Hari Panjang Darkahutla Dishut Kalsel, Jinakkan Api di Tiwingan hingga Liang Anggang

M Fadlan Zakiri • Dipublikasikan Rabu, 5 Agustus 2026 | 21:32 WIB
MEMADAMKAN: Personel Brigade Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Dalkarhutla) Dinas Kehutanan Kalsel saat memadamkan api di Hutan Lindung Liang Anggang. 
(BRIGADE DARKAHUTLA DISHUT KALSEL) 
MEMADAMKAN: Personel Brigade Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Dalkarhutla) Dinas Kehutanan Kalsel saat memadamkan api di Hutan Lindung Liang Anggang.  (BRIGADE DARKAHUTLA DISHUT KALSEL) 

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Langit belum sepenuhnya terang ketika kabar titik api kembali diterima Brigade Dalkarhutla Dishut Kalsel. Tak ada waktu untuk menunggu. Bagi mereka, setiap menit yang terbuang bisa berarti kobaran api semakin meluas.

      ***

Minggu (2/8) menjadi hari yang panjang bagi para personel Brigade Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Dalkarhutla) Dinas Kehutanan Kalsel. Mereka bergerak dari satu lokasi ke lokasi lain untuk memadamkan kebakaran yang mengancam kawasan hutan dan lahan.

Perjalanan pertama membawa mereka ke kawasan Hutan Lindung Liang Anggang, tepatnya di wilayah Kurnia, Banjarbaru. Hamparan ilalang dan semak belukar yang mengering menjadi bahan bakar sempurna bagi api.

Dipimpin Kepala Seksi Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan Dishut Kalsel, Bambang Marwanto, petugas segera menggelar peralatan. Dua unit mesin portabel berukuran 1,5 inci dioperasikan, sementara lima rol selang dibentangkan menuju titik kobaran.

Kerja cepat itu membuahkan hasil. Api berhasil dipadamkan sebelum menjalar lebih jauh ke kawasan hutan. Setelah dipastikan benar-benar padam, tim tak sempat beristirahat lama. Laporan titik api lain sudah menunggu.

Tujuan berikutnya adalah kawasan Sungai Arfat, Kabupaten Banjar. Di lokasi ini, tantangan bukan hanya api, melainkan juga tidak adanya sumber air di sekitar area kebakaran.

Kondisi tersebut memaksa petugas mengubah strategi. Air harus disuplai dari luar lokasi, sementara pemadaman dilakukan secara manual dengan mengandalkan tenaga personel.

Sebanyak 15 unit jet shooter, 20 alat pemukul api atau kepyok, satu mobil tangki berkapasitas 5.000 liter, serta dua mobil pikap Hilux yang masing-masing membawa tandon air berkapasitas 1.000 liter dikerahkan agar operasi tetap berjalan.

"Tantangan terberat yang harus dihadapi tim di lapangan adalah ketiadaan sumber air di sekitar lokasi kebakaran. Untuk itu, petugas menerapkan strategi suplai air dan pemadaman manual secara masif," ujar Bambang.

Belum selesai di Sungai Arfat, malam harinya tim kembali berpacu dengan waktu di kawasan Tiwingan, Kabupaten Banjar. Gelapnya malam dan embusan angin yang cukup kencang membuat situasi semakin sulit. Dalam kondisi seperti itu, api dapat berubah arah sewaktu-waktu dan merambat lebih cepat.

Untuk menghadapi kondisi tersebut, seluruh kekuatan dikerahkan. Sebanyak 35 personel Dishut Kalsel bergabung bersama 10 personel Tahura dan 15 anggota Masyarakat Peduli Api (MPA). Mereka diperkuat 20 unit jet shooter dan 10 alat pemukul api.

 

Kerja sama lintas personel itu akhirnya membuahkan hasil. Satu per satu titik api berhasil dijinakkan hingga kondisi dinyatakan aman.

Bagi Bambang, keberhasilan memadamkan api bukan sekadar soal memadamkan kobaran yang terlihat. Yang jauh lebih penting adalah mencegah kebakaran meluas dan menimbulkan kabut asap yang mengganggu kehidupan masyarakat serta merusak ekosistem hutan.

Karena itu, ia kembali mengingatkan masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar. Pada musim kemarau, vegetasi berupa ilalang dan semak belukar berubah sangat kering sehingga api mudah menjalar ke area yang lebih luas. (al/ris) 

Editor : Arief
karhutla kebakaran lahan Damkar Banjarbaru