Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Maulidea: Pantang Menyerah, Dari Insecure Menuju Percaya Diri

Jamaluddin Radar Banjarmasin • Sabtu, 16 Mei 2026 | 21:56 WIB
Maulidea
Maulidea

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, BARABAI – Sebagai anak pertama dan satu-satunya perempuan di antara dua adik laki-laki, Maulidea mengaku posisi tersebut membentuk dirinya menjadi pribadi yang lebih mandiri, bertanggung jawab, dan mampu menjadi role model di lingkungan keluarga.

Sosok yang akrab disapa Dea itu dikenal sebagai pribadi extrovert, easy going, dan gemar mengeksplorasi hal-hal baru, khususnya di dunia kreatif. Baginya, bertemu banyak orang, mencoba pengalaman baru, hingga mengekspresikan diri melalui kreativitas menjadi bagian yang menyenangkan dalam hidupnya.

“Saya senang bertemu banyak orang, mencoba pengalaman baru, serta mengekspresikan diri melalui berbagai bentuk kreativitas,” ujarnya.

Di balik pembawaannya yang santai dan cheerful, Dea juga dikenal sebagai pribadi yang pantang menyerah terhadap hal-hal yang diperjuangkannya. Ia percaya proses berkembang hadir dari keberanian untuk keluar dari zona nyaman dan terus belajar menjadi versi terbaik diri sendiri.

Mahasiswi Universitas Terbuka jurusan PGSD itu memiliki circle pertemanan yang cukup luas karena mudah berbaur dan menikmati bersosialisasi dengan banyak orang. Ia juga senang berada di lingkungan yang suportif dan positif agar bisa berkembang bersama.

Dalam kesehariannya, Dea memiliki ketertarikan besar pada hobi yang berkaitan dengan kreativitas, seperti sketching dan crafting handmade. Menurutnya, aktivitas kreatif menjadi salah satu cara untuk mengekspresikan diri sekaligus menuangkan ide-ide yang dimiliki.

“Saya memiliki ketertarikan pada hobi yang berhubungan dengan kreativitas, seperti sketching dan crafting handmade, karena bagi saya hal-hal kreatif menjadi salah satu cara untuk mengekspresikan diri dan menuangkan ide yang saya miliki,” tambahnya.

Dea juga senang belajar dan mencari pengalaman baru. Baginya, setiap pengalaman selalu membawa pelajaran dan sudut pandang berbeda dalam proses berkembang. “Saya memilih hobi tersebut karena dapat membuat saya merasa lebih enjoy, rileks, sekaligus produktif di waktu yang bersamaan. Dari hal-hal sederhana seperti menggambar atau membuat handmade craft, saya belajar tentang kesabaran, detail, dan proses dalam menciptakan sesuatu,” katanya.

Untuk menyeimbangkan antara hobi dan aktivitas sehari-hari, Dea terbiasa menyusun prioritas dan mengatur waktu sebaik mungkin. Baginya, hobi bukan menjadi penghalang untuk tetap produktif, melainkan healing space agar pikiran tetap fresh dan suasana hati tetap baik dalam menjalani tanggung jawab lainnya.

Ia pun membagikan pengalaman manis yang paling berkesan dalam hidupnya, yakni ketika berhasil berada di titik yang dulu sempat ia ragukan sendiri. Kesempatan bertemu banyak orang baru, berkembang, hingga dipercaya membawa nama daerah menjadi hal yang sangat disyukurinya. “Dari sana saya belajar bahwa every process has its own meaning, dan semua usaha yang dijalani dengan sungguh-sungguh pasti akan membawa pelajaran berharga,” ungkapnya.

Namun di balik itu, Dea juga pernah berada di fase overthinking dan merasa not good enough terhadap diri sendiri. Ia mengaku sempat merasa tertinggal ketika melihat pencapaian orang lain hingga terlalu sering membandingkan perjalanan hidupnya dengan orang lain.

“Dari fase itu, saya belajar bahwa setiap orang memiliki timeline dan prosesnya masing-masing. Tidak semua hal harus berjalan cepat, karena growth takes time dan setiap langkah kecil tetap berarti selama kita tidak menyerah pada diri sendiri,” tuturnya.

Baginya, pengalaman manis maupun pahit sama-sama menjadi bagian penting yang membentuk dirinya hingga berada di titik sekarang. Dari semua proses tersebut, ia belajar menjadi pribadi yang lebih kuat, dewasa, dan lebih menghargai perjalanan hidup.

Tak hanya itu, Dea juga mengungkapkan bahwa menjadi Galuh Hulu Sungai Tengah merupakan salah satu capaian yang telah lama diimpikannya. Ketertarikannya mengikuti ajang tersebut berawal dari kecintaannya pada dunia kebudayaan dan keinginan untuk terus mengeksplorasi hal baru.

“Saya tertarik mengikuti pemilihan ini karena dunia kebudayaan dan duta sangat relate dengan diri saya yang suka explore hal baru, bertemu banyak orang, serta belajar dari lingkungan dan new things,” imbuhnya.

Menurutnya, ajang Galuh bukan sekadar tentang penampilan, melainkan bagaimana seseorang membawa diri, berkomunikasi, dan memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitar. Motivasi terbesar Dea mengikuti pemilihan Galuh Hulu Sungai Tengah adalah untuk membanggakan orang tua sekaligus membuktikan kepada dirinya sendiri bahwa ia mampu berkembang menjadi pribadi yang lebih baik.

Ia mengaku telah mulai mempersiapkan diri sejak 2023. Namun kala itu, rasa insecure dan kurang percaya diri masih sering menghampirinya. Karena itu, ia memilih untuk terus belajar dan memperbaiki diri sebelum akhirnya memberanikan diri mendaftar pada 2024.

“Bagi saya, proses tersebut sangat berarti karena saya belajar bahwa confidence also takes process. Kita tidak harus langsung sempurna, tetapi bagaimana kita mau terus grow, mencoba, and confident pada diri sendiri sedikit demi sedikit sampai akhirnya bisa berada di titik sekarang,” jelasnya.

Dea juga menyoroti masih adanya persepsi masyarakat yang hanya melihat sisi luar seorang Galuh atau Duta. Padahal menurutnya, ada proses belajar, tanggung jawab, dan peran besar yang dijalankan di balik itu semua.

“Galuh bukan hanya tentang appearance, tetapi juga tentang attitude, communication, public speaking, wawasan budaya, dan bagaimana seseorang bisa membawa pengaruh positif di lingkungannya,” tegasnya.

Ia menilai seorang Galuh harus mampu menjadi representasi daerah, menjaga etika, membangun relasi, hingga terlibat dalam berbagai kegiatan sosial dan kebudayaan. Bahkan, seorang Galuh juga dituntut kuat secara mental, cara berpikir, hingga sikap dalam menghadapi tekanan dan penilaian orang lain.

“Saya percaya value seorang Galuh tidak diukur dari seberapa sering tampil di depan publik, tetapi dari bagaimana ia membawa dirinya, menyampaikan pesan, dan memberi impact kepada masyarakat, especially for younger generation,” pungkasnya.

Editor: Oscar Fraby

Editor : Arief
#sosok inspiratif #Perempuan