Tabungan Masa Pensiun Luluh Dilalap Api, Begini Kisah Bambang, Guru yang Kebunnya Terbakar

Sheilla Farazela • Dipublikasikan Senin, 21 September 2026 | 20:02 WIB
HANGUS: Bambang, guru SDN 2 Landasan Ulin Utara memperlihatkan kebunnya yang hangus terbakar. 
(Foto: SHEILLA FARAZELA/RADAR BANJARMASIN)
HANGUS: Bambang, guru SDN 2 Landasan Ulin Utara memperlihatkan kebunnya yang hangus terbakar.  (Foto: SHEILLA FARAZELA/RADAR BANJARMASIN) 

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Bertahun-tahun Bambang merawat kebun buah sebagai bekal masa pensiun. Kini, harapannya tinggal menyisakan batang-batang pohon yang menghitam dilalap api.

        ****

Asap tipis masih membubung dari tanah gambut yang menghitam di Jalan Sempati Tegal Arum, Kelurahan Syamsudin Noor, Kecamatan Landasan Ulin. 

Di tengah sisa jelaga dan aroma hangus yang masih menyengat, Bambang berdiri memandangi kebunnya yang hangus. Tatapannya kosong. Wajahnya lesu.

Kebun yang selama bertahun-tahun dirawatnya sebagai investasi untuk masa pensiun kini nyaris tak bersisa. Puluhan pohon rambutan dan jeruk yang tumbuh di atas lahan itu luluh dilalap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Bambang yang sehari-hari mengabdi sebagai guru harus menerima kenyataan pahit. Dari sekitar 50 hingga 100 pohon yang pernah ditanamnya, hanya sebagian kecil yang berhasil diselamatkan.

Padahal, kebun itu bukan sekadar lahan baginya. Di sanalah ia menaruh harapan untuk menikmati masa tua setelah bertahun-tahun mengajar. 

Setiap pohon dirawat dengan telaten. Setiap sudut lahan dibersihkan agar tanaman buah yang ditanamnya dapat tumbuh dengan baik.

Ancaman karhutla sebenarnya bukan hal baru bagi guru di SDN 2 Landasan Ulin Utara tersebut. 

Lahan semak belukar di sebelah kebunnya yang ditelantarkan pemiliknya beberapa kali menjadi sumber kekhawatiran. Saat musim kemarau tiba, semak dan rerumputan kering berubah menjadi bahan bakar yang mudah dilalap api.

Karena itu, Bambang tak tinggal diam. Rutinitasnya setiap hari terbagi antara ruang kelas dan kebun. Sebelum berangkat mengajar pada pagi hari, ia menyempatkan diri menyiram lahan. Begitu tugas mengajar selesai pada sore hari, ia kembali mengecek kondisi kebun.

Selang air menjadi bagian dari kesehariannya. Air disiramkan ke tanah dan area sekitar kebun untuk mengantisipasi agar bara maupun titik api tidak menjalar ketika dirinya harus meninggalkan lahan untuk mengajar.

Namun, upaya itu akhirnya tak mampu membendung kobaran api

TERBAKAR: Bambang, guru SDN 2 Landasan Ulin Utara saat berada di kebunnya yang hangus terbakar. 
(Foto: SHEILLA FARAZELA/RADAR BANJARMASIN)
TERBAKAR: Bambang, guru SDN 2 Landasan Ulin Utara saat berada di kebunnya yang hangus terbakar.  (Foto: SHEILLA FARAZELA/RADAR BANJARMASIN) 

 

Kerja Keras Bertahun-tahun Ikut Terbakar 

Api muncul dari area yang berjarak sekitar 50 meter dari lahannya. Dengan cepat, kobaran menjalar dan mengepung kebun Bambang.

Bambang berusaha memadamkan api seorang diri dengan air seadanya yang diambil dari saluran irigasi di pinggir Jalan Sempati. Namun, luasnya area yang terbakar membuat perjuangannya kewalahan.

Api kemudian merambat hingga ke bawah pondok dan membakar sebagian besar tanaman buah yang selama ini dirawatnya.

Dalam hitungan jam, kebun yang menjadi bagian dari rencana masa pensiunnya berubah menjadi hamparan hitam. Batang-batang pohon yang sebelumnya hijau kini berdiri legam, sebagian hangus terbakar.

Kerugian materi tentu tak terhindarkan. Tetapi bagi Bambang, yang paling berat bukan sekadar menghitung nilai tanaman yang musnah. Ada kerja keras bertahun-tahun yang ikut terbakar bersama kobaran api.

Kebun yang setiap hari dibersihkannya kini hanya menyisakan jejak kebakaran.

Musibah tersebut juga membuat Bambang kembali memikirkan kondisi lahan-lahan kosong di sekitar kebunnya. Ia berharap para pemilik lahan tidak membiarkan tanah mereka terbengkalai, terutama ketika memasuki musim kemarau.

Menurutnya, lahan yang tidak terawat bukan hanya merugikan pemiliknya, tetapi juga dapat mengancam kebun dan permukiman warga di sekitarnya.

Bambang berharap lahan-lahan tidur tersebut bisa dimanfaatkan atau disewakan sehingga tetap terawat.

 

Baginya, merawat lahan bukan hanya soal menjaga tanaman milik sendiri. Di tengah ancaman karhutla yang datang berulang setiap musim kemarau, kepedulian terhadap lahan sekitar juga menjadi bentuk perlindungan bagi tetangga.

Kini, di antara pohon-pohon yang hangus, Bambang hanya bisa memandangi sisa kebun yang pernah menjadi harapan untuk masa tuanya.

Harapan itu belum sepenuhnya padam. Namun, ia tahu, untuk kembali menghijaukan lahan tersebut, dibutuhkan waktu, tenaga, dan kesabaran seperti yang telah dilakukannya bertahun-tahun sebelumnya. (al/ris) 

Editor : Arief M
Berita Banjarbaru karhutla Guru