Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Olahraga Lari Makin Digandrungi, Jadi Gaya Hidup Baru Berbagai Kalangan

Zulvan Rahmatan • Senin, 11 Mei 2026 | 10:59 WIB
Ilustrasi olahraga lari. (Foto: Gemini/Google)
Ilustrasi olahraga lari. (Foto: Gemini/Google)

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Olahraga lari menjelma menjadi gaya hidup baru yang digandrungi berbagai kalangan, terutama anak muda. Apalagi tren komunitas lari yang semakin ramai menunjukkan meningkatnya kesadaran masyarakat untuk hidup sehat, sekaligus mencari ruang bersosialisasi.

        ***

Dalam beberapa tahun terakhir, tren lari makin meningkat dan berubah jadi bagian dari gaya hidup masyarakat, khususnya anak muda. Fenomena ini juga terasa di berbagai kota, termasuk di Banjarmasin. Hampir setiap sore hingga akhir pekan, makin gampang menemukan orang jogging di siring sungai, kawasan stadion, hingga jalan protokol kota.

Menariknya, lari sekarang bukan cuma soal siapa paling cepat atau paling kuat. Banyak orang justru menikmati sensasi berlari bareng teman, cari suasana baru, sampai healing tipis-tipis setelah penat kerja atau kuliah.

Komunitas lari pun bermunculan di mana-mana. Fungsinya bukan cuma tempat olahraga, tapi juga jadi ruang nongkrong sehat buat cari teman, relasi, bahkan pasangan.

Olahraga satu ini juga dianggap paling ramah buat semua kalangan. Mau muda, dewasa, pemula, sampai yang baru mulai hidup sehat tetap bisa ikut. Tidak perlu skill khusus atau alat mahal, cukup sepatu nyaman dan niat buat memulai.

Selain fleksibel, ritme dan jarak lari juga bisa disesuaikan sendiri. Mau santai 2 kilometer atau gas sampai belasan kilometer, semua kembali ke kemampuan masing-masing.

Media sosial ikut bikin tren ini makin naik daun. Konten soal pace, outfit lari, rute favorit, hingga event marathon sekarang ramai berseliweran di TikTok dan Instagram. Lari pun terlihat makin keren dan relate dengan gaya hidup modern.

Atlet Triathlon Banjarmasin, Talitha Zada Agustina mengakui tren lari menjadi salah satu fenomena gaya hidup sehat yang berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir. Ia menilai, masyarakat kini tidak lagi memandang lari sekadar olahraga untuk menurunkan berat badan, atau mengejar prestasi semata.

“Sekarang lari juga menjadi cara menjaga keseimbangan hidup. Di tengah aktivitas yang padat, lari bisa menjadi ruang sederhana untuk menenangkan pikiran, sekaligus menjaga tubuh tetap aktif,” ujarnya, Minggu (10/5).

Cewek 22 tahun ini menilai, meningkatnya minat masyarakat terhadap olahraga lari dipengaruhi kemudahan akses. Tidak memerlukan biaya besar maupun fasilitas khusus.

Bagi Zada, lari juga bukan hanya aktivitas fisik. “Saat berlari, ada momen di mana pikiran terasa lebih tenang, dan tubuh terasa lebih hidup,” ungkapnya. Meski tubuh terasa lelah setelah berlari, ia justru puas berhasil menyelesaikan target kecil untuk diri sendiri.

Gunawan Adi Kusuma juga memandang olahraga lari sangat ramah kantong. Tidak memerlukan modal mahal. Cukup sepatu yang nyaman.

Lari juga dapat dilakukannya sendiri. Sebagai karyawan swasta, ia tinggal menyesuaikan waktu luang di sela-sela pekerjaan harian. “Olahraga ini tidak mahal. Cukup beda dengan padel, golf, dan billiard yang budgetnya cukup besar,” bandingnya.

Gunawan menilai, olahraga lari bersama membangun tren positif yang menular. Walaupun, tren ini kerap disebut-sebut sebagai fomo. Namun, sejatinya tetap bagus untuk memberikan contoh di lingkungan sosial, mewarnai aktivitas yang lebih baik di ruang publik.

Setelah lari, Gunawan merasakan manfaat untuk seluruh fisik dan suasana hati. Tangan, pinggang, hingga kaki menjadi lebih rileks di setiap langkah yang ia susuri di jalanan. “Ada manfaat lebih. Selain itu, rasanya menjadi lebih produktif,” katanya.

Latifah juga menilai tren lari yang berkembang saat ini merupakan hal positif. Dapat mendorong masyarakat menjalani pola hidup lebih sehat.

Menurut karyawan swasta ini, olahraga lari menjadi pilihan banyak orang karena mudah dilakukan. “Lari itu murah dan bisa dilakukan di mana saja. Kalau gym atau badminton kan harus bayar. Sedangkan lari, tinggal lari saja,” tukasnya.

Latifah mengakui mulai tertarik berlari karena ajakan teman-temannya. Kini, ia rutin berlari bersama teman setidaknya sepekan sekali. “Awalnya karena diajak teman, lama-lama jadi asyik. Biasanya seminggu sekali pasti lari bareng,” kata Latifah.

Menurutnya, manfaat yang paling dirasakan setelah berlari adalah tubuh terasa lebih sehat untuk menjalani aktivitas keesokan harinya. “Rasanya badan lebih segar untuk berkegiatan besok harinya,” ungkapnya.

Meski demikian, Latifah mengaku aktivitas lari baginya masih sebatas olahraga biasa. “Belum jadi gaya hidup, karena belum punya jadwal yang tetap,” pungkasnya.

Baca Juga: Banjarbaru jadi Kota "Tanpa Wajah Wali Kota", Resmi Perketat Aturan Penggunaan Atribut Visual Pimpinan Daerah

Editor: Eddy Hardiyanto

Editor : Arief
#kalimantan selatan #Lari #pemuda #Atletik #tren