Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Fokus Jadi Ibu Di Balik Kamera, Begini Kisah Sarah Nia, Influencer Asal Banjarbaru

M Fadlan Zakiri • Kamis, 25 Juni 2026 | 09:39 WIB
SARAH: Influencer Banjarbaru, Sarah Nia Karyanto saat bersama anak kembarnya. 
SARAH: Influencer Banjarbaru, Sarah Nia Karyanto saat bersama anak kembarnya. 

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Banyak orang mengenal Sarah Nia Karyanto dari media sosial. Wajahnya sering muncul di layar ponsel, membagikan berbagai aktivitas keseharian hingga pekerjaan sebagai influencer. 

     ****
Namun, ketika kamera ponsel dimatikan dan unggahan selesai dibuat, perempuan kelahiran 1995 itu kembali menjalani peran yang jauh lebih menantang. Yakni menjadi ibu untuk anak kembarnya yang kini berusia empat tahun. 

Di rumahnya di Kelurahan Sungai Ulin, Kecamatan Banjarbaru Utara, Sarah mengaku lebih memilih menjadi dirinya sendiri. Jauh dari citra publik yang selama ini dikenal banyak orang.

“Rumah adalah tempat privasi. Di rumah aku bisa melepaskan personal publik dan lebih fokus pada keseharian bersama keluarga, terutama saat bersama dua anak saya, twinnie,” ujarnya.

Menjadi ibu merupakan titik balik terbesar dalam hidup Sarah. Prioritas hidup yang sebelumnya berpusat pada diri sendiri perlahan berubah. Hampir seluruh waktu, tenaga, dan pikirannya kini tercurah untuk anak-anak.

“Perubahan terbesar setelah menjadi ibu itu prioritas hidup berubah total. Waktu untuk diri sendiri berkurang drastis, berganti dengan tanggung jawab baru yang menguras tenaga, tapi juga memberi kebahagiaan baru,” tuturnya.

Perjalanan itu tidak selalu mudah. Terlebih, Sarah harus mengasuh anak kembar yang lahir prematur di tengah masa pandemi Covid-19. 

Ia masih mengingat bagaimana hari-hari awal setelah persalinan dipenuhi rasa lelah yang nyaris tanpa jeda. 

Menyiapkan kebutuhan dua bayi sekaligus membuatnya harus membagi perhatian secara adil dalam waktu yang bersamaan.

“Yang paling terasa itu kurang tidur. Saat dua-duanya menangis bersamaan, aku harus benar-benar mengatur waktu dan tenaga. Semua serba dua kali lipat,” kenangnya.

Positif Covid Saat Melahirkan

Beban fisik dan mental yang datang bersamaan sempat membuat Sarah merasa kewalahan. 

Sebagai ibu muda, Sarah harus beradaptasi dengan berbagai perubahan yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Salah satu fase yang paling berat adalah ketika dirinya mengalami depresi pascapersalinan. 

BERGAYA: Influencer Banjarbaru, Sarah Nia Karyanto.
BERGAYA: Influencer Banjarbaru, Sarah Nia Karyanto.

Kondisi tersebut muncul setelah perjuangan panjang mendapatkan buah hati, ditambah proses persalinan yang dijalani saat dirinya terkonfirmasi positif Covid-19.

Pengalaman itu meninggalkan ketakutan yang hingga kini masih sesekali muncul.

“Aku pernah sangat takut tidak bisa menjadi ibu yang baik untuk anak-anak. Takut kesehatan mentalku memengaruhi mereka atau aku tidak mampu melindungi mereka,” ungkapnya.

Meski demikian, Sarah memilih terus bertahan. Baginya, setiap tantangan yang datang adalah bagian dari proses belajar menjadi ibu.

Di tengah berbagai kesulitan, ada banyak momen kecil yang justru menjadi sumber kekuatan ibu dua anak ini. 

Ia masih menyimpan jelas kenangan saat melihat kedua anaknya yang kembar mulai berinteraksi satu sama lain.

