Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Kabut Asap Karhutla Mulai Intai Banjarbaru, Kasus ISPA Merangkak Naik

Sheilla Farazela • Kamis, 9 Juli 2026 | 14:26 WIB
Ilustrasi Kasus ISPA (Getty Images/EyeEm Mobile GmbH)
Ilustrasi Kasus ISPA (Getty Images/EyeEm Mobile GmbH)

 

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Banjarbaru - Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Kota Banjarbaru mulai menunjukkan tren peningkatan dalam satu bulan terakhir. 

Kondisi ini berjalan beriringan dengan meningkatnya intensitas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah tersebut.
Dinas Kesehatan Kota Banjarbaru mencatat, grafik mingguan penderita gangguan pernapasan terus merangkak naik sejak memasuki pertengahan Juni.

"Hingga minggu epidemiologi ke-26, memang belum ada lonjakan masif yang ekstrem. Namun, ada kecenderungan tren kasus ISPA di Banjarbaru naik dalam beberapa pekan terakhir," ujar Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Banjarbaru, Dr. Siti Ningsih, Kamis (9/7).

Data surveilans menunjukkan, pada minggu ke-23 tercatat ada 588 kasus. Angka tersebut terus menanjak menjadi 609 kasus pada minggu ke-24, lalu melonjak ke angka 718 kasus pada minggu ke-25, dan bertahan di angka 710 kasus pada minggu ke-26.

Secara akumulatif, sepanjang semester pertama tahun ini, total kunjungan pasien akibat gangguan pernapasan di seluruh fasilitas kesehatan Banjarbaru telah menembus angka 17.163 kasus.

Menariknya, data Dinkes mengungkapkan fakta bahwa kelompok usia dewasa atau produktif (19–59 tahun) menjadi korban terbanyak dengan persentase mencapai 36,9 persen atau setara 6.326 kasus.

Siti menjelaskan, tingginya angka penularan pada usia produktif dipicu oleh faktor mobilitas. Kelompok ini aktif bekerja di luar ruangan sehingga lebih sering menghirup polusi, debu, dan paparan asap kebakaran lahan.

"Secara epidemiologi, jelas ada korelasi antara asap karhutla dengan risiko gangguan pernapasan. Asap tersebut membawa partikel halus berbahaya seperti PM2.5 dan PM10 yang memicu iritasi takaran parah," jelasnya.

Meski orang dewasa mendominasi secara jumlah, Dinkes mewanti-wanti bahwa kelompok balita (0-5 tahun) tetap menjadi yang paling rentan secara medis. Saat ini, kasus pada balita bertengger di urutan kedua dengan porsi 27,1 persen atau sebanyak 4.645 kasus.

Sistem pernapasan anak-anak yang belum sempurna membuat mereka sangat cepat mengalami fatalitas jika terus-menerus menghirup udara berkualitas buruk. Selain balita, lansia dan ibu hamil juga masuk dalam radar pengawasan ketat.

Mengantisipasi situasi yang kian memburuk, Dinkes Banjarbaru meminta masyarakat mulai membatasi aktivitas luar ruangan yang tidak mendesak, terutama saat kabut asap pekat mulai menyelimuti pemukiman.

Warga juga diinstruksikan untuk kembali mengenakan masker berspesifikasi khusus yang mampu menyaring partikel mikro, seperti masker jenis N95 atau KN95, bukan lagi masker kain biasa.

"Kami akan terus memantau pergerakan tren kasus ini bersama data kualitas udara. Jika batuk, sesak napas, atau nyeri dada tidak kunjung membaik, segera datang ke puskesmas terdekat," pungkasnya

Editor : Arif Subekti
#karhutla #asap #kabut #banjarbaru