RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Amuntai - Kabut asap bukan sekadar mengganggu pandangan. Kualitas udara di lingkungan sekolah di Kecamatan Haur Gading, Hulu Sungai Utara (HSU), terukur sangat tinggi. Konsentrasi PM10 bahkan mencapai 1.772 mikrogram per meter kubik (µg/m³).
Temuan tersebut diketahui setelah Tim PKM Haur Gading melakukan pengukuran kualitas udara di salah satu lingkungan sekolah. Menggunakan Particle Counter HTi HT-9600, tim juga mencatat konsentrasi PM2.5 mencapai 639 µg/m³.
Pengukuran dilakukan saat suhu udara 29,48 derajat Celsius dengan kelembapan 74,8 persen RH.
Angka tersebut menjadi perhatian karena PM2.5 dan PM10 merupakan partikulat yang dapat terhirup. PM2.5 berukuran sangat kecil sehingga dapat masuk lebih jauh ke saluran pernapasan.
Dokter PKM Haur Gading Yeni Kusuma Dewi, mengatakan, pengukuran dilakukan untuk mengetahui kondisi udara di lingkungan belajar sekaligus melihat potensi risikonya terhadap kesehatan warga sekolah.
“Kami melakukan pengukuran untuk melihat kelayakan kualitas udara di lingkungan belajar. Hasil yang didapat cukup mengejutkan dan perlu perhatian serius,” ujarnya, Rabu (16/9/2026)
Paparan asap dan partikulat dalam konsentrasi tinggi dapat memicu sejumlah keluhan kesehatan. Di antaranya iritasi mata, batuk, dan sesak napas. Kondisi tersebut juga dapat memperburuk gangguan pernapasan pada kelompok yang rentan.
Karena itu, kondisi udara di sekitar sekolah perlu menjadi perhatian. Terlebih anak-anak menghabiskan waktu cukup lama di lingkungan sekolah.
Tim PKM Haur Gading merekomendasikan agar aktivitas luar ruangan dibatasi selama kondisi udara buruk. Warga sekolah juga dianjurkan menggunakan masker yang sesuai ketika harus beraktivitas di luar ruangan.
Sumber pencemaran di sekitar sekolah juga perlu ditelusuri. Asap kebakaran hutan dan lahan, debu jalan, hingga pembakaran sampah menjadi beberapa faktor yang perlu diperhatikan.
Temuan tersebut akan dikoordinasikan dengan instansi terkait, termasuk Dinas Kesehatan dan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten HSU. Langkah itu diperlukan untuk melakukan verifikasi serta menentukan tindak lanjut berdasarkan kondisi di lapangan.
Tim PKM menegaskan, hasil pengukuran menggunakan alat portabel tersebut merupakan bahan kewaspadaan awal. Untuk menetapkan status kualitas udara secara resmi, diperlukan verifikasi melalui pemantauan dengan metode dan instrumen yang sesuai standar.
Dengan kondisi kabut asap yang masih terjadi di sejumlah wilayah HSU, pemantauan kualitas udara di lingkungan sekolah dinilai penting.
Langkah pencegahan diperlukan agar aktivitas belajar mengajar tetap berlangsung tanpa mengabaikan kesehatan warga sekolah.
Editor : M Oscar Fraby