“Tawa pertama mereka, atau saat mereka berpegangan tangan, itu momen yang tidak akan pernah aku lupakan,” katanya sambil tersenyum.

MEMBATASI: Influencer Banjarbaru, Sarah Nia Karyanto membatasi ruang kehidupan pribadinya dengan dunia digital. 
(Sarah Nia untuk Radar Banjarmasin) 
MEMBATASI: Influencer Banjarbaru, Sarah Nia Karyanto membatasi ruang kehidupan pribadinya dengan dunia digital.  (Sarah Nia untuk Radar Banjarmasin) 

Batasi Privasi di Dunia Digital

Setelah melewati fase-fase berat sebagai ibu baru, Sarah harus menjalani kehidupan sebagai single parent. Sebuah peran yang menuntutnya menjadi penopang keluarga sekaligus sumber kasih sayang bagi anak-anaknya.

 

Pada 2025, Sarah resmi bercerai. Berpisah dengan suami menurutnya tantangan terbesar bukan hanya persoalan finansial, melainkan bagaimana membagi waktu dan energi agar tetap hadir secara emosional untuk anak-anak.

“Kadang ada rasa bersalah karena waktu yang terbatas untuk anak. Tapi aku belajar fokus pada kualitas waktu bersama mereka,” ujarnya.

Di tengah rutinitas yang padat, Sarah memiliki caranya sendiri untuk menjaga kesehatan mental. Ia memilih menulis jurnal, melakukan digital detox, sesekali bepergian, hingga meluangkan waktu untuk sekadar menikmati aktivitas yang disukai.

Baginya, mencintai diri sendiri bukanlah bentuk egoisme, melainkan kebutuhan agar tetap mampu merawat orang-orang yang dicintai. “Luv yourself first. Kalau kita baik-baik saja, kita juga bisa memberikan yang terbaik untuk anak-anak,” katanya.

Prinsip itu pula yang menjadi pegangan Sarah saat menghadapi berbagai tekanan sebagai figur publik. Ia mengakui kehidupan di media sosial sering kali menuntut seseorang terlihat sempurna. Padahal, di balik layar, setiap orang memiliki perjuangan masing-masing.

Karena itu, Sarah berusaha membatasi ruang antara kehidupan pribadi dan dunia digital. Tidak semua hal harus dibagikan kepada publik. “Ada bagian hidup yang memang cukup aku dan keluarga saja yang tahu,” ujarnya.

Bagi Sarah, kesuksesan perempuan tidak semata-mata diukur dari popularitas atau pencapaian karier.  Lebih dari itu, kesuksesan adalah ketika seseorang mampu menentukan jalan hidupnya sendiri, mandiri, dan tetap menemukan kebahagiaan dalam proses yang dijalani.

Ingin Anak Lebih Baik dari Dirinya

Kini, di tengah berbagai peran yang diemban, Sarah memiliki harapan sederhana untuk kedua buah hatinya.

SARAH ingin anak kembarnya tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik daripada dirinya. Layaknya lirik lagu Nina milik Feast yang begitu disukainya. “Tumbuh lebih baik dibanding diriku,” ucapnya sambil menahan air matanya. 

Harapan yang mungkin terdengar sederhana. Namun, bagi seorang ibu yang telah melewati berbagai badai kehidupan, kalimat itu menyimpan makna yang sangat besar. 
Sebab pada akhirnya, di balik semua unggahan media sosial dan sorotan publik, Sarah hanyalah seorang ibu yang setiap hari berusaha memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya. 

Sebuah peran yang menurutnya menjadi perjalanan paling berat sekaligus paling berharga dalam hidup. “Aku mungkin tidak bisa menjadi ibu yang sempurna. Tapi setiap hari aku berusaha menjadi ibu yang lebih baik dari hari sebelumnya,” imbuhnya. 

“Capek pasti ada, lelah juga sering. Tapi setiap melihat anakanak tumbuh sehat dan bahagia, semua perjuangan itu terasa terbayar,” tutup sarah.

Editor: Sutrisno

Editor : Arief
#Anak #sosok inspiratif #banjarbaru #Perempuan #media sosial