RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Banjarbaru - Luas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Selatan menunjukkan tren peningkatan yang sangat tajam sepanjang musim kemarau tahun ini.
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalimantan Selatan, dalam kurun 1 Mei hingga 17 Juli 2026, luas lahan yang terdampak karhutla telah mencapai 285,02 hektare.
Perhitungan tersebut menggunakan titik awal 1 Mei 2026, mengacu pada prakiraan awal musim kemarau di sebagian besar wilayah Kalimantan Selatan yang sebelumnya dikeluarkan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Yang paling mencolok, 191,43 hektare atau sekitar 67 persen dari total luas lahan terdampak terjadi hanya dalam 17 hari pertama Juli.
Angka tersebut jauh melampaui akumulasi luas kebakaran pada dua bulan sebelumnya.
Data BPBD Kalsel mencatat, sepanjang Mei luas lahan yang terdampak karhutla masih mencapai 3,80 hektare.
Memasuki Juni, luasnya melonjak menjadi 89,79 hektare atau bertambah sekitar 86 hektare dibanding bulan sebelumnya.
Namun lonjakan terbesar terjadi pada Juli. Hingga 17 Juli saja, luas lahan yang terbakar sudah mencapai 191,43 hektare, meningkat lebih dari dua kali lipat dibanding capaian selama Juni.
Secara akumulatif, Juli menyumbang hampir dua pertiga dari total luas lahan yang terbakar sepanjang musim kemarau tahun ini.
Meningkatnya intensitas karhutla ini terjadi seiring mengeringnya lahan di berbagai wilayah Kalimantan Selatan.
Berdasarkan rekapitulasi BPBD Kalsel, Kota Banjarbaru menjadi daerah dengan luas lahan terdampak terbesar, yakni 150,2 hektare atau sekitar 52,7 persen dari total luas karhutla di Kalimantan Selatan.
Posisi kedua ditempati Kabupaten Banjar dengan luas lahan terdampak 92,9 hektare, disusul Tanah Laut seluas 27,84 hektare.
Selanjutnya Barito Kuala mencatat 8 hektare, Hulu Sungai Selatan 4,68 hektare, Hulu Sungai Utara 0,8 hektare, dan Tapin 0,6 hektare.
Kepala Pelaksana BPBD Kalimantan Selatan, Ronny Eka Saputra, mengatakan pihaknya telah mengaktifkan Posko Penanggulangan Kedaruratan Karhutla sebagai langkah meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi musim kemarau.
Menurutnya, posko tersebut menjadi pusat koordinasi seluruh unsur Satuan Tugas Penanggulangan Karhutla untuk memantau perkembangan kondisi di lapangan, menerima laporan dari daerah, sekaligus mempercepat pengambilan keputusan apabila terjadi kebakaran.
"Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan efektivitas penanganan sejak tahap pencegahan hingga pemadaman," ujarnya.
Untuk memperkuat upaya tersebut, BPBD Kalsel juga menetapkan tiga kawasan prioritas penanganan karhutla.
Kawasan prioritas pertama meliputi wilayah sekitar Bandara Internasional Syamsudin Noor, yakni Kota Banjarbaru, sebagian Kabupaten Banjar, sebagian Barito Kuala, dan sebagian Tanah Laut.
"Kawasan ini menjadi perhatian utama karena keberadaan bandara merupakan objek vital nasional yang harus terlindungi dari dampak asap akibat kebakaran hutan dan lahan," kata Ronny.
Kawasan prioritas kedua mencakup sebagian Barito Kuala, Tapin, Hulu Sungai Selatan, Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Utara hingga Tabalong.
Sementara, kawasan prioritas ketiga meliputi Tanah Laut, Tanah Bumbu, dan Kotabaru.
Ronny menegaskan pembagian kawasan tersebut bertujuan agar pengerahan personel, peralatan, dan sumber daya penanggulangan dapat dilakukan lebih efektif sesuai tingkat kerawanan masing-masing wilayah.
"Dengan strategi tersebut, setiap potensi kebakaran dapat direspons lebih cepat sehingga tidak berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas," pungkasnya.
-----
SEBARAN LUAS LAHAN TERDAMPAK
Kota Banjarbaru : 150,20 Ha (52,7%)
Kabupaten Banjar : 92,90 Ha (32,6%)
Tanah Laut : 27,84 Ha (9,8%)
Barito Kuala : 8,00 Ha
Hulu Sungai Selatan : 4,68 Ha
Hulu Sungai Utara : 0,80 Ha
Tapin : 0,60 Ha
Kabupaten/Kota lainnya: 0 Ha
TREN LUAS KARHUTLA
Mei 2026 3,80 Ha
Juni 2026 89,79 Ha
1–17 Juli 2026 191,43 Ha
Sumber: Dashboard Data Bencana BPBD Kalimantan Selatan Periode 1 Mei–17 Juli 2026.
Editor : Arif Subekti