Waladun Shaleh: Ketika Seniman Madihin Jadi Kepala MTs, Menjaga Tradisi dengan Menjawab Tantangan Zaman

M Fadlan Zakiri • Dipublikasikan Senin, 20 Juli 2026 | 11:00 WIB
LATIHAN: Waladun Shaleh saat melatih madihin di pekarangan rumahnya. 
(Foto: WALADUN SALEH UNTUK RADAR BANJARMASIN)
LATIHAN: Waladun Shaleh saat melatih madihin di pekarangan rumahnya.  (Foto: WALADUN SALEH UNTUK RADAR BANJARMASIN)

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Sore meredup di Perumahan Kampoeng Shafwah Asri. Irama terbang yang bersahut-sahutan perlahan berhenti. Satu per satu murid merapikan alat musik lalu berpamitan pada Waladun Shaleh.

          ***

Bagi pria 27 tahun yang akrab disapa Nanang Adun itu, latihan rutin bukan sekadar mengajarkan pantun atau irama madihin. Dari halaman rumahnya yang sederhana ia belajar menjadi pembimbing. 

Tanpa ia sadari, proses panjang itulah yang mengantarkannya pada amanah yang jauh lebih besar.

Pada Rabu, 18 Juni 2026 tadi, Adun kembali melangkahkan kaki ke Pondok Pesantren Darul Ilmi Banjarbaru. 

Bedanya, kali ini Adun bukan lagi santri dengan kitab di tangan. Ia berdiri di ruang induk Masjid Darul Ilmi, mengenakan setelan rapi, untuk mengikuti prosesi pelantikan.

Di hadapan pengurus yayasan dan dewan guru, Adun resmi dilantik sebagai Kepala Madrasah Tsanawiyah (MTs) Darul Ilmi. 

Dengan usia 27 tahun, ia tercatat sebagai kepala madrasah tsanawiyah termuda di Kota Banjarbaru.

Momen itu memutar kembali ingatannya 15 tahun lalu. Datang ke pesantren sebagai remaja yang ingin menimba ilmu agama. Di tempat yang sama pula ia mengenal madihin, belajar memukul terbang, hingga menemukan panggilan untuk menjaga budaya Banjar.

Kini, almamater yang pernah mendidiknya justru menitipkan amanah untuk memimpin. "Ini bukan sekadar jabatan, tetapi tanggung jawab untuk mencetak generasi yang berilmu, berakhlak, dan siap menghadapi masa depan," ujarnya.

 

Bagi Adun, dunia pendidikan dan kesenian tidak pernah berjalan di dua jalur berbeda. Nilai-nilai yang ia dapat dari madihin justru menjadi bekal utama saat memimpin lembaga pendidikan.

"Dari madihin saya belajar keberanian berbicara, menyampaikan pesan dengan santun, menghargai tradisi, dan dekat dengan masyarakat," kata Adun.

MATERI: Waladun Shaleh saat menyampaikan materi dalam kegiatan di MTs Darul Ilmi. 
(Foto: WALADUN SALEH UNTUK RADAR BANJARMASIN)
MATERI: Waladun Shaleh saat menyampaikan materi dalam kegiatan di MTs Darul Ilmi.  (Foto: WALADUN SALEH UNTUK RADAR BANJARMASIN)

Ingin Santri Siap Hadapi Perkembangan Zaman

Nanang Adun ingin MTs Darul Ilmi tidak hanya dikenal sebagai madrasah yang kuat dalam pendidikan agama. Santri juga harus siap menghadapi perkembangan zaman.

Menurut Adun, MTs Darul Ilmi harus mencetak santri yang cerdas secara spiritual, serta cakap secara akademik, kreatif, dan digital. 

Gagasan itu mulai ia terjemahkan melalui sejumlah program baru. Salah satunya menghadirkan kegiatan ekstrakurikuler berbasis ekonomi kreatif dan digital. 

Para siswa nantinya dikenalkan pada kewirausahaan, desain, pembuatan konten kreatif, hingga literasi digital, tanpa meninggalkan nilai-nilai kepesantrenan yang menjadi identitas Darul Ilmi.

Latar belakangnya sebagai seniman madihin dan alumni Duta Nanang Galuh Banjarbaru ikut membentuk cara pandangnya. 

Baginya, agama, budaya, dan kreativitas bukan sesuatu yang saling bertentangan, melainkan dapat tumbuh berdampingan untuk membentuk karakter generasi muda.

Kesibukan sebagai kepala madrasah memang membuat waktunya semakin padat. Agenda rapat, pembinaan guru, hingga mengurus administrasi sekolah kini menjadi rutinitas baru. 

 

Meski begitu, Adun belum berniat menggantung terbang yang telah menemaninya selama bertahun-tahun. 

LATIHAN: Waladun Shaleh saat latihan madihin di rumahnya. 
(WALADUN SALEH UNTUK RADAR BANJARMASIN)
LATIHAN: Waladun Shaleh saat latihan madihin di rumahnya.  (WALADUN SALEH UNTUK RADAR BANJARMASIN)

Menjaga Budaya Tak Harus di Atas Panggung

Latihan madihin bersama tetap dilaksanakan Nanang Adun, hanya saja jadwalnya disesuaikan dengan waktu luangnya. 

Adun mengungkapkan, sebelum menjadi Kepala Madrasah Tsanawiyah (MTs) Darul Ilmi, mereka bisa latihan rutin seminggu sekali. 

"Sekarang mungkin dua minggu sekali. Yang penting proses belajar tetap ada dan adik-adik tetap semangat," katanya sambil tersenyum.

Baginya, menjaga budaya tidak selalu harus dilakukan dari atas panggung. Mengajarkan satu anak muda memainkan madihin, atau menanamkan kecintaan terhadap budaya Banjar kepada seorang santri juga merupakan bagian dari pelestarian.

Perjalanan Nanang Adun seakan membentuk lingkaran yang utuh. 

Berawal dari seorang santri yang belajar madihin dari kakak tingkat di lingkungan pesantren, ia tumbuh menjadi seniman, membina generasi muda melalui Teras Project Banua, hingga akhirnya kembali ke almamater sebagai kepala madrasah.

Kursinya memang berubah. Dahulu ia duduk sebagai murid di ruang kelas. Kini Adun duduk di ruang kepala madrasah. 

Namun satu hal yang tidak berubah. Keinginannya agar ilmu, budaya, dan nilai-nilai Banjar terus hidup di tangan generasi berikutnya.

 

"Madihin mengajarkan saya berbicara kepada masyarakat. Madrasah mengajarkan saya mendidik generasi. Keduanya adalah cara saya mengabdi untuk Banua," pungkas Adun. (al/ris) 

Editor : Arief
sosok inspirasi seni Budaya madihin santri