Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Rutin Tampil di Ajang Internasional, Begini Kisah Warmiya, Atlet Difabel Asal Banjarbaru

Sheilla Farazela • Selasa, 10 Maret 2026 | 11:07 WIB

MEDALI: Warmiya saat meraih medali di ajang internasional, Asean Para Games 2025.
MEDALI: Warmiya saat meraih medali di ajang internasional, Asean Para Games 2025.

Langkah Warmia mungkin tak selalu mudah. Namun bagi atlet difabel asal Banjarbaru ini, setiap tantangan justru menjadi bahan bakar untuk terus melangkah lebih jauh.

         ****

Berusia 47 tahun, Warmia sudah hampir dua dekade menapaki dunia olahraga disabilitas. Perjalanannya dimulai sejak 2008. Saat itu, ia sebenarnya hanya datang untuk sekadar mengenal dunia olahraga bagi atlet difabel.

“Awalnya cuma pengenalan saja. Waktu itu belum banyak orang tahu apa itu atlet paralimpik,” kenangnya.

Saat itu, dunia olahraga bagi penyandang disabilitas belum populer di masyarakat. Banyak orang bahkan belum pernah mendengar istilah atlet paralimpik. Namun Warmia justru melihat peluang untuk membuktikan kemampuan dirinya.

Kesempatan pertamanya datang pada 2010 ketika ia mengikuti ajang Pekan Paralimpik tingkat provinsi yang digelar di Kotabaru. Dari sanalah langkahnya sebagai atlet cabor atletik lempar cakram mulai benar-benar terbentuk.

Sejak saat itu, ia terus berlatih dan mengikuti berbagai kejuaraan hingga 2026. Tidak hanya di tingkat nasional, Warmia juga pernah tampil di ajang internasional sejak 2013 hingga saat ini. Terbaru ia berhasil menyumbangkan satu medali di Asean Para Games 2025.

“Alhamdulillah setiap pulang biasanya bawa medali. Dulu sering tiga medali,” ujarnya sambil tersenyum.

Namun seiring bertambahnya usia, persaingan semakin berat. Atlet-atlet muda mulai bermunculan dengan tenaga yang lebih kuat. Dalam beberapa kejuaraan terakhir, ia tidak lagi membawa banyak medali seperti dulu.

“Sekarang paling satu medali. Mungkin karena usia juga,” katanya.

Meski demikian, semangatnya tak pernah pudar. Justru pengalaman panjang membuatnya semakin matang menghadapi setiap kompetisi.

BERLAGA: Warmia saat berlaga di Peparnas 2024 tadi.
BERLAGA: Warmia saat berlaga di Peparnas 2024 tadi.

Cibiran Jadi Penyemangat

Warmia mengaku perjalanan menjadi atlet tidak selalu mulus. Pada masa-masa awal, cibiran dari orang lain kerap ia terima. Banyak yang meragukan kemampuannya sebagai atlet difabel.

Namun Warmia memilih menjadikan cibiran itu sebagai motivasi. “Kalau dicibir, justru jadi semangat. Kita ingin membuktikan bahwa kita bisa,” tuturnya.

Dorongan untuk terus berprestasi juga datang dari keluarga. Mereka ujar Warmia selalu memberi dukungan penuh terhadap pilihan hidupnya di dunia olahraga.

Bahkan ketika latihan terasa berat, dukungan keluarga menjadi penguat agar ia tidak menyerah.

Warmia juga sempat diminta mencoba cabang olahraga lain. Ia pernah diminta berpindah ke nomor lempar cakram. Namun pada akhirnya ia tetap memilih cabang olahraga yang digelutinya sejak awal.

“Kalau tim saya kurang cocok. Saya lebih nyaman di nomor individu,” katanya.

Kini, meski usia tak lagi muda, Warmia belum berniat berhenti. Ia masih ingin terus bertanding selama masih mampu.

Baginya, medali memang penting. Tetapi yang lebih berharga adalah kesempatan membuktikan bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk berprestasi.

Dari usia 27 hingga 47 tahun, Warmia telah menghabiskan separuh hidupnya di lintasan olahraga. Sebuah perjalanan panjang yang dipenuhi latihan, pengorbanan, dan tekad.

Dan selama semangat itu masih ada, Warmia akan terus berlari mengejar medali berikutnya.

Baca kumpulan berita terpopuler RADAR BANJARMASIN di Google News. Klik di sini

Editor: Sutrisno

Editor : Arief
#Atlet Difabel #sosok inspiratif #kalimantan selatan #atlet kalsel #Prestasi Kalsel #Kota Banjarbaru