RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Kotabaru – Di balik rangkaian evakuasi korban kecelakaan laut dan penemuan jasad di perairan Kotabaru, ada dedikasi para relawan yang bekerja tanpa pamrih.
Mereka menjadi garda terdepan yang setia mendampingi Tim SAR Gabungan, Basarnas, TNI AL, Satpolairud, dan BPBD dalam setiap operasi kemanusiaan.
Sabtu (20/6) malam, belasan anggota Gabungan Relawan Kotabaru (GRK) masih tampak bersiaga di RSUD Pangeran Jaya Sumitra.
Mereka menunggu hingga seluruh proses penanganan jasad Gilang, korban kapal karam yang diduga ditabrak kapal misterius di perairan Labuan Mas, selesai dan dapat dipulangkan kepada keluarga.
Di tengah dinginnya malam, para relawan tetap bertahan. Mereka duduk bersama di pelataran rumah sakit, berbincang untuk mengusir rasa kantuk setelah berjam-jam terlibat dalam proses evakuasi dan pendampingan korban.
Menariknya, beberapa kebutuhan dalam mendukung aktivitas dipenuhi secara swadaya. Seperti untuk membeli makanan dan minuman, para relawan patungan mengumpulkan uang pribadi mulai dari Rp2 ribu hingga Rp20 ribu per orang.
Aktivitas mengantar korban, mengawal proses identifikasi di rumah sakit, hingga memastikan jenazah tiba di rumah duka menjadi rutinitas yang mereka jalani dalam beberapa pekan terakhir.
Baca Juga: Kapal Nelayan Terbelah Dua di Kotabaru, Kapten Tewas dan ABK Hilang
"Selama kami masih sehat dan kami bisa membantu, kami usahakan yang terbaik. Kami di gabungan berbagai relawan di Kotabaru. Kalau soal kemanusiaan, apalagi musibah seperti ini, kami selalu siap menyumbangkan tenaga dan waktu," ujar Yasir atau Anang Yaris, perwakilan relawan.
Komitmen para relawan semakin diuji menyusul meningkatnya insiden di perairan Kotabaru sepanjang Juni 2026.
Berdasarkan data yang dihimpun Radar Banjarmasin, sedikitnya lima korban jiwa telah dievakuasi dari sejumlah lokasi, di antaranya Perairan Pulau Sebuku, Perairan Labuan Mas dalam insiden KM Mega Harapan, Perairan Senakin, kawasan Sungai Pembibitan, serta lokasi lain di wilayah perairan Kotabaru.
Meningkatnya jumlah kejadian tersebut membuat para relawan harus lebih sering turun ke lapangan. Meski demikian, semangat kemanusiaan tetap menjadi alasan utama mereka bertahan membantu setiap operasi pencarian dan evakuasi korban. (*)
Editor : M. Ramli Arisno