk memahami konten. Jika strategi ini dilakukan, akan nampak pada proses yang dijalani peserta didik akan berbeda. Ketiga, Diferensiasi Produk, berkaitan dengan produk yang dihasilkan atau karya yang dibuat oleh peserta didik. Strategi ini terlihat dari bagaimana membedakan produk hasil belajar peserta didik. Dari produk akan tergambar apa yang dipelajari oleh peserta didik.
Seorang guru harus menunjukkan sikap kreatif, percaya diri, mau mencoba, dan berani mengambil resiko dalam menerapkan berbagai ide strategi pembelajaran berdiferensiasi di kelasnya. Semua hal ini bisa dilakukan dimulai dengan mengubah mindset atau pola pikir sebagai seorang guru bahwa harus bisa menghargai murid yang beragam, menggali berbagai minat murid, dan mencoba menyediakan sumber informasi yang dimiliki oleh sekolah untuk mengelola pembelajaran. Manajemen kelas yang efektif dan lingkungan belajar yang mendukung juga sangat dibutuhkan dalam menciptakan pembelajaran berdiferensiasi sehingga semua kebutuhan belajar murid dapat terlayani secara optimal.
Berdasarkan hal tersebut dapat disimpulkan bahwa seorang guru tidak harus mampu memenuhi semua kebutuhan belajar semua peserta didik setiap saat atau setiap waktu. Guru diharapkan dapat menggunakan berbagai pendekatan belajar, sehingga sebagian besar murid menemukan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan mereka serta merasa nyaman dalam belajarnya. Dari hal inilah munculnya pembelajaran yang memerdekakan peserta didiknya.(*) Editor : Arief