Aurellia Shafitri Suryansah: Dokter Muda Penuh Karya, Jadi Duta Inspirasi Indonesia 2025

Maulana Radar Banjarmasin • Dipublikasikan Sabtu, 15 Agustus 2026 | 16:08 WIB
Aurellia Shafitri Suryansah
Aurellia Shafitri Suryansah

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, BANJARMASIN – Menjadi dokter adalah cita-cita yang sejak kecil tumbuh dalam diri Aurellia Shafitri Suryansah. Namun, perjalanan alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat (ULM) angkatan 2021 ini membuktikan bahwa pengabdian di dunia kesehatan tidak berhenti di ruang praktik.

Di tengah kesibukan sebagai dokter muda, Aurel – begitu ia akrab disapa – menemukan panggilan lain yang tak kalah penting. penelitian ilmiah.

Ketekunan Aurel berbuah manis ketika ia meraih penghargaan Best Original Research dalam ajang Palangka Raya Cardiovascular Update 2026. Sebelumnya, ia juga menyabet Juara 2 Lomba Poster Ilmiah Nasional Vagus Competition 2025 di Universitas Sebelas Maret. “Alhamdulillah, hobi penelitian saya akhirnya berbuah manis. Ini menjadi motivasi untuk terus serius mengembangkan diri,” ujarnya.

Bagi Aurel, setiap presentasi di hadapan profesor dan dokter spesialis jantung adalah ujian keberanian. “Deg-degan itu pasti, tapi saya belajar menyerahkan semuanya kepada Allah SWT,” tuturnya.

Perjalanan Aurel tidak selalu mulus. Sejak kecil ia dikenal aktif, bahkan sempat disalahpahami sebagai anak dengan autisme dan mengalami perundungan. Namun pengalaman itu justru membentuk ketangguhan. “Setiap tantangan adalah proses membangun resiliensi,” katanya.

Ia menamatkan SD di usia 10 tahun, meraih beasiswa penuh di SMA Al Mazaya, dan menjadi salah satu lulusan terbaik. Jalur prestasi membawanya ke dunia kedokteran, di mana ia aktif sebagai asisten dosen, delegasi Indonesian Medical Student Exchange Programme, hingga pembicara pengembangan diri.

Selain dunia medis, Aurel memiliki kebiasaan yang tak pernah ditinggalkan. yakni membaca. Sejak usia lima tahun ia sudah mencoba membaca buku milik ayahnya. Kini, ia membiasakan diri membaca minimal 10 menit setiap hari. “Buku mempertajam cara berpikir dan menunjang kualitas penelitian,” ujarnya.

Kecintaan pada literasi juga ia sebarkan melalui peran sebagai Duta Inspirasi Indonesia 2025. Baginya, amanah itu adalah ruang untuk mengajak generasi muda berani bermimpi besar. “Saya ingin mengajak teman-teman, khususnya generasi muda, untuk mencintai membaca buku. Menyebarkan virus-virus positif,” ujarnya.

Menjadi dokter, menurut Aurel, bukan hanya soal ilmu, tetapi juga soal empati. “Pertanyaannya bukan lagi seberapa lelah kita, tetapi bagaimana tetap hormat dan ramah kepada pasien meski baru saja jaga 48 jam,” ungkapnya.

Ia percaya perempuan memiliki peran penting dalam dunia kesehatan. “Perempuan bisa memadukan logika dan rasa, menjembatani informasi medis yang kaku menjadi edukasi yang mudah diterima masyarakat,” jelasnya.

Di tengah kesibukan, Aurel tetap menjaga pola makan seimbang, olahraga rutin, dan istirahat cukup. Untuk kesehatan mental, ia menyediakan ruang refleksi diri. “Mengakui keterbatasan bukan tanda kelemahan, justru tanda kita memahami diri sendiri,” katanya.

Sosok sang ibu, drg. Kristina Dewi, menjadi sumber kekuatan. “Dari beliau saya belajar konsistensi, resiliensi, dan selalu melibatkan Allah dalam setiap langkah,” tuturnya.

Ke depan, Aurel berencana melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi, mengembangkan penelitian, dan tetap hadir di tengah masyarakat. “Saya ingin ilmu saya bukan hanya bermanfaat di rumah sakit, tetapi juga bisa memberikan manfaat yang lebih luas bagi lingkungan," pungkasnya. (lan/mof)

Editor : Arief
for her Perempuan berita Banjarmasin dokter