MARABAHAN - Tradisi sedekah bumi masih lestari di Tanah Air, termasuk di Kabupaten Barito Kuala.
Salah satunya yang digelar rutin tiap tahun oleh warga Desa Waringin Kencana, Kecamatan Wanaraya.
Tradisi turun temurun ini ungkapan syukuran atas hasil pertanian dan perkebunan, sekaligus mempererat kebersamaan warga.
Meski berasal dari latar belakang berbeda seperti warga transmigran dari Jawa Tengah dan Jawa Timur serta warga Banjar semuanya kompak menjaga tradisi ini tetap hidup.
Diisi dengan doa bersama, dilanjutkan makan-makan dengan menu hasil bumi yang dibawa masing-masing warga. Usai acara, hasil panen juga dibagikan ke masyarakat sekitar.
Camat Wanaraya, Ade mengapresiasi semangat warga dalam menjaga warisan budaya. "Ini bentuk syukur atas hasil bumi yang melimpah, sekaligus momen silaturahmi antarwarga. Harapannya tahun depan makin melimpah lagi, sesuai dengan nama Wanaraya, makin raya hasilnya," ucapnya usai Rabu (1/10) siang.
Kepala Desa Waringin Kencana, Samuji menambahkan, tradisi sedekah bumi sudah ada sejak masa awal transmigrasi, dan kini telah menjadi budaya desa.
"Alhamdulillah, selain sebagai wujud syukur, kegiatan ini juga mempererat kebersamaan. Semua makan bersama tanpa sekat. Itulah nilai utama tradisi ini," ujarnya.
Ia menyebut hasil pertanian di desanya cukup lengkap, mulai dari sawit, jeruk, karet, hingga sayuran. Pemerintah desa pun berupaya meningkatkan sarana dan prasarana pendukung, seperti jalan usaha tani.
Samuji, menyampaikan pembangunan infrastruktur pertanian kini berdampak nyata. "Alhamdulillah, sekarang jalan usaha tani sudah bagus, alat pertanian juga tersedia. Petani lebih mudah mengelola lahan. Ini semua berdampak pada meningkatnya hasil panen," terangnya.
Sementara itu, Kepala Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Wanaraya, Sukiran menyampaikan data luasan sawah di Waringin Kencana. "Untuk padi lokal mencapai sekitar 325 hektar, ditambah 175 hektar untuk padi unggul. Ini potensi besar," jelasnya.
Namun, ia juga menyampaikan tantangan yang dihadapi petani. "Ada wilayah yang tidak bisa ditanami padi dua kali setahun karena kondisi tanah yang tinggi dan air masam. Tapi di Waringin Kencana, kita masih bisa kendalikan. Makanya perlu dijaga dan dirawat bersama," tutupnya.
Editor : Muhammad Syarafuddin