BANJARMASIN – Di tengah kepungan banjir dan hujan deras, tim Dinas Kesehatan (Dinkes) bersama BPBD Banjarmasin mengevakuasi seorang lansia pengungsi banjir ke rumah sakit, Kamis (8/1/2026) sekitar pukul 22.40 Wita.
Lansia tersebut diketahui bernama Suriansyah (69), pengungsi di Musala Jalan Sungai Lulut Dalam, Banjarmasin Timur, yang telah puluhan hari terdampak banjir.
Kondisi kesehatannya menurun, dan membutuhkan penanganan medis segera.
Baca Juga: Lok Baintan Terisolir, Banjir Meluas di Kabupaten Banjar
Di bawah guyuran hujan, petugas harus ekstra hati-hati menggotong Suriansyah menuju perahu yang telah disiagakan.
Akses ke ambulans tidak memungkinkan, karena genangan banjir masih tinggi di kawasan tersebut.
Ketua RT 8 setempat, Muaz mengatakan evakuasi dilakukan karena kondisi kesehatan Suriansyah terus menurun.
Baca Juga: Banjir Rendam Banjarbaru, Kemensos Kirim Bantuan dan Buffer Stock Logistik
“Kakinya bengkak, lecet dan kemungkinan lambungnya mengalami masalah. Untuk detail tim Dinkes lebih tahu. Kita bersama BPBD memang ronda, salah satunya mengawasi beliau,” ujarnya.
Muaz bersyukur proses evakuasi berjalan lancar berkat kerja sama relawan, petugas kesehatan, dan BPBD.
Meski demikian, proses evakuasi sempat diwarnai negosiasi alot dengan pihak keluarga.
Baca Juga: 1.000 Paket Sembako dari Gibran untuk Warga Terdampak Banjir Balangan
“Syukur bisa kita beri pemahaman, kondisinya dinilai tidak bisa ditunda. Kartu keluarganya juga hilang, semoga pemerintah bisa membantu meringankan urusan,” harap Muaz.
Selain Suriansyah, masih ada satu lansia lain yang bertahan di rumah dengan kondisi pikun.
Ini dinilai tidak aman jika ditempatkan jauh dari keluarga di lokasi pengungsian.
“Kita mohon doa, semoga terus sehat, tidak ada lagi yang sakit dan mengungsi lebih lama,” ucap Muaz.
Hasil pendataan RT bersama BPBD mencatat sebanyak 177 kepala keluarga atau 453 jiwa terdampak banjir di wilayah tersebut.
Sementara jumlah pengungsi yang berada di musala mencapai sekitar 35 jiwa secara bergantian.
“Warga kerap bergantian mengungsi, tapi yang kita utamakan lansia dan bayi,” sebutnya.
Menurut Muaz, kapasitas pengungsian masih terbatas dan perlu penambahan lokasi jika kondisi memburuk.
Ia juga mengungkapkan kekecewaan warga, karena banjir yang diprediksi surut justru kembali bertahan.
“Kita rasa malam Rabu sudah terakhir, ternyata di luar dugaan. Posisi demikian masih tergolong surut, bukan pasang. Biasanya tengah malam bisa lebih tinggi lagi,” bandingnya.
Muaz menyebut jika air kembali meninggi, warga telah sepakat untuk mengungsi ke lokasi yang lebih aman.
“Andai itu terjadi, maka kita sudah sepakat di Masjid Baiturrahman lah tempat terakhir kami mengungsi seperti yang sudah berlalu,” pungkasnya.
Editor : Eddy Hardiyanto