KOTABARU- Bumi Saijaan benar-benar diuji sepanjang tahun ini.
Belum hilang trauma warga atas rentetan kebakaran hebat yang silih berganti menghanguskan pemukiman di berbagai pelosok, si jago merah kembali mengamuk.
Kali ini, Desa Berangas, Kecamatan Pulau Laut Timur, menjadi korbannya, Kamis (18/12).
Musibah di Desa Berangas Selasa malam (16/12) menambah daftar panjang rapor merah bencana kebakaran di Kotabaru.
Hanya berselang sepekan sebelumnya, api lebih dulu melumat 24 unit rumah di Desa Geronggang. Catatan ini kian mempertegas bahwa Kotabaru sedang dalam status darurat ancaman kebakaran pemukiman.
Merespons kondisi yang kian mengkhawatirkan, Wakil Bupati Kotabaru Syairi Mukhlis turun langsung meninjau lokasi kebakaran di RT 03 Desa Berangas, Rabu (17/12) siang.
Di tengah puing-puing kayu yang masih menghitam, Syairi menegaskan bahwa pemerintah tidak boleh lagi hanya sekadar memadamkan api, tapi harus melakukan perombakan sistem proteksi dini.
“Musibah kebakaran tahun ini sangat intens. Minggu kemarin di Geronggang, tadi malam di Berangas. Ini menjadi perhatian serius. Kehadiran kami bukan sekadar seremonial, tapi untuk memastikan pemulihan berjalan cepat,” tegas Syairi.
Jarak yang jauh dan akses jalan yang menantang kerap membuat armada Damkar kabupaten terlambat sampai ke titik nol. Menyadari kelemahan tersebut, Syairi melontarkan janji strategis.
“Evaluasi kami jelas, kita kekurangan armada di tingkat akar rumput. Insya Allah, mulai 2026 kita targetkan pengadaan satu kecamatan satu alat pemadam lengkap. Kita siapkan agar kecamatan punya taring untuk memadamkan api secara mandiri sebelum bantuan dari kabupaten tiba,” tambahnya.
Dalam kesempatan itu, Pemkab Kotabaru melalui koordinasi lintas OPD (Dinsos, BPBD, dan Disperkimtan) menyalurkan bantuan logistik dan uang tunai sebesar Rp 50 juta per unit rumah untuk pembangunan kembali hunian warga.
Plt Camat Pulau Laut Timur, Leilaneranti Arsyana, melaporkan bahwa dalam musibah di Berangas, sebanyak 9 rumah terdampak.
"Tujuh rumah rata dengan tanah, satu rusak berat, dan satu terpaksa dirobohkan warga untuk memutus penjalaran api agar tidak terjadi bencana yang lebih luas," ungkapnya.
Editor : Arif Subekti