Membaca Tan Malaka seperti upaya counter history. Membuka arsip lama yang dirahasiakan, berbahaya, dan membuat deg-degan.
****
DALAM sebuah siniar, ketika Helmy Yahya mewawancara sejarawan Anhar Gonggong, dia bertanya mengapa Tan Malaka bisa naik daun di tengah pembaca gen Z.
Dalam dua tiga tahun terakhir, Madilog, Dari Penjara ke Penjara, dan hasil riset Harry Albert Poeze terus dicetak ulang dan memenuhi rak toko buku mainstream.
Helmy Yahya pada akhirnya menjawab pertanyaannya sendiri, "Karena akhirnya masyarakat menemukan Che Guevara versi Indonesia dalam sosok Tan Malaka yang keren."
Faktor lain, mungkin karena posisi Tan Malaka sebagai underdog dalam sejarah Indonesia. Sehingga ia disukai gen Z yang cenderung anti otoritas.
Atau, penjelasannya lebih sepele, ini berkat kampanye Malaka Project. Berkat influencer seperti Ferry Irwandi dan Cania Citta.
Tentu tren ini dipandang dengan waswas oleh sebagian kalangan. Sebab kita tahu Tan Malaka adalah mantan Ketua Partai Komunis Indonesia (PKI). Dan, generasi tua masih cemas dengan "hantu merah" dari masa lalu.
Menurut kamu, mengapa Tan Malaka bisa relevan, apakah karena situasi politik kini dan kembalinya rezim militer?
Apa bagian dari pemikiran Tan Malaka yang paling kamu highlight?
Bagian mana dari episode kehidupan Tan Malaka yang paling membuat kamu terkesan?
Bak Membaca Novel
Menurut mahasiswa Universitas Islam Kalimantan (Uniska) Muhammad Arsyad Al Banjari (MAB), M. Arifin ada berlapis-lapis krisis kepercayaan terhadap narasi resmi sejarah.
Ia yakin, Gen Z makin kritis pada sejarah versi pemerintah di masa lalu. Sebab membaca Tan Malaka serasa membuka arsip alternatif yang selama ini disisihkan.
"Ini memberi semacam sensasi intelektual," ujar mahasiswa jurusan komunikasi ini, Jumat (19/12).
Di balik gagasan Tan Malaka yang berkonsekuensi terhadap nyawanya sendiri, Arifin terkesan kisah hidup Tan sebagai pelarian internasional.
"Dari Sumatra ke Belanda, Jerman, Rusia, Cina, Filipina, Thailand, Singapura... ia hidup berpindah kota memakai identitas palsu, mengajar, bekerja serabutan, tapi tetap berpikir dan menulis," ujar pemuda 21 tahun itu.
Ketekunan intelektual Tan Malaka hidup di tengah kekacauan menurutnya sangat luar biasa. Menjadi tahanan yang kerap berpindah penjara bukan hanya berkat keteguhan mental, tapi keberanian politik.
"Membaca kisahnya seperti membaca novel eksistensial yang nyata," ungkap Arifin.
Di sisi lain, Rifdah Najla menilai Tan Malaka lebih relevan jika tak dipandang dari sisi ideologinya, melainkan sebagai simbol perlawanan terhadap sejarah versi resmi.
Sebab menurut guru honorer di Banjarmasin ini, gen Z mengalami krisis kepercayaan terhadap elite politik yang inkompeten.
"Korupsi, represi simbolik, militerisme halus dan pembungkaman kritik. Tan Malaka muncul sebagai figur yang tidak pernah tunduk pada kekuasaan," cetusnya.
Bagi perempuan 23 tahun ini, membaca Tan Malaka seperti membuka ruang gelap sejarah Indonesia, nama yang dihapus, dibisukan dan dicurigai.
Narasi Tan Malaka disukai generasi muda karena terasa tulus dan jujur, tapi berbahaya dan menantang.
Konteks politik saat ini, tambah Rifdah, militer kembali dinormalisasi, kebebasan sipil menyempit dan kritik dianggap ancaman.
"Tan Malaka terasa berbicara dari masa lalu," singgungnya.
Yang bikin ia terkesan, buku Madilog hasil pemikiran Tan Malaka bisa membuat Rifdah paham metode berpikir runut secara bersamaan.
Selain itu, Madilog menolak terhadap mistisme. Mengajak pembaca berpikir rasional, ilmiah dan kritis.
"Keyakinan bahwa rakyat harus cerdas dulu sebelum berdaulat. Tan Malaka tidak ingin rakyat hanya mengganti penjajah, tetapi membongkar cara berfikir feodal yang memungkinkan penjajahan terjadi," kata Rifdah.
Rifdah menyoroti episode kehidupan Tan Malaka yang paling mengesankan sekaligus tragis, dieksekusi tanpa pengadilan oleh bangsanya sendiri.
"Ini juga terasa sangat dekat bagi mahasiswa, karena menunjukan bahwa berpikir kritis dan berbeda sering dianggap ancaman, bahkan dalam negara yang sudah merdeka," tutupnya.
Namun di sini pulalah, Tan Malaka dipandang sebagai simbol intelektual independen yang konsisten pada idealisme, meski taruhannya harus dibayar dengan nyawa.
Editor: Syarafuddin
Editor : Arief