RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Jakarta, Isu Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) akan "turun gunung" menjelang agenda politik nasional menjadi perbincangan besar di ruang digital.
Hasil monitoring dan analisis percakapan digital yang dirilis Sintesa Strategi Indonesia (SSI) bersama Datalinker menunjukkan isu tersebut memperoleh atensi tinggi dengan dominasi sentimen positif dari publik.
Berdasarkan data periode 23 Mei hingga 21 Juni 2026, tercatat sebanyak 158.761 percakapan spesifik terkait isu "Turun Gunung". Sementara itu, kata kunci "Jokowi" muncul dalam lebih dari 58 juta percakapan dan "Joko Widodo" mencapai 23,5 juta percakapan di berbagai platform digital.
Direktur SSI Ikrama Masloman mengatakan ruang diskusi mengenai isu tersebut didominasi media sosial dengan porsi 90,6 persen, sedangkan media online menyumbang 9,4 persen.
Dari sisi sikap publik, kelompok yang mendukung mencapai 43,6 persen, sementara kelompok kontra berada di angka 18 persen. Sisanya merupakan percakapan bernada netral.
Blusukan Jokowi Jadi Pemicu Perbincangan
Menurut Ikrama, meningkatnya percakapan publik dipicu pernyataan Jokowi dalam Rakernas PSI di Makassar serta informasi mengenai rencana safari politik yang disampaikan sejumlah tokoh PSI dan relawan Projo.
Perhatian publik semakin besar setelah muncul agenda blusukan yang dijadwalkan berlangsung pada 26-28 Juni 2026 di Lampung, Nusa Tenggara Timur (NTT), dan Jawa Barat, khususnya Cirebon.
Agenda tersebut disebut sebagai titik awal kunjungan ke 38 provinsi di Indonesia, sehingga memunculkan beragam spekulasi mengenai tujuan politik di balik langkah tersebut.
Sentimen Positif Dominan
SSI mencatat sentimen positif publik paling banyak muncul pada aspek personalitas dan gaya kepemimpinan Jokowi. Kata kunci seperti "blusukan", "keliling daerah", dan "kepemimpinan" memperoleh tingkat sentimen positif di atas 70 persen.
Citra positif juga diperkuat oleh sejumlah momentum lain, seperti kehadiran Jokowi saat menyaksikan langsung pertandingan AFF U-19 untuk mendukung Timnas Indonesia, munculnya tagar #PriaSoloItu di media sosial, serta kampanye PSI yang beririsan dengan perayaan ulang tahun Jokowi pada 21 Juni.
Kritik dari PDIP dan Isu Lama Kembali Muncul
Di sisi lain, sentimen negatif tercatat meningkat pada awal Juni 2026. Kritik terutama muncul dari isu hubungan Jokowi dengan PDIP.
Sebagian tokoh menilai langkah politik Jokowi berpotensi memunculkan fenomena "matahari kembar" yang dapat memengaruhi stabilitas pemerintahan.
Selain itu, isu lama terkait polemik ijazah dan pengaitan nama Jokowi dengan sejumlah kasus hukum kembali muncul dalam percakapan digital.
SSI mencatat citra positif Jokowi tersebar dalam berbagai segmen pembahasan, mulai dari infrastruktur, kebijakan publik, bantuan sosial hingga olahraga. Sementara sentimen negatif terkonsentrasi pada isu politik dan pemilu, etika dan skandal, serta hukum dan kriminal.
Penelitian ini menggunakan metode keyword-based crawling pada platform X, Facebook, Instagram, YouTube, TikTok, dan media online. SSI menegaskan hasil tersebut merupakan potret dinamika opini publik di ruang digital, bukan survei elektoral yang merepresentasikan keseluruhan masyarakat.
Sebagai bentuk transparansi, SSI menyatakan siap membuka raw data kepada asosiasi atau kelompok kredibel paling lambat dua hari setelah hasil riset dipublikasikan. (*)
Editor : M. Ramli Arisno