RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Banjarbaru – Kota Banjarbaru menjadi salah satu wilayah yang mendapat perhatian serius dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Selatan. Wilayah ini masuk dalam status siaga 1 penanganan karhutla, terlebih masih terdapat sejumlah titik api yang berada di kawasan ring 1 sekitar Bandara Syamsudin Noor.
Di kawasan tersebut, petugas gabungan dari BPBD, TNI dan Polri terus melakukan pemantauan dan penjagaan setiap hari guna mengantisipasi munculnya titik api baru maupun meluasnya kebakaran.
Operasional petugas pemerintah dalam penanganan karhutla telah mendapat dukungan anggaran negara. Namun, kondisi berbeda dialami para relawan pemadam kebakaran swasta yang berasal dari masyarakat.
Para relawan yang turut bergerak membantu pemadaman karhutla selama ini banyak mengandalkan dana swadaya maupun bantuan dari masyarakat.
Kondisi inilah yang kemudian mendapat perhatian dari Yayasan Mahatir Mohammad Zain. Sebanyak 20 kelompok pemadam kebakaran dan 10 kelompok emergency yang tergabung dalam satu komando besar bernama BARRES menerima bantuan operasional. Masing-masing kelompok mendapatkan bantuan uang tunai sebesar Rp2,5 juta.
Bantuan tersebut diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan operasional para relawan yang selama ini menjadi salah satu kekuatan masyarakat dalam merespons kebakaran di Banjarbaru.
Salah satu relawan yang merasakan langsung beratnya perjuangan di lapangan adalah Dani, anggota Damkar Rekanan Swasta Pribumi 07. Selama karhutla berlangsung, Ia bersama rekan-rekannya harus selalu siap ketika mendapat laporan kebakaran. Mereka bergerak menuju lokasi, berjibaku dengan panas dan asap, serta berupaya mencegah api meluas ke kawasan lain.
Namun, untuk menjalankan tugas tersebut, timnya tidak memiliki dukungan operasional seperti yang diterima petugas pemerintah. Kebutuhan BBM kendaraan operasional hingga makanan selama bertugas harus dipenuhi melalui uang swadaya para relawan.
Mereka patungan dari kantong masing-masing agar kendaraan tetap bisa bergerak dan personel tetap dapat bertahan di lapangan. “Kami selama ini swadaya sendiri. Untuk BBM dan makan, kami patungan. Yang penting ketika ada laporan kebakaran, kami bisa langsung bergerak,” ujar Dani.
Bagi Dani dan rekan-rekannya, menjadi relawan bukan sekadar membantu memadamkan api. Mereka merasa memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga lingkungan dan masyarakat di sekitar tempat tinggal mereka.
Pemilihan Banjarbaru sebagai lokasi pemberian bantuan oleh Yayasan Mahatir Mohammad Zain bukan tanpa alasan. Selain menjadi salah satu wilayah prioritas penanganan karhutla di Kalimantan Selatan, Banjarbaru memiliki kawasan strategis di sekitar Bandara Syamsudin Noor yang harus mendapat perhatian dan pengawasan secara berkelanjutan.
Bantuan Rp2,5 juta yang diberikan kepada masing-masing kelompok diharapkan dapat sedikit meringankan beban para relawan, terutama untuk kebutuhan BBM, konsumsi dan operasional pemadaman.
Bagi para relawan, bantuan tersebut bukan hanya soal nominal. Lebih dari itu, bantuan menjadi bentuk perhatian dan penghargaan terhadap perjuangan masyarakat yang secara sukarela berada di garis depan ketika karhutla terjadi.
Editor : M Oscar Fraby