Di sudut-sudut Kota Banjarbaru, suara roda skateboard terdengar. Dari lapangan tenis terbengkalai, halaman pasar, hingga taman kota yang luput dari perhatian.
******
Skateboard bagi sebagian orang mungkin sekadar olahraga jalanan. Namun menurut Muhammad Revi Ferdyan, 22 tahun, aktivitas tersebut adalah cara membaca kota, serta mereaksi ruang publik yang kian sempit bagi ekspresi anak muda.
Revi tumbuh sebagai skater dari ruang-ruang yang tidak pernah dirancang untuk skate. Lapangan tenis lama yang terbengkalai di belakang Kolam Renang Idaman Banjarbaru menjadi tempat belajarnya.
Sesekali ia juga meluncur di halaman Pasar Bauntung Banjarbaru. Bukan karena ingin menantang aturan, melainkan karena tak banyak pilihan. “Awalnya bukan soal trik atau skatepark. Yang penting ada tempat buat main,” ujarnya.
Uniknya, Revi mengenal skateboard sejak kecil. Bukan dari kompetisi atau video tutorial, melainkan dari rasa heran. Ia melihat orang-orang melayang di udara dengan papan kecil di kaki. “Kok bisa sih terbang pakai skate?” Pertanyaan itu menempel lama di kepalanya.
Jawaban baru ia temukan pada 2021, ketika teman-teman sepermainan meracuninya untuk membeli papan pertama. Sejak itu, jatuh, bangkit, lalu meluncur lagi menjadi siklus yang akrab. Paradoks yang menurutnya hanya dipahami skater sejati.
Keterbatasan ruang membuat skater Banjarbaru terbiasa beradaptasi. Mereka merawat sendiri area bermain, membersihkan lintasan, bahkan menerima risiko diusir atau ditegur.
PLN Skatepark Banjarbaru sendiri baru Revi datangi ketika lokasi itu sepi. “Orangnya jago-jago,” katanya, sedikit sungkan.
Rasa sungkan itu memperlihatkan satu hal, ruang publik bukan hanya soal ada atau tidaknya fasilitas, tetapi juga mengenai rasa memiliki. Ketika ruang terasa eksklusif, skater muda memilih ke pinggir kota untuk mencari ruang alternatif tanpa sorotan.
Sempat Ingin Berhenti karena Cedera
Lewat skateboard, Revi membentuk relasi sosial. Ia bertemu komunitas Vanderpijl Skateboarding, yang perlahan menjadi rumah barunya.
Dari Vanderpijl Skateboarding, Revi mengenal Skate Day, kompetisi, hingga jejaring dengan skater luar kota. “Di skatepark, siapa pun yang datang bakal disambut, biar nyaman main,” ujarnya
Apalagi, bagi Revi di sana tak ada hierarki kaku. Yang dihargai bukan siapa paling jago, melainkan siapa mau bertahan.
Di antara denting roda dan benturan papan ke beton, obrolan mengalir. Cerita personal dibagi. Masalah sejenak dilupakan. “Skateboard itu rumah kedua,” kata Revi.
Layaknya manusia normal, cedera pernah membuatnya ingin berhenti. Tubuh yang lelah dan rasa sakit datang bersamaan.
Namun setiap kali melihat teman-temannya berkumpul dan mendapatkan trik baru, semangat itu kembali menyala. Panas, istilah yang akrab di kalangan skater, selalu datang lagi.
Menjadi skater di Banjarbaru, diakui Revi, bukan tanpa tantangan. Sorotan terhadap skateboard masih minim, baik dari brand maupun pemerintah.
Dibandingkan kota-kota besar di pulau lain, perkembangan skateboard di Ibu Kota Provinsi Kalimantan Selatan ini terasa sunyi.
Padahal komunitas ada. Solidaritas hidup. Gaya bermain tumbuh dengan caranya sendiri. Keterbatasan justru membentuk karakter.
Ingin Skateboard Banjarbaru Dikenal Luas
Pengalaman Revi sejalan dengan pandangan penulis dan pengamat budaya urban, Sabda Armandio.
Dalam tulisannya, Sabda menyebut skateboard sebagai bentuk kritik sosial dan arsitektural terhadap perampasan ruang publik.
Melalui tindakan meluncur di anak tangga, bangku taman, hingga pagar besi, skater memposisikan ulang ruang konvensional menjadi ruang kebebasan.
Sebuah cara subversif menantang aturan kaku kota yang kerap menyingkirkan ekspresi nonformal. Anak tangga yang coak, kursi taman yang patah, atau pagar yang bengkok, seharusnya tak semata dipandang sebagai kerusakan.
Selain itu, bagi Revi, perubahan paling besar justru terjadi pada dirinya. Skateboard membantunya berdamai dengan sosial. Dari sosok yang kesulitan berinteraksi, ia kini lebih percaya diri.
Di atas papan, identitas tak ditentukan latar belakang, melainkan kemauan untuk jatuh dan mencoba lagi.
Mimpinya pun sederhana. Ia ingin skateboard Banjarbaru dikenal lebih luas. Baik dari segi komunitasnya, gaya bermainnya, dan solidaritasnya.
“Saya berharap ada perhatian lebih dari brand-brand dan pemerintah agar perkembangan skateboard di Banjarbaru semakin maju,” pungkas Revi.
Editor: Sutrisno
Editor : Arief