RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, BANJARBARU – Rumah Sakit Daerah (RSD) Idaman Kota Banjarbaru mengingatkan masyarakat agar tetap waspada terhadap potensi meningkatnya kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan pneumonia seiring musim kemarau dan meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Kepala Humas RSD Idaman Banjarbaru, Muhammad Abrar, mengatakan ancaman kabut asap akibat karhutla berpotensi menurunkan kualitas udara dan memicu gangguan kesehatan, khususnya penyakit pernapasan.
"Berdasarkan kondisi tersebut, masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan agar dampak kesehatan akibat paparan asap dapat diminimalkan," ujarnya, Kamis (23/7/2026).
Berdasarkan data RSD Idaman periode 1–20 Juli 2026, tercatat 116 kasus ISPA dan 65 kasus pneumonia.
Secara kumulatif, jumlah tersebut masih lebih rendah dibandingkan data sepanjang Juni 2026 yang mencatat 116 kasus ISPA dan 115 kasus pneumonia. Namun, menurut Abrar, perbandingan itu belum dapat dijadikan acuan karena periode pencatatan Juli belum berakhir.
"Kalau membandingkan data dari Juni dengan Juli, memang belum ada peningkatan kasus yang signifikan. Karena ada perbedaan durasi pencatatan sekitar 10 hari; data Juni penuh dari tanggal 1 sampai 30, sedangkan Juli baru berjalan dari tanggal 1 hingga 20 saja," jelasnya.
Meski belum terlihat lonjakan kasus yang signifikan, RSD Idaman menegaskan perkembangan kualitas udara harus terus dipantau. Jika kabut asap akibat karhutla semakin pekat, jumlah penderita gangguan pernapasan berpotensi meningkat dalam waktu singkat.
Untuk mengurangi risiko tersebut, masyarakat diminta membatasi aktivitas di luar ruangan, terutama ketika kualitas udara memburuk.
Warga yang terpaksa beraktivitas di luar rumah juga diimbau menggunakan masker dan memperbanyak konsumsi air putih guna menjaga kesehatan saluran pernapasan.
"Supaya tidak terjadi lonjakan kasus, kami mengimbau masyarakat yang tidak memiliki urusan mendesak agar tetap berada di dalam rumah. Jika terpaksa harus keluar, gunakanlah masker dan perbanyak konsumsi air putih," pungkas Abrar.
Editor : Eddy Hardiyanto