Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Warga Perumahan Wengga Kuda Sulap Lahan Tidur Jadi Kebun Sayur, Tangkal Karhutla Sekaligus Penopang Ekonomi

Sheilla Farazela • Kamis, 31 Juli 2025 | 12:44 WIB
PANEN: Petani sayur di RT 48 saat memanen terong di kebun lahan pinjam pakai yang sebelumnya merupakan lahan tidur. (Sheilla Farazela/Radar Banjarmasin)
PANEN: Petani sayur di RT 48 saat memanen terong di kebun lahan pinjam pakai yang sebelumnya merupakan lahan tidur. (Sheilla Farazela/Radar Banjarmasin)

Warga sadar, lahan menganggur di musim kemarau bukan hanya mubazir, tapi juga rawan terhadap ancaman karhutla.

      *****
Kebakaran lahan bukan lagi momok di lingkungan Perumahan Wengga Kuda, RT 48/RW 7, Kelurahan Guntung Manggis, Kecamatan Landasan Ulin, Banjarbaru.

Itu karena, lahan tidur penuh semak belukar yang biasanya terbakar, kini disulap warga menjadi kebun sayur produktif.

“Banyak yang punya lahan, tapi tidak dimanfaatkan. Saat musim kemarau, yang repot itu ketua RT dan tim rescue. Penanganan kebakaran itu mengeluarkan biaya besar,” ujar Ketua RT 48, Nanang Setiawan saat ditemui usai kegiatan Farm Field Day Tanaman Cabai, Selasa (29/7).

Berbekal semangat gotong royong, warga melakukan mediasi dengan pemilik lahan. Hasilnya, Poktan Serasi Indah Mandiri diizinkan untuk meminjam pakai lahan untuk dijadikan kebun. Tanaman seperti cabai, tomat, hingga terong kini tumbuh subur di atas tanah yang sebelumnya hanya dihuni ilalang.

Sudah enam tahun warga mengelola lahan ini. Luasnya mencapai 3,5 hektare, dan akan bertambah 5 hektare lagi seiring dukungan dari Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKP3) Kota Banjarbaru. “Sudah ada koordinasi dan dukungan dari Kepala DKP3 untuk perluasan dan mediasi dengan pemilik lahan,” jelas Nanang.

Tak hanya menyelamatkan lingkungan dari risiko karhutla, kebun sayur ini juga jadi penopang ekonomi warga. Panen cabai dilakukan dua hari sekali dengan hasil mencapai 60-70 kilogram.

Di tengah harga cabai yang melambung hingga Rp60 ribu per kilogram, hasil panen ini menjadi berkah. “Kita upayakan warga tidak beli. Kalau mau masak, tinggal ambil cabai dan sayur di kebun,” ujar Nanang.

Editor: Sutrisno

Editor : Arief
#Hutan #karhutla #banjarbaru #Sayur #Kebakaran #lahan