Rumah singgah yang didirikan Tuty bukan sekadar tempat berbagi bantuan, tapi juga lokasi menampung masalah, keluh kesah, bahkan harapan yang nyaris padam.
***
Sebuah rumah sederhana di Jalan Meranti, Kecamatan Banjarbaru Selatan, hampir tak pernah benar-benar tertutup.
Selalu ada yang datang, mulai dari anak-anak dengan seragam lusuh, ibu-ibu dengan wajah letih, hingga lansia yang berjalan pelan sambil menahan lapar.
Di sanalah Tri Astuti, yang akrab disapa Tuty, berdiri. Menyambut satu per satu orang yang datang, seolah mereka adalah keluarganya sendiri.
Perempuan 45 tahun itu tak pernah menyangka, langkah kecilnya pada 2017 akan tumbuh menjadi tempat bernaung bagi puluhan orang yang kehilangan pegangan hidup.
Awalnya sederhana, ia hanya mengumpulkan mahasiswa untuk membuka les belajar. Dari situlah sedikit demi sedikit uang terkumpul. Bukan untuk dirinya, melainkan disalurkan kepada anak yatim dan kaum duafa. “Dulu cuma ingin membantu sebisanya,” kenang Tuty.
Namun, niat kecil itu seperti memanggil banyak hati lain untuk ikut bergerak. Teman-temannya mulai berdatangan, membawa baju layak pakai, makanan, hingga tenaga sukarela. Bantuan terus mengalir, dan kebutuhan pun semakin besar.
Hingga akhirnya, pada 2020, lahirlah sebuah rumah singgah. Kini dikenal sebagai Yayasan Trias Kumpul Yatim, Dhuafa, dan Lansia.
Ada satu peristiwa yang tak pernah hilang dari ingatan Tuty. Seseorang depresi dan memilih mengakhiri hidup karena tak mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Peristiwa itu menjadi titik balik bagi Tuty. “Dari situ saya berpikir, harus ada tempat orang datang ketika mereka tidak tahu harus ke mana,” ujarnya pelan.
Tiap Hari Siapkan 200 Porsi Makanan
Setiap Senin hingga Kamis, Tuty dan tim berkeliling ke desa-desa mengantarkan sembako, baju, serta buku untuk anak yatim dan kaum duafa. Sementara hari Jumat, ia menggelar yasinan di rumah singgah.
Ketika libur sekolah, suasana berubah lebih riuh. Anak-anak belajar bahasa Inggris, mewarnai, bahkan sesekali diajak berenang. Itu hal-hal sederhana yang bagi mereka terasa begitu mewah.
Kini, sekitar 70 anak yatim, 50 duafa, 10 lansia, dan beberapa penyandang disabilitas menjadi bagian dari keluarga besar itu.
Namun di balik aktivitas yang hangat, ada perjuangan yang tak ringan. Setiap hari, setidaknya 200 porsi makanan harus tersedia. “Kadang masih kurang, karena selalu ada yang datang,” katanya.
Bukan hanya soal makan. Ketika duafa sakit, meski sudah memiliki BPJS, kebutuhan hidup sehari-hari tetap menjadi masalah. Dan lagi-lagi, rumah singgah menjadi tempat mereka kembali.
Dulu, beberapa datang dengan baju robek, seragam kusam, dan tanpa sepatu. Kini, mereka tampil rapi. Seragam bersih, dan wajah lebih percaya diri.
Lebih dari itu, perubahan juga terlihat dari sikap. “Yang dulu nakal, pelan-pelan jadi lebih sopan,” ujar Tuty.
Salah satu kisah yang paling membekas adalah tentang Kamil. Sejak kelas 5 SD hingga lulus sekolah, ia menjadi anak asuhnya Tuty.
Kini, Kamil telah bekerja, memiliki rumah sendiri, dan tetap datang menyapa—memanggil Tuty seperti ibu kandungnya.
Bagi Tuty, itu lebih dari sekadar keberhasilan. “Itu kebahagiaan,” katanya. (bersambung)
Merawat 50 Kucing Jalanan
Sebelum mengabdikan diri sepenuhnya di rumah singgah, Tuty adalah guru honorer. Ia mengajar di TK, SD, hingga SMA selama 12 tahun.
Kini, Tuty memilih fokus mengurus rumah singgah. Sesekali masih mengajar les, sekadar untuk menambah pemasukan.
Di tengah kesibukannya, ada sisi lain yang jarang diketahui. Tuty juga merawat sekitar 50 kucing jalanan yang sakit atau kelaparan. Bahkan, ia membuat tempat khusus untuk mereka.
Tak hanya itu, Tuty mengolah sampah rumah tangga menjadi kompos untuk menanam bunga di sekitar rumah singgah. Baginya, membantu tak selalu harus besar. “Berbagi itu apa saja yang kita bisa. Bisa tenaga, bisa ilmu,” tuturnya.
Di balik semua itu, satu hal yang selalu menjadi tantangan Tuty, yakni dana. Kebutuhan terus bertambah, sementara sumber pendanaan hanya berasal dari donasi teman-teman yang memiliki visi yang sama.
Tuty bahkan tengah memimpikan fasilitas yang lebih layak—perpustakaan, tempat wudu, hingga kamar untuk anak telantar. Tanah sudah ada, namun biaya pembangunan belum tersedia.
Meski begitu, ia tak pernah terlihat lelah. Tuty terus berjuang agar bisa memenuhi kebutuhan anak yatim dan kaum duafa di rumah singgah miliknya.“Tidak ada kata lelah,” ucapnya tegas.
Tuty tetap berdiri, meski di tengah kondisi kesehatannya yang memiliki mioma. Ia bersyukur, hingga kini belum merasakan sakit berarti. (bersambung)
Di Rumah Singgah Kebahagiaan Itu Terasa
Bagi Tuty, mimpi terbesarnya sederhana: tidak ada anak di Banjarbaru yang putus sekolah karena masalah biaya.
Tuty ingin anak-anak asuhnya mandiri, berpendidikan, dan punya masa depan lebih baik.
Bahkan jika anak-anak yang dirawatnya di rumah singgah ingin kuliah, Tuty bertekad membantu mencarikan beasiswa.
Sedangkan untuk para duafa, ia berharap mereka memiliki pekerjaan yang layak. Karena Tuty tahu, banyak dari mereka hanya berpenghasilan sekitar Rp50 ribu sehari—jauh dari cukup untuk menghidupi keluarga.
Di setiap langkahnya, ada sosok yang selalu menguatkan Tuty. Ibunya yang berusia 78 tahun, dan ayahnya, purnawirawan TNI berusia 86 tahun, yang menanamkan disiplin dan tanggung jawab.
Sementara di tengah segala keterbatasan, Tuty menemukan makna kebahagiaan yang paling sederhana. “Kalau kita bisa membantu orang lain, itu sudah bahagia,” ujarnya.
Dan di rumah singgah itu, kebahagiaan memang terasa nyata bagi Tuty.
Bukan dari kemewahan. Tapi dari sepiring nasi yang dibagikan, dari seragam yang kini rapi, dari senyum anak-anak yang kembali punya mimpi.
Selama masih ada yang datang dengan harapan, Tuty akan tetap berdiri di sana, menyambut, memeluk, dan memastikan bahwa tak seorang pun merasa sendirian.
Editor : Arief