Hadapi Debu dan Asap! Begini Perjuangan Para Penyapu Jalanan Kota Banjarmasin di Musim Kemarau

Zulvan Rahmatan • Dipublikasikan Sabtu, 29 Agustus 2026 | 13:54 WIB
PERIH MATA: Ujian penyapu jalan di Banjarmasin bertambah saat kemarau. Selain menghadapi debu yang sudah pasti, kabut asap memperparah tantangan mereka saat bekerja. (Foto: Zulvan Rahmatan/Radar Banjarmasin).
PERIH MATA: Ujian penyapu jalan di Banjarmasin bertambah saat kemarau. Selain menghadapi debu yang sudah pasti, kabut asap memperparah tantangan mereka saat bekerja. (Foto: Zulvan Rahmatan/Radar Banjarmasin).

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Kabut asap menambah berat pekerjaan para penyapu jalan Banjarmasin. Di balik sapu yang terus bergerak, ada perjuangan melawan debu, asap, dan mata yang perih.

       ****

Pagi belum sepenuhnya terang ketika para petugas kebersihan Kota Banjarmasin sudah mulai beraktivitas. Di saat sebagian warga masih berada di dalam rumah, mereka telah berada di ruang terbuka. Sapu di tangan, langkah menyusuri jalan, membersihkan debu dan kotoran yang berserakan.

Namun, belakangan pekerjaan itu menghadapi tantangan tambahan.

Kabut asap mulai menyelimuti sejumlah kawasan di Banjarmasin. Udara yang biasanya hanya dipenuhi debu jalanan, kini terasa berbeda. Mata lebih cepat perih, jarak pandang terkadang terganggu, dan masker menjadi perlengkapan yang semakin penting.

Kondisi tersebut dirasakan Lisna (31), penyapu taman di kawasan Taman Kamboja Banjarmasin. Ia mengaku kabut asap membuat aktivitasnya bekerja di ruang terbuka menjadi kurang nyaman. “Mata perih saat bekerja,” ujarnya, Kamis (27/8).

Tak ingin terlalu lama terpapar kabut asap, Lisna bersama rekan-rekannya kini harus menyesuaikan waktu bekerja. Biasanya, mereka mulai menyapu sekitar pukul 07.00 atau 08.00 Wita. Namun, ketika kabut masih cukup terasa, pekerjaan ditunda hingga kondisi sedikit membaik. “Sekarang paling agak siangan saja, jam 9. Biasanya jam 7 atau jam 8,” katanya.

Perubahan kecil dalam jadwal itu menjadi cara mereka mengurangi paparan kabut asap. Sebab, pekerjaan sebagai petugas kebersihan otomatis membuat mereka setiap hari berhadapan dengan debu dan partikel jalanan. “Debu tambahannya kabut lagi,” ucap Lisna.

Meski kondisi udara kurang bersahabat, pekerjaan tetap harus dilakukan. Jalan dan taman kota tidak bisa menunggu terlalu lama untuk dibersihkan.

Lisna mengatakan petugas juga telah mendapat imbauan dari dinas untuk menggunakan masker selama bekerja.

Empat Jam di Pinggir Jalan

Cerita sedikit berbeda datang dari Rizki (28), petugas penyapu jalan di kawasan Jalan Brigjen Hasan Basry atau Kayutangi. Ia bekerja lebih pagi. Setiap hari, aktivitasnya dimulai sekitar pukul 04.00, dan berakhir pukul 08.00 Wita.

Menurut Rizki, kabut asap di kawasan tempatnya bekerja belum terlalu mengganggu. “Kalau mata sudah biasa. Lebih parah lagi malah debunya di jalan,” terangnya.

Empat jam berada di pinggir jalan membuat debu dan partikel kecil menjadi tantangan yang lebih terasa baginya. Meski begitu, ia tetap mengenakan masker saat bekerja.

Kabut yang muncul pada pagi hari di Kayutangi, menurut Rizki, juga belum terlalu pekat. “Kalau di daerah Kayutangi tempat aku kerja tidak terlalu mencolok. Kalau pagi subuh memang kabut, tapi rasanya lebih seperti embun kemarau,” ungkapnya.

Perbedaan pengalaman Lisna dan Rizki menunjukkan bahwa kondisi kabut asap tidak selalu dirasakan sama di setiap kawasan. Namun, keduanya memiliki satu kesamaan: pekerjaan tetap harus berjalan.

Jalan Tetap Harus Bersih

Sekretaris Daerah Kota Banjarmasin, Ichrom Muftezar mengingatkan para petugas kebersihan agar tidak mengabaikan kesehatan. Terutama mereka yang bekerja sejak malam, dini hari, hingga pagi hari. “Jadi pada saat kalian bekerja, ada yang bekerja di tengah malam, ada yang bekerja subuh, ada yang bekerja pagi, tolong pakai masker,” tegasnya.

Bagi Tezar, menjaga kesehatan petugas bukan perkara sepele. Mereka merupakan bagian penting dalam memastikan wajah Kota Banjarmasin tetap bersih setiap hari. Jika seorang petugas tidak dapat bekerja karena sakit, dampaknya bisa langsung terlihat di lapangan. “Kalian harus sehat. Kalau sakit, maka akan ada satu ruas jalan mungkin dalam radius 100 sampai 150 meter yang tidak tersapu pada hari itu,” katanya.(van/az/dye)

Editor : Arief M
perjuangan sosok inspiratif berita Banjarmasin Sampah pekerjaan