BANJARBARU – Kota Banjarbaru dinilai menjadi wilayah rawan rabies menyusul tingginya jumlah kasus yang ditemukan pada 2025.
Dari total 18 kasus rabies positif yang terkonfirmasi di Provinsi Kalimantan Selatan tahun lalu, sembilan kasus di antaranya berasal dari Banjarbaru.
Hal itu disampaikan langsung oleh Ketua Tim Kerja Informasi Veteriner pada Balai Veteriner Banjarbaru, drh. Wijanarko, Kamis (5/2).
Ia menyatakan hingga awal 2026 belum tersedia data surveilans rabies terbaru. Namun, tren lima tahun terakhir menunjukkan bahwa puncak kasus rabies positif terjadi pada 2025, sehingga Banjarbaru tetap masuk kategori daerah dengan risiko penularan tinggi.
“Proporsi kasus positif di Banjarbaru cukup signifikan dibanding daerah lain di Kalimantan Selatan. Ini menjadi indikator kuat bahwa Banjarbaru masih rawan rabies,” ujarnya.
Sebagai langkah pengendalian, Balai Veteriner secara rutin melaksanakan surveilans rabies aktif dan pasif guna mendeteksi dini dan memetakan risiko penularan, terutama di lingkungan permukiman.
Selain itu, Balai Veteriner juga secara konsisten menyelenggarakan vaksinasi rabies gratis setiap tahun, yang dilaksanakan dalam rangka Peringatan Hari Rabies Sedunia setiap 28 September.
"Kami juga memastikan ketersediaan vaksin rabies hewan dalam kondisi memadai, dengan pengadaan rutin dari Kementerian Pertanian dan distribusi ke seluruh unit pelaksana teknis," ungkap Wijanarko.
Editor: Sutrisno
Editor : Arief