Kabut Asap Karhutla HSU Bikin 5 Pelajar Sesak Napas, Picu Kambuhnya Asma

M Akbar Radar Banjarmasin • Dipublikasikan Selasa, 15 September 2026 | 11:05 WIB
PICU ASMA: Petugas medis Puskesmas Haur Gading, HSU memberikan penanganan kepada lima pelajar yang mengalami sesak napas akibat paparan kabut asap karhutla, Selasa (15/9/2026).
PICU ASMA: Petugas medis Puskesmas Haur Gading, HSU memberikan penanganan kepada lima pelajar yang mengalami sesak napas akibat paparan kabut asap karhutla, Selasa (15/9/2026).

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, AMUNTAI – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai berdampak terhadap kesehatan pelajar di Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU).

Asap pekat yang menyelimuti wilayah Kecamatan Haur Gading memicu kambuhnya penyakit asma sejumlah pelajar.

Bahkan, beberapa siswa harus mendapat penanganan medis setelah mengalami sesak napas saat berada di sekolah.

Dokter jaga Puskesmas Haur Gading dr Yeni Kusuma Dewi mengatakan pihaknya menangani lima siswa yang datang dari sekolah berbeda pada Selasa (15/9/2026).

“Benar, kami menangani siswa yang mengalami kesulitan bernapas akibat asap. Sekitar pukul 09.30 Wita, ada lima siswa yang datang dari sekolah berbeda,” ujar Yeni.

Hasil pemeriksaan menunjukkan para pelajar tersebut memiliki riwayat asma. Paparan asap yang cukup pekat membuat penyakit mereka kembali kambuh.

“Setelah kami periksa, memang memiliki riwayat asma. Karena asap pekat hari ini, asmanya kembali kambuh,” jelasnya.

Guru Ikut Sesak, Sejumlah Siswa Dirawat

Dampak kabut asap tidak hanya dirasakan siswa. Seorang guru juga mengalami keluhan pusing dan sesak napas saat mengajar.

Guru tersebut sempat mendapat penanganan menggunakan oksigen di dalam ambulans Desa Jingah Bujur.

Sementara itu, dua siswi dibawa ke Puskesmas Haur Gading untuk mendapatkan penanganan medis. Informasi lainnya menyebutkan satu siswi harus menjalani perawatan di RSUD Pambalah Batung.

Yeni yang juga Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) HSU mengatakan penanganan terhadap pasien disesuaikan dengan kondisi masing-masing.

Terapi yang diberikan antara lain oksigen, nebulizer, serta obat asma oral.

Penderita Asma Diminta Kurangi Paparan Asap

Yeni mengingatkan masyarakat, terutama penderita asma, agar lebih waspada ketika kualitas udara memburuk akibat kabut asap.

Paparan asap dapat memperburuk keluhan pernapasan, khususnya bagi mereka yang memiliki riwayat asma.

“Untuk penderita asma, lebih selektif dalam menjaga kesehatan saat kondisi asap pekat seperti ini. Kalau harus beraktivitas di luar ruangan, gunakan masker dan sebisa mungkin hindari paparan asap,” pesannya.

Jam Masuk Sekolah Diundur

Kondisi kabut asap juga membuat Kantor Kementerian Agama (Kemenag) HSU mengambil langkah penyesuaian terhadap aktivitas sekolah.

Kepala Kemenag HSU H. Rusdi mengatakan, pihaknya telah berkoordinasi dengan sekolah untuk mengurangi paparan asap, terutama pada pagi hari.

Salah satu langkah yang dilakukan adalah mengundur jam masuk sekolah dari semula pukul 07.30 Wita menjadi sekitar pukul 08.30 hingga 09.00 Wita.

“Untuk musim asap seperti ini, kami sudah melakukan upaya mengundur jam masuk sekolah dari pukul 07.30 Wita menjadi sekitar pukul 08.30 sampai 09.00 Wita. Pelaksanaannya menyesuaikan kebijakan masing-masing sekolah,” kata Rusdi.

Menurut Rusdi, kebijakan tersebut tidak bersifat permanen. Kondisinya akan terus dievaluasi berdasarkan perkembangan kabut asap.

Evaluasi dilakukan setiap dua hari untuk menentukan apakah penyesuaian jam masuk masih diperlukan atau aktivitas sekolah dapat kembali berjalan seperti biasa.

“Kebijakan ini akan dievaluasi setiap dua hari. Kalau kondisi asap masih membahayakan, tentu akan dipertimbangkan untuk dilanjutkan,” ujarnya.

Rusdi menegaskan, keselamatan dan kesehatan peserta didik menjadi pertimbangan utama dalam setiap kebijakan selama kabut asap masih terjadi.

Kondisi ini menjadi perhatian serius karena kabut asap bukan hanya mengganggu proses belajar mengajar. Bagi siswa yang memiliki riwayat penyakit pernapasan, paparan asap juga dapat memicu kambuhnya penyakit dan membutuhkan penanganan medis.

Pemerintah dan sekolah pun diharapkan terus menyesuaikan aktivitas pembelajaran dengan kondisi kualitas udara demi menjaga kesehatan siswa dan tenaga pendidik.

 

Editor : Eddy Hardiyanto
karhutla sesak napas Kabut Asap HSU asma