Matahari baru saja terbit, Parida sudah berdiri di tepi Jalan Guntung Manggis, Kelurahan Guntung Manggis, Kecamatan Landasan Ulin.
*******
Parida merupakan petugas kebersihan dari Dinas Lingkungan Hidup (LH) Banjarbaru. Ia bertugas di wilayah Guntung Manggis. Kadang juga bisa digeser ke kawasan Loktabat.
Mengenakan seragam kerja dan membawa sapu lidi serta serok, perempuan berusia sekitar 50 tahun itu perlahan menyusuri sisi jalan yang menjadi wilayah tugasnya.
Saat dijumpai Radar Banjarmasin, ia mengaku setiap hari bekerja sekitar tiga jam, mulai pukul 07.00 hingga 10.00 Wita. Jalanan, trotoar, hingga pinggiran drainase dibersihkannya dari daun kering dan sampah yang tersisa.
"Setiap hari harus turun membersihkan. Hari hujan pun kami tetap harus kerja,” kata Parida, Kamis (12/3).
Parida telah menjalani pekerjaan itu sejak 2010. Perjalanan hidupnya menjadi petugas kebersihan bermula dari masa sulit yang harus dihadapinya.
Suaminya meninggal dunia saat anak mereka baru berusia 18 bulan. Sejak saat itulah Parida harus berdiri sendiri menghidupi keluarga. “Waktu suami meninggal, anak ku masih kecil sekali. Jadi harus kerja melanjutkan,” tuturnya.
Ia pun memutuskan bekerja sebagai petugas kebersihan. Penghasilan yang diterima saat itu tidak besar. Pada awal bekerja, hanya memperoleh sekitar Rp400 ribu sebulan.
Namun seiring waktu, pendapatan itu perlahan meningkat. Meski demikian, Parida tetap harus mengatur pengeluaran dengan cermat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari sekaligus biaya pendidikan anaknya.
Parida tidak hanya bergantung pada satu pekerjaan. Setelah menyelesaikan tugas menyapu jalan pada pagi hari, ia masih mencari tambahan penghasilan.
Sekitar pukul 10.00 Wita, Parida biasanya menuju sebuah taman kanak-kanak. Di sana ia membantu membersihkan lingkungan sekolah.
“Mencari tambahan di TK, membantu bersih-bersih juga, itupun setelah pekerjaan membersihkan jalan selesai,” katanya.
Penghasilan tambahan itu sangat berarti baginya. Apalagi seluruh biaya pendidikan anak harus ia tanggung seorang diri.
Perjuangan panjang itu kini mulai terlihat hasilnya. Anak yang dulu masih bayi saat sang ayah meninggal kini sudah duduk di bangku SMA kelas dua.
Saat menceritakan hal itu, wajah Parida terlihat semringah. Baginya, melihat anak tetap bersekolah adalah kebanggaan terbesar. “Alhamdulillah bisa sampai SMA,” ujarnya.
Selama bekerja sebagai petugas kebersihan, ia tentu merasakan berbagai suka dan duka. Terkadang ada cibiran dari orang-orang yang memandang rendah pekerjaan tersebut.
Namun Parida memilih tidak mempedulikannya. Baginya, yang terpenting adalah bekerja secara halal dan mampu menghidupi keluarga. “Yang penting begawi. Syukuri saja,” ucapnya.
Di lingkungan tempat tinggalnya di Bina Putra, Guntung Payung, Banjarbaru, Parida dikenal sebagai sosok pekerja keras. Meski hidup sederhana, ia tetap bersyukur dengan apa yang dimilikinya.
Parida juga memiliki harapan sederhana seperti banyak orang lainnya: memiliki rumah sendiri, tidak lagi menyewa.
Namun bagi Parida, pencapaian terbesar saat ini bukanlah materi. “Yang penting anak bisa sekolah,” imbuhnya.
Editor: Sutrisno
Editor : Arief