Hujan deras di Cempaka tak pernah benar-benar terasa biasa. Bagi warga sekitar, hujan lebat lebih dari satu jam bisa menjadi tanda waspada.
*****
Jika kondisi air di Sungai Kertak Baru, Cempaka perlahan berubah jadi keruh, dan arusnya menguat, maka tidak lama lagi permukaan sungai pasti naik tanpa banyak aba-aba.
Wilayah ini memang bukan kawasan baru dalam cerita banjir. Cempaka dikenal sebagai daerah bekas pertambangan intan tradisional.
Aktivitas galian yang sudah menahun membentuk banyak cekungan dan mengubah kontur alami tanah. Alhasil, saat hujan dengan intensitas tinggi turun, air kerap tertahan di sejumlah titik dan meluap lebih cepat.
Situasi itulah yang mendorong 15 mahasiswa Universitas Lambung Mangkurat (ULM) turun tangan. Mereka hadir dengan membawa sebuah gagasan sederhana, yaitu memberi warga waktu untuk bersiap.
Melalui Program Bina Desa Berdampak, mereka memasang alat pendeteksi ketinggian air sungai yang terhubung otomatis sebagai sistem peringatan dini.
Ketua tim, Muhammad William Sabili, menjelaskan alat tersebut bekerja membaca kenaikan permukaan air melalui sensor. Jika melewati batas aman, sistem langsung mengirimkan sinyal peringatan.
“Intinya memberi waktu bagi warga. Supaya tidak menunggu air masuk rumah dulu, baru bergerak,” ujarnya.
Alat ini berfungsi membaca kenaikan debit air dan mengirimkan sinyal peringatan lebih awal sebelum banjir masuk ke permukiman.
William menjelaskan, alat tersebut dirancang menggunakan sensor pengukur jarak dan sensor ketinggian air yang terkoneksi sistem daring. “Tujuannya agar warga bisa mengetahui kenaikan air lebih cepat. Jadi tidak menunggu air masuk rumah dulu, baru panik,” ujarnya.
Tak Hanya Andalkan Pengamatan Visual
Alat pendeteksi dipasang di titik strategis bantaran sungai. Ketika permukaan air melewati batas aman, sistem akan mengirimkan peringatan.
Dengan sistem ini, warga Cempaka tidak lagi hanya mengandalkan pengamatan visual atau kabar dari mulut ke mulut.
“Warga memiliki jeda waktu untuk mengamankan barang berharga, mematikan aliran listrik, atau bersiap mengungsi,” kata Ketua tim, Muhammad William Sabili.
Namun bagi tim mahasiswa yang berasal dari FMIPA, FEB, dan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) ini, solusi tak cukup hanya dengan teknologi.
Didampingi Dosen Pembimbing Lapangan M Ikhwan Najmi, mereka lebih dulu berdiskusi dengan warga serta Ketua RT dan RW untuk memetakan persoalan.
Senin (2/3) tadi, proses identifikasi dilakukan bersama. Analisis dilakukan mulai dari titik rawan genangan hingga kebiasaan warga saat menghadapi banjir.
Setelah alat terpasang, mahasiswa juga menggelar penyuluhan kebencanaan.
Mereka lebih dulu berdiskusi dengan warga, Ketua RT dan RW untuk mengidentifikasi titik rawan serta memahami pola banjir yang biasa terjadi. Setelah alat terpasang, mahasiswa juga menggelar penyuluhan kebencanaan.
Edukasi dilakukan melalui pre-test dan post-test guna mengukur pemahaman warga terkait langkah antisipasi saat banjir.
Materi yang disampaikan meliputi cara mengenali tanda kenaikan air, menyiapkan barang penting, hingga memastikan instalasi listrik aman saat genangan datang.
Belajar Memahami Persoalan Sosial
Antusiasme warga terlihat saat sesi diskusi, terutama ketika membahas cara sederhana mengurangi risiko, seperti menyiapkan tas siaga dan menjaga kebersihan saluran air.
Ketua tim, Muhammad William Sabili bersyukur warga bisa memahami materi yang mereka berikan.
“Alhamdulillah, hasilnya menunjukkan peningkatan pemahaman warga. Antusiasme masyarakat juga tinggi karena mereka dilibatkan langsung,” kata William.
Tak berhenti di ruang pertemuan, mahasiswa dan warga juga turun langsung ke Sungai Kertak Baru untuk gotong royong membersihkan sampah yang berpotensi menyumbat aliran.
Mereka turut menghibahkan tempat sampah dari dana program sebagai dukungan pengelolaan lingkungan.
Menurut William, program seperti ini menjadi bentuk pembelajaran lapangan yang nyata.
“Mahasiswa tak hanya menerapkan ilmu tentang sensor dan sistem peringatan dini, tetapi juga belajar membangun komunikasi, memahami persoalan sosial, serta menyusun solusi yang sesuai kebutuhan masyarakat,” jelasnya.
Bagi warga Cempaka, alat kecil di tepi sungai itu mungkin tampak sederhana. Namun di baliknya, ada harapan agar banjir tak lagi datang tanpa kabar.
Kini, setiap kali hujan deras mengguyur, bukan hanya langit yang mereka tatap. Ada “penjaga sungai” yang siaga memberi tanda bahwa waktu untuk bersiap masih ada.
Baca kumpulan berita terpopuler RADAR BANJARMASIN di Google News. Klik di sini
Editor: Sutrisno
Editor : Arief