RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, BANJARMASIN – Kabut asap yang mengepung Kota Banjarmasin mulai diiringi kenaikan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
Data Dinas Kesehatan (Dinkes) Banjarmasin mencatat, kasus ISPA meningkat 409 kasus dalam sebulan. Pada Juni 2026 tercatat sebanyak 6.432 kasus, kemudian naik menjadi 6.841 kasus pada Juli 2026.
Kepala Dinkes Banjarmasin Yanuar Diansyah mengatakan, kenaikan tersebut menunjukkan adanya tren peningkatan kasus ISPA. Namun, ia menegaskan, peningkatan kasus tidak bisa serta-merta dikaitkan seluruhnya dengan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
“Jadi ada kenaikan sekitar 409 kasus ISPA,” ungkap Diansyah kepada awak media, Jumat (4/9/2026).
Data Agustus Masih Direkap
Data kasus ISPA untuk Agustus 2026 masih dalam proses rekapitulasi. Dinkes menjadwalkan data tersebut rampung dan diumumkan pada Sabtu (5/9/2026).
Dari data yang sudah tersedia, kasus ISPA paling banyak tercatat di Kecamatan Banjarmasin Utara dan Banjarmasin Selatan.
Menurut Yanuar, tingginya kasus di dua wilayah tersebut salah satunya dipengaruhi posisi geografis yang berbatasan dengan daerah tetangga.
Selain itu, data ISPA yang tercatat di fasilitas kesehatan (faskes) Banjarmasin tidak sepenuhnya menggambarkan jumlah penderita yang merupakan warga Kota Banjarmasin.
Sejumlah puskesmas di Banjarmasin juga melayani masyarakat dari luar daerah. Akses pelayanan kesehatan yang relatif mudah membuat warga dari wilayah sekitar memilih berobat di Banjarmasin.
“Mereka merasa mudah mendapatkan pelayanan kesehatan di wilayah kita karena letaknya yang strategis, sehingga mereka berobat di sini dan jadi penyumbang data kasus,” jelasnya.
Asap Kiriman Jadi Faktor yang Perlu Diwaspadai
Banjarmasin memang bukan wilayah yang menjadi titik utama karhutla. Namun, kondisi di daerah sekitar tetap memberikan dampak.
Banyaknya titik panas di wilayah sekitar Banjarmasin, ditambah arah angin, membuat asap karhutla terbawa masuk dan menyelimuti kota.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena paparan asap dapat memperburuk gangguan pernapasan, terutama bagi kelompok rentan.
Meski demikian, Yanuar menegaskan ISPA memiliki banyak faktor penyebab. Karena itu, peningkatan kasus tidak bisa semata-mata disebut sebagai dampak kabut asap.
Namun, situasi karhutla yang masih berlangsung saat ini menjadi salah satu faktor yang berpotensi memperburuk kondisi kesehatan masyarakat.
Dinkes Imbau Warga Kurangi Aktivitas di Luar
Belum diketahui kapan kabut asap akan berakhir. Karena itu, Dinkes Banjarmasin mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan.
Kelompok rentan dan masyarakat yang harus beraktivitas di luar ruangan diminta menggunakan masker. Sementara aktivitas di luar rumah yang tidak mendesak sebaiknya dikurangi.
Dinkes juga telah membagikan masker kepada masyarakat, termasuk pengemudi ojek online (ojol) dan pelajar di sejumlah sekolah.
Selain itu, seluruh fasilitas kesehatan di Banjarmasin disiagakan menyusul diterbitkannya surat edaran mengenai peningkatan kewaspadaan dini.
Untuk kebutuhan pengobatan, masyarakat tidak perlu khawatir. Yanuar memastikan ketersediaan obat-obatan untuk penanganan kasus ISPA masih mencukupi.
“Untuk ketersediaan obat-obatan untuk kasus ISPA Insya Allah tercukupi. Terlebih, Puskesmas kita sudah berstatus BLUD (Badan Layanan Umum Daerah) hingga mereka bisa mengadakan masker dan obat-obatan sendiri di wilayah masing-masing,” pungkasnya.
Editor : Eddy Hardiyanto