JAKARTA – Hasil survei Zona Mendengar Jiwa dari Health Collaborative Center (HCC), Fokus Kesehatan Indonesia, dan Yayasan BUMN menunjukkan 34 persen pelajar di Jakarta terindikasi gangguan mental emosional.
Mereka menyurvei 741 pelajar SMA negeri dan swasta di Jakarta.
Survei diadakan pada Oktober lalu di dua SMA negeri dan satu SMA swasta. "Jakarta ini juga seperti Indonesia mini karena ada urban dan rural," ucap Ketua HCC Ray Wagiu Basrowi dalam rilis hasil survei, Selasa (17/12).
Meskipun tidak bisa disebut mewakili data nasional, lanjut Ray, fenomena yang ditangkap diduga bakal mirip dengan daerah lain. Ray menambahkan, temuan tersebut dapat dijadikan angka prevalensi sekaligus menggambarkan indikasi gangguan emosional dan kesehatan mental pelajar SMA di Jakarta.
Butuh Analisis Lebih Dalam
Dia pun meminta agar ada analisis lebih dalam. "Sebab, jika dibandingkan dengan data atau hipotesis kajian sebelumnya, temuan tersebut lebih tinggi," ungkapnya.
Selain itu, terdapat 10 persen pelajar SMA yang merasa rentan dengan kondisi status kesehatan mental mereka. Menurut Ray, itu didasarkan pada perspektif dan pemaknaan remaja terkait risiko diri mengalami gangguan kesehatan mental. Kondisi tersebut menjadi tanda awas bahwa kesadaran diri terhadap kesehatan mental masih rendah.
Ray menyatakan, dalam survei yang menggunakan instrumen skrining strengths and difficulties questionnaire 25 itu, didapatkan fakta sekolah sebagai salah satu lokus masalah kesehatan jiwa remaja. Sebab, berkaitan dengan kehidupan sosial, interaksi dengan teman sebaya, kegiatan akademis, jam belajar, dan interaksi dengan guru.
Ada tiga fokus utama pelajar SMA dalam menghadapi permasalahan yang memengaruhi kesehatan jiwa. Masing-masing terkait citra diri yang meliputi rasa tidak percaya diri dan masalah penampilan. Selanjutnya berkaitan dengan hubungan sosial yang meliputi permasalahan dengan orang dekat atau keluarga, masalah perasaan, perundungan, serta tekanan teman sebaya.
Mereka juga mengalami masalah dalam kegiatan belajar yang paling besar soal akademis. "Namun, hanya sekitar 10,9 persen pelajar yang merasa rentan dengan status kondisi kesehatan jiwanya," ucap Ray.
Yang patut diapresiasi adalah 86 persen masih memiliki kemampuan positif dalam berinteraksi dengan orang lain atau prososial yang baik. Artinya, pelajar SMA ini masih mempertimbangkan perasaan orang lain, berbagi, suka menolong, dan bersikap baik dengan yang lebih muda.
Bimbingan bagi Remaja
Pada kesempatan yang sama, peneliti Fokus Kesehatan Indonesia (FKI) Nila Moeloek menyatakan, pendekatan dengan pelajar harus hati-hati. Dia menilai perlu ada bimbingan bagi remaja.
"Kita harapkan bonus demografi pada 2045 akan dipimpin mereka yang sekarang masih remaja. Untuk itu, jiwa dan raga harus sehat," ungkapnya. Penelitian tersebut, lanjut dia, dapat menjadi peringatan agar meningkatkan kualitas anak muda.
Dia juga mendorong agar sekolah menjadi zona aman untuk kesehatan jiwa para remaja. Dengan adanya risiko yang akan memengaruhi kesehatan jiwa itu, guru dan sesama pelajar punya kemampuan untuk hal ini. Setidaknya untuk mendengarkan curhat.
"Curhat dengan guru selama jam sekolah dapat menurunkan 15 persen kecemasan dan depresi. Lalu, dengan peer discussion penurunannya sampai 50 persen," ungkapnya.
Editor : Arief