BANJARMASIN – Ini masih tentang perkelahian berdarah di SMPN 35 Banjarmasin yang menewaskan tiga pemuda.
Hasil penyelidikan kepolisian, peristiwa pada Ahad (29/6) dini hari ini bermula dari pesta minuman keras yang berubah menjadi cekcok mematikan.
Pertanyaan besar muncul: bagaimana bisa lingkungan sekolah menjadi lokasi acara mabuk-mabukan?
Kepala sekolah, Syahidah tidak memungkiri SMPN 35 memiliki banyak keterbatasan.
SMPN 35 di Kompleks Bawang Merah, Sungai Andai, Banjarmasin Utara, baru berdiri di tahun 2016. Lahan sekolah seluas satu hektare itu hibah dari pengembang perumahan, dibangun atas permintaan masyarakat.
Sejak awal berdiri, sekolah ini tidak memiliki gerbang dan pagar yang memadai.
Beberapa tahun lalu, Dinas Pendidikan membangun pagar sepanjang 70 meter di bagian depan sekolah, bagian belakang tetap terbuka karena keterbatasan anggaran.
"Kami diminta memilih, gerbang dibangun di depan atau di belakang. Karena di depan ada aset penting, yaitu ruang multimedia, kami pilih bagian depan," jelas Syahidah, Senin (30/6).
Kondisi ini membuat lingkungan sekolah rentan dimasuki siapa saja.
Membangun gerbang dengan dana BOS juga tidak memungkinkan. Anggarannya terbatas, hanya sekitar Rp5 juta untuk perbaikan infrastruktur per tahun.
Pihak sekolah memilih memanfaatkan dana itu untuk membuat pagar-pagar teralis di depan beberapa ruangan.
Selain pagar, SMPN 35 juga tidak memiliki petugas keamanan. Sebagai gantinya, dua penjaga kompleks perumahan diminta membantu menjaga area sekolah secara bergantian.
Salah seorang penjaga, Feri membenarkan halaman sekolah kerap dijadikan tempat kumpul para pemuda dari luar kampung.
Ia mengaku beberapa kali mengusir mereka, tetapi tidak selalu bisa mengawasi setiap saat.
"Malam itu kebetulan saya sedang pergi ke rumah kerabat untuk acara keluarga, jadi tidak ada yang berjaga," katanya.
Keterbatasan ini menjadi celah yang dimanfaatkan untuk menjadikan lingkungan sekolah sebagai tempat nongkrong, bahkan pesta miras.
Minimnya fasilitas di SMPN 35, terutama tidak adanya pagar di bagian belakang, menjadi sorotan pascatragedi berdarah yang merenggut tiga nyawa.
Kepala Bidang Pembinaan SMP Dinas Pendidikan (Disdik) Banjarmasin, Yul Poliatma mengakui kondisi ini berpotensi disalahgunakan oleh pihak-pihak tak bertanggung jawab.
"Pantauan kami, bagian belakang sekolah memang tidak memiliki gerbang atau pagar. Hal ini memudahkan sekelompok pemuda untuk masuk, nongkrong, bahkan mabuk-mabukan," ujar Yul.
Yul menyatakan, pemagaran sekolah menjadi kebutuhan mendesak untuk menjamin keamanan sekolah, siswa, dan lingkungannya. "Kami menyadari pentingnya pemagaran. Kami berjanji akan memasukkan pembangunan pagar ke dalam perencanaan tahun ini," tambahnya.
Namun, ia juga mengakui, pemagaran mungkin baru bisa dikerjakan tahun depan. Penyebabnya, keterbatasan anggaran dan proses perencanaan yang membutuhkan waktu.
"Untuk anggaran, kami belum bisa memastikan jumlahnya karena harus dihitung berdasarkan luas lahan dan desain. Kami juga perlu melibatkan konsultan untuk perhitungan yang lebih akurat," pungkas Yul.
Terpisah, Wali Kota Banjarmasin, Muhammad Yamin berjanji akan memperketat pengawasan di sekitar sekolah.
Ia menginstruksikan Satpol PP, Babinsa, dan Bhabinkamtibmas untuk meningkatkan patroli malam hari di lokasi rawan.
"Kita akan evaluasi. Penerangan juga akan ditingkatkan agar kawasan sekolah lebih aman," ujar Yamin, Selasa (1/7).
Editor: Syarafuddin
Editor : Arief