BANJARMASIN - Usia 25 tahun menjadi penanda istimewa bagi Nadia Hafiza. Di usia yang kerap disebut sebagai fase penentuan hidup, atlet dayung asal Banjarmasin ini justru mengukir salah satu capaian terbesar dalam kariernya. Dari arena SEA Games 2025 Thailand, ia mengayuh perahu hingga garis finis tertinggi dan mengibarkan Merah Putih di negeri orang.
“Yang pasti saya sangat bangga sekali. Akhirnya bendera Merah Putih bisa dikibarkan di negara orang,” ujar atlet yang akrab disapa Nanad itu.
Bukan satu kali naik podium, Nanad justru tampil konsisten sepanjang kejuaraan. Ia menyumbangkan empat medali untuk Indonesia dari nomor dayung beregu. Bukti bahwa usia 25 adalah fase kematangan seorang atlet.
Dua medali emas diraih Nanad dari nomor 500 meter mix 22 crew dan 200 meter mix 22 crew. Sementara dua medali perak lainnya, ia persembahkan dari nomor 500 meter putri 12 crew serta 200 meter putri 12 crew.
Bagi Nanad, capaian itu terasa sangat spesial. Selain menjadi SEA Games keduanya, hasil di Thailand melampaui ekspektasi pribadi. “Ini sangat spesial, karena ini SEA Games kedua saya dan hasilnya sangat memuaskan. Enggak disangka bisa menyumbangkan medali emas di usia saya yang 25 ini,” ucapnya.
Perjalanan Nanad di olahraga dayung dimulai jauh sebelum panggung internasional mengenalnya. Ia mulai mendayung sejak kelas 5 sekolah dasar. Saat itu, impian tampil di SEA Games belum pernah terlintas di benaknya.
Kini, di usia 25 tahun, ia menyadari bahwa pencapaiannya bukan perkara mudah. Persaingan ketat antar atlet dari seluruh Indonesia menjadi tantangan besar sebelum akhirnya namanya masuk dalam skuad nasional.
“Sebenarnya tidak bisa dibayangkan, karena persaingan atlet di seluruh Indonesia itu sangat banyak. Saat akhirnya masuk tim SEA Games, saya benar-benar bangga, terutama pada diri sendiri,” tuturnya.
Di balik empat medali, ada cerita tentang cedera dan pengorbanan. Nanad mengakui, fase terberat dalam kariernya datang saat tubuhnya tak lagi sekuat tekadnya. “Waktu saya cedera dulu, itu berat sekali. Bahkan sempat hampir mau berhenti,” ujarnya.
Sebagai anak muda, ia juga harus mengorbankan banyak hal. Waktu bermain, berkumpul bersama keluarga, hingga menikmati masa remaja sering terpinggirkan oleh latihan dan jadwal ketat. “Namanya anak muda, kita mengorbankan waktu bermain sama teman dan kumpul keluarga. Itu jarang sekali,” katanya.
Namun keinginan menyerah selalu kalah oleh satu hal. Dukungan keluarga dan panjangnya proses yang sudah dijalani. “Kalau ingin menyerah, itu sering sebenarnya. Tapi karena dukungan keluarga dan proses yang sudah lama, rasanya sayang kalau berhenti,” imbuhnya.
Usia 25 menjadi titik penting dalam perjalanan Nanad. Ia merasa lebih matang, bukan hanya secara fisik, tetapi juga mental. Jika dulu emosinya kerap tak terkendali, kini ia jauh lebih tenang menghadapi tekanan lomba. “Sekarang lebih tenang dan sudah mengerti cara bertanding. Kalau dulu masih remaja, emosi belum stabil, jadi sering berantakan,” katanya.
Menurutnya, mental adalah fondasi utama dalam olahraga prestasi. “Kalau mental enggak bisa dikelola, pertandingan bisa hancur,” tegasnya.
Nanad tak pernah lupa siapa yang menjadi sumber kekuatannya. Kedua orang tuanya, Ibu Dewi Indrayani dan Bapa Hadi Yani, bersama pelatih dan teman-teman, selalu hadir memberi dukungan. “Dukungannya luar biasa. Tapi doa orang tua itu yang paling kuat,” ucapnya.
Sebagai atlet yang kini menginjak usia 25 tahun, Nanad ingin anak muda tidak ragu mengeksplorasi potensi diri. Ia juga menekankan pentingnya mengelola pikiran dengan baik. “Terus cari hal-hal baru yang positif, supaya tahu sebenarnya kamu cocok di mana,” pesannya.
Empat medali SEA Games bukanlah garis akhir. Bagi Nanad, usia 25 justru menjadi awal yang tepat untuk bermimpi lebih tinggi. Asian Games hingga Olimpiade kini masuk dalam bidikannya. Ia ingin dikenang sebagai atlet yang mampu mengharumkan nama Indonesia dan Kalimantan Selatan. “Di umur ini adalah awal yang pas untuk ke jenjang Asian Games dan Olimpiade. Semoga bisa tercapai,” harapnya.
Jika usia 25 adalah satu bab penting dalam hidupnya, Nanad memberi judul sederhana namun penuh makna: “Jalan Hidup yang Penuh Misteri dan Keberkahan.” Dan harapannya untuk masa depan tetap satu, yakni prestasi dayung Indonesia semakin luar biasa.
Nadia Hafiza
Panggilan: Nanad
Tempat, tanggal lahir: Banjarmasin, 17 Agustus 2000
Alamat: Jalan Benua Anyar RT 1
Pendidikan: Alumni SMAN 2 Banjarmasin
Orang tua: Dewi Indrayani & Hadi Yani
Hobi: Jalan-jalan
Cita-cita: Pengusaha
Torehan Medali SEA Games 2025 Thailand
- 500 meter mix 22 crew
- 200 meter mix 22 crew
- 500 meter putri 12 crew
- 200 meter putri 12 crew
Editor: Oscar Fraby
Editor : Arief