Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Warung Nasi Padang di Banjarbaru Jadi Korban Penipuan Bukti Transfer Palsu

Muhammad Helmi • Sabtu, 22 Oktober 2022 | 14:44 WIB
Photo
Photo
BANJARBARU - Modus penipuan berkedok bukti transfer palsu mulai meresahkan. Kali ini korbannya sebuah warung nasi padang di Kota Banjarbaru.

Rumah makan padang ini berada di Jalan RO Ulin Kecamatan Landasan Ulin. Pemiliknya adalah Sasma Yenti, 39 tahun.

Penipuan terjadi Kamis (20/10). Pukul 13.17 Wita, terduga penipu memesan nasi kotak kepada korban lewat pesan WhatsApp. Tak direspons, ia mengirim pesan beruntun, bahkan menelepon.

"Saat itu saya memang tidak mendengar handphone berbunyi," kata Yenti kepada Radar Banjarmasin, kemarin (21/10) siang.

Singkat cerita, belasan nasi kotak dipesan. Yenti pun bergegas menyiapkan. Sedikit pun ia tidak curiga.

"Namanya juga jualan, kalau ada konsumen memesan, ya harus dilayani," tambahnya.

Penipu kemudian meminta nomor rekening korban. Tak lama, tangkapan layar transfer mobile banking dikirimkan. Bukti sudah dibayar.

Harga 19 nasi kotak padang itu Rp494 ribu, tapi ada kekeliruan, ditransfer Rp994 ribu.

Pelaku lantas meminta korban mengembalikan lebihan Rp500 ribu. Katanya, dititipkan saja pada ojek online (ojol) yang nanti datang mengambil pesanan.

"Alasannya sedang ada tamu di panti asuhan, tak bisa ditinggalkan. Lebihan uangnya buat dibelikan barang-barang lain sama si ojol," ujarnya.

Sampai sini, Yenti belum curiga. Dia bahkan menyanggupi permintaan pelaku untuk mengirimkan foto penyerahan nasi kotak bersama uang tunai sebesar setengah juta rupiah kepada si ojol.

Belum puas, masih pada hari yang sama, penipu kembali memesan 16 nasi kotak.

Modusnya juga sama. Pukul 16.02 Wita, resi bodong dengan nominal Rp1.416.000 dikirimkan. Kali ini lebihan satu juta rupiah.
Syukur, kali ini Yenti diselamatkan oleh ojol yang hendak mengambil pesanan itu.

Sebelum membawa belasan nasi kotak dan uang tunai Rp1 juta tersebut, ojol ini bertanya kepada Yenti, apakah uangnya memang benar-benar sudah masuk ke rekeningnya.

"Ditanya begitu, saya baru merasa ada yang janggal. Karena memang belum ada masuk SMS banking," ujarnya.

Menyadari telah terjadi penipuan, lewat aplikasi si ojol membatalkan pemesanan tersebut.

Dia meminta Yenti untuk lebih berhati-hati. Bahwa bukti transfer bisa diedit dengan mudah. "Seandainya tak diberitahu sama pengendara ojol kedua, mungkin uang dan nasi kotaknya sudah saya serahkan," katanya.

Mengetahui pesanannya dibatalkan, penipu ini berkali-kali menelepon. Korban pun meminta penjelasan, mengapa tak ada uang yang masuk ke rekeningnya.

"Ini ada masalah di banknya, uang saya sudah tidak ada. Tolonglah jangan bikin saya malu dengan para tamu. Saya juga tidak mau mencari masalah," ujarnya lewat sebuah pesan suara.

Dari pesan suara ini, terdengar jelas bahwa ia seorang laki-laki.

Yenti pun meminta ia datang sendiri ke rumah makannya untuk mengambil pesanannya. Mudah ditebak, sampai hari ini ia tak pernah muncul. Nomornya juga sudah diblokir.

Dari keterangan kontak WhatsApp, pemesan atas nama M Ilhamsyah, tanpa foto profil. Korban sangsi itu nama asli.

Ketimbang 16 nasi kotak itu menjadi basi, Yenti lantas menyumbangkannya ke rumah anak yatim di daerahnya. "Sayang kan kalau dibuang," ujarnya.

Berjualan nasi padang sejak tahun 2013, ini pengalaman pertamanya ditipu dengan modus resi bodong. "Dahulu juga ada, tapi modusnya cuma mengaku ketinggalan dompet. Paling rugi sebungkus dua bungkus," tuturnya.

Lantas mengapa tak melapor ke kantor polisi? Yenti tampak enggan.

Dia mengaku hanya berdoa agar si penipu insaf. Kalau tak bertobat, kelak semoga ulahnya menuai ganjaran yang setimpal.

"Biarlah rezeki saya buat saya, rezeki dia buat dia," tutup perempuan perantauan itu. (mr-157/gr/fud) Editor : Muhammad Helmi
#Penipuan #banjarbaru