RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) semakin mengkhawatirkan. Kobaran api dan kepulan asap bahkan mulai mengancam permukiman warga.
****
Pada pagi hari, situasi sempat membaik. Tiupan angin kencang membuat kabut asap yang menyelimuti kawasan perlahan terurai.
Warga Kompleks Aeropolis 1, Kelurahan Syamsudin Noor, Kecamatan Landasan Ulin, Kota Banjarbaru sempat merasa lega dan berharap kondisi segera pulih.
Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama. Menjelang malam, kepulan asap kembali menebal. Kobaran api muncul dan perlahan merambat hingga mendekati rumah-rumah warga.
Aina, salah seorang warga Kompleks Aeropolis 1, menjadi salah satu yang harus menyelamatkan diri. Ketika api menjalar hingga sekitar 10 meter dari rumahnya, ia tak punya banyak waktu untuk berpikir. Bersama anaknya, Aina segera meninggalkan rumah menuju lokasi pengungsian sementara.
Dalam situasi yang serba mendadak itu, hanya anaknya yang sempat dibawa. Barang-barang berharga dan kebutuhan lainnya terpaksa ditinggalkan di dalam rumah.
"Tadi pagi sempat mendingan karena angin kencang. Tapi ternyata ada api lagi di samping rumah, jadi langsung mengungsi bawa anak," ujar Aina saat ditemui di lokasi pengungsian sementara, Rabu (26/8).
Bagi warga, asap pekat bukan hanya mengganggu jarak pandang. Aktivitas sehari-hari pun ikut terbatas. Mayoritas warga memilih bertahan di dalam rumah untuk mengurangi paparan asap.
Namun, berada di dalam rumah tidak sepenuhnya membuat warga terbebas dari dampak asap. Mereka mulai mengeluhkan batuk-batuk. Meski demikian, hingga saat ini belum ada laporan warga mengalami gangguan kesehatan yang tergolong berat.
Di tengah kondisi yang berubah-ubah, warga pun harus menentukan sendiri kapan harus meninggalkan rumah dan kapan bisa kembali. Belum adanya posko pengungsian resmi yang didirikan secara permanen membuat sebagian warga memilih mengungsi secara sementara di rumah kerabat.
Ketika asap semakin pekat dan api mendekat, warga meninggalkan rumah untuk mencari tempat yang lebih aman. Saat kondisi mulai membaik dan asap berkurang, mereka kembali.
Pola tersebut menjadi keseharian warga selama ancaman karhutla belum sepenuhnya mereda. Rumah yang seharusnya menjadi tempat berlindung justru sewaktu-waktu harus ditinggalkan ketika api kembali mendekat.
Aina hanya berharap kondisi segera membaik. Ia ingin asap menghilang, api benar-benar padam, dan warga dapat kembali menjalani aktivitas tanpa rasa cemas. "Mudahan jangan begitu parah dan cepat pulih," imbuhnya. (al/ris)
Editor : Arief