Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Mengenang Tasya Walina, Calon Ustazah Korban Pembantaian Satu Keluarga di Teweh Timur Barito Utara

M Fadlan Zakiri • Kamis, 23 April 2026 | 20:16 WIB
Ucapan duka untuk Tasya Walina, alumnus Pondok Mu’adalah Ala Gontor An-Najah Cindai Alus Martapura. (Tangkapan layar Instagram Pompes An-Najah Cindai Alus Martapura)
Ucapan duka untuk Tasya Walina, alumnus Pondok Mu’adalah Ala Gontor An-Najah Cindai Alus Martapura. (Tangkapan layar Instagram Pompes An-Najah Cindai Alus Martapura)

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM,  Martapura - Suasana sore di lapangan Pondok Pesantren An-Najah Cindai Alus, Martapura, berjalan seperti biasa. Sejumlah santri kecil bermain dan berlarian.

Perhatian mereka teralihkan saat seorang tamu datang. Seorang bocah bertanya polos, “Kakak polisi ya?”

Padahal, yang mereka kira polisi itu adalah wartawan yang datang untuk mencari informasi.

Pertanyaan itu muncul bukan tanpa alasan. Anak-anak itu rupanya sudah mendengar kabar duka tentang Tasya Walina—alumnus yang disebut-sebut akan kembali ke pesantren sebagai ustazah mereka.

Informasi itu mereka dapatkan dari internet dan cerita kakak-kakak senior.

Meski belum pernah bertemu langsung, nama Tasya sudah lebih dulu dikenal di kalangan santri. Sosoknya sering diceritakan sebagai pribadi yang baik dan ramah.

“Kata kakak-kakak, beliau baik,” ujar salah satu santri.

Sosok yang Belum Sempat Kembali

Tasya Walina binti Zein merupakan alumnus Pondok Mu’adalah Ala Gontor An-Najah Cindai Alus. Setelah libur Ramadan, tepatnya memasuki Syawal, ia dijadwalkan mulai masa pengabdian.

Ia direncanakan kembali ke pesantren sebagai ustazah, mengajar santri-santri kecil yang kini hanya mengenalnya dari cerita.

Namun, rencana itu tak pernah terwujud.

Sebelum kembali, Tasya pulang ke kampung halamannya di Teweh Timur, Barito Utara, untuk membantu orang tuanya.

Kepulangan itu justru menjadi yang terakhir.

Peristiwa berdarah di kawasan Timber Dana, KM 80, Minggu (19/4) sekitar pukul 16.30 WIB, merenggut nyawa Tasya bersama anggota keluarganya. Lima orang tewas dalam serangan brutal oleh orang tak dikenal.

Kabar Duka yang Mengguncang

Kabar meninggalnya Tasya datang tiba-tiba ke lingkungan pesantren.

Bila, sahabat dekat Tasya selama enam tahun, mengaku sempat tidak percaya saat pertama kali mendengarnya.

“Saya langsung coba hubungi ibunya, tapi tidak tersambung. Kami waktu itu belum tahu kalau ibunya juga ikut meninggal dunia,” ungkapnya.

Upaya mencari kepastian berlanjut hingga menghubungi kerabat di Pulau Jawa.

“Beliau hanya minta kami mendoakan Tasya,” katanya.

Malam itu, para alumnus berkumpul. Mereka melantunkan doa dan tahlil bersama.

“Jujur kami masih tidak percaya, karena Tasya baik sekali orangnya, pintar dan sangat penyayang,” ujar Bila.

Santriwati yang Dikenang dari Cerita

Di lingkungan pesantren, Tasya dikenal sebagai santriwati yang aktif dan dapat diandalkan. Ia bagian dari angkatan “The Primal Generation” (2025/2026).

Ia pernah mengemban amanah di bagian perlengkapan, posisi yang menuntut kedisiplinan dan tanggung jawab.

Selain itu, ia juga dikenal tekun menghafal Al-Qur’an. Tidak banyak bicara, tetapi konsisten.

Bagi para santri kecil, sosok Tasya memang belum sempat mereka temui. Namun, cerita tentang dirinya sudah lebih dulu hidup di antara mereka.

Sosok ustazah yang seharusnya mengajar, kini justru dikenang sebelum sempat hadir.

Cita-cita yang Tertunda

Tasya memiliki cita-cita sederhana, menjadi ustazah dan mengabdi di pesantren.

Ia sempat menunda pengabdian selama enam bulan untuk menyelesaikan urusan keluarga.

“Dia izin menunda pengabdian, katanya mau menyelesaikan urusan keluarga,” ujar Bila.

Setelah itu, ia berencana kembali dan mulai mengajar.

Namun, takdir berkata lain.

Kepergiannya meninggalkan duka mendalam, terutama bagi mereka yang sudah menantikan kehadirannya.

“Kami sangat merasa kehilangan. Tapi kami percaya Tasya sudah tenang di tempat terbaik. Semoga semua kebaikannya menjadi jalan untuknya di sisi Allah,” ucap Bila lirih. (*) 

Editor : M. Ramli Arisno
#Tasya Walina #tasya haulina #tragedi Barito Utara #pembunuhan satu keluarga #An Najah Cindai Alus