RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Suara radio komunikasi di Posko Landu Rescue hampir tak pernah sunyi. Siang malam, laporan kebakaran, kecelakaan, hingga permintaan ambulans datang silih berganti.
***
Di balik suara radio komunikasi, puluhan relawan Landu Rescue selalu siap meninggalkan rumah, pekerjaan, bahkan waktu istirahat. Tujuannya satu: menolong orang lain.
Bagi Nazari, anggota Barisan Pemadam Kebakaran dan Tim Emergency Landu Rescue, rutinitas itu sudah jadi bagian hidup. “Kami bergerak bukan karena bayaran. Ini panggilan hati,” ujarnya.
Landu merupakan singkatan dari Landasan Ulin, wilayah asal organisasi relawan ini berdiri. Landu Rescue resmi dibentuk 25 Mei 2005 atas gagasan almarhum Adi Syarwani, pendiri sekaligus motor penggerak tim.
Awalnya, kawasan Landasan Ulin dan Liang Anggang minim layanan pemadam. Saat kebakaran terjadi, armada dari pusat kota sering terlambat tiba. Rumah warga keburu habis dilalap api.
“Pak Adi pernah merasakan kehilangan karena kebakaran. Dari situ beliau berpikir harus ada tim yang lebih dekat dengan masyarakat,” kata Nazari.
Di awal berdiri, Landu hanya punya 40 anggota dengan peralatan seadanya. Bantuan awal dari Pemko Banjarbaru hanya satu mesin pompa portabel dan tiga rol selang.
Mobil operasional pun masih meminjam angkutan pribadi milik anggota Landu Rescue.
Bahkan, Adi Syarwani yang sehari-hari sopir angkot rela memakai mobilnya untuk operasi pemadam. Pelan-pelan, relawan mengumpulkan uang hingga bisa membeli pikap bekas seharga Rp10 juta.
Pernah Lahirkan Bayi di Ambulans
Tantangan terbesar datang saat musim kemarau. Api cepat meluas sementara air sulit ditemukan. Dari kondisi itu lahir truk tangki pemadam bernama “Bajol” yang masih dipakai Landu Rescue hingga kini.
Pada 2008, Adi Syarwani dan istrinya, Ratnawati, menjadikan rumah mereka sebagai posko utama Landu Rescue. Rumah itu berfungsi sebagai markas, tempat makan, istirahat, dan berkumpul.
“Keluarga besar kami ada di sana. Pintunya hampir tak pernah terkunci,” ujar anggota Landu Rescue, Nazari.
Ratnawati, atau akrab disapa Bunda, bertugas menjaga radio komunikasi dan meneruskan laporan darurat ke lapangan.
Kini Landu Rescue punya empat armada: dua mobil tangki pemadam dan dua ambulans. Salah satu ambulans berasal dari mobil pribadi almarhum Adi yang dicat biru sesuai identitas tim.
Warna biru tua jadi ciri khas Landu. Di antara armada itu, ada satu yang paling membekas: ambulans Toyota Kijang “Si Kancil”.
Meski kini hanya terparkir tertutup terpal, Si Kancil dianggap saksi ribuan nyawa. Sebelum Landu resmi berdiri, mobil itu sudah dipakai Adi membantu masyarakat.
Belasan tahun Si Kancil melaju mengangkut korban kecelakaan, pasien kritis, hingga ibu hamil. Bahkan beberapa bayi lahir di dalam ambulans saat perjalanan ke rumah sakit.
“Kami pernah dengar tangisan bayi di dalam ambulans. Itu yang bikin kami susah melupakan Si Kancil,” kenang Nazari.
Menolong Tanpa Pamrih
Pada 25 Juli 2023, Si Kancil dipensiunkan. Kondisi lapangan menuntut armada yang lebih cepat dan muda. Melepasnya berat, tapi perlu.
Risiko selalu mengintai anggota Landu Rescue. Pernah ketika mendatangi lokasi kecelakaan di sekitar RSJ Sambang Lihum, mobil mereka terguling karena menghantam lubang besar. Kaca pecah, lampu rotari lepas. Beruntung semua personel selamat.
“Kejadian itu mengingatkan kami, maut bisa datang kapan saja. Tapi itu tidak membuat kami berhenti,” ucap anggota Landu Rescue, Nazari.
Selain memadamkan api dan menangani kecelakaan, Landu juga membantu mengantar pasien dan jenazah ke luar daerah tanpa mematok tarif.
Jika keluarga pasien memberi biaya BBM, mereka terima. Jika tidak, bantuan tetap jalan. “Yang penting orang tertolong dulu,” kata Nazari.
Aksi paling membanggakan terjadi pada 2016, saat Landu ikut mengevakuasi bekantan yang terjebak kebakaran lahan di Gambut. Atas aksi itu, mereka mendapat penghargaan dari Wali Kota Banjarmasin dan Sahabat Bekantan Indonesia.
Kini Landu Rescue memiliki 54 anggota, dengan sekitar 20 personel aktif di lapangan. Peralatan belum ideal, helm dan sepatu kadang masih kurang. Tapi semangat relawan tetap sama seperti awal berdiri.
Bagi Nazari, Landu Rescue bukan sekadar organisasi. “Ini keluarga,” katanya.
Si Kancil mungkin kini diam di balik terpal. Tapi semangat yang diwariskannya hidup di dada para relawan Landu Rescue.
“Selama radio di posko masih berbunyi, kami akan terus bergerak menembus asap, malam, dan risiko maut demi masyarakat Banjarbaru,” tutup Nazari.
Editor: Sutrisno
Editor : Arief