Abdul sempat pingsan saat kecelakaan di Tanah Laut. Sopir truk yang menabraknya kemudian membawanya ke rumah sakit di Pelaihari.
*****
Saat dokter hendak menjahit luka di kepalanya, Abdul Rahman Sidik (29) tiba-tiba tersadar dan menolak lukanya dijahit lantaran takut dengan jarum suntik.
Warga Kelurahan Cempaka ini kemudian memilih pulang karena merasa tubuhnya baik-baik saja. "Sopir truknya tanggung jawab aja, pas mau pulang saya diberi uang Rp500 ribu sebagai biaya pengobatan tambahan," kata Abdul.
Namun, keesokan harinya Abdul mendapati dirinya tak bisa menggerakkan tubuhnya. Hanya lehernya yang masih bisa bergerak ke kiri dan kanan. Tubuhnya membengkak, sementara tangan dan kakinya mati rasa. "Mungkin ujar orang itu saraf kejepit," ujarnya.
Sejak saat itu, Abdul tak lagi bisa menjalani aktivitasnya seperti biasa. Karena takut dengan rumah sakit, ia dan ibunya hanya mengandalkan pengobatan kampung selama 10 bulan. Hingga akhirnya, Babinsa, RT, dan Puskesmas Cempaka membantunya mendapatkan perawatan medis.
Saat perawatan, dokter yang merawatnya menyarankan untuk operasi. Namun saat dirujuk ke RS dan diperiksa, ternyata peluang keberhasilannya hanya 20 persen.
Ibunya Abdul, Juhairiyah tak sanggup membayangkan risiko tersebut. Akhirnya, mereka memilih terapi rutin. Terapi ini membawa sedikit kemajuan. Abdul mulai bisa mengangkat tangannya, meski masih gemetar.
Namun, terapi yang seharusnya dilakukan dua kali seminggu tak bisa berjalan lancar, lantaran tak punya biaya.
Juhairiyah terkadang mendapat uang dengan membantu tetangga, seperti mengolah sayur atau beres-beres rumah. Upahnya Rp15.000 hingga Rp20.000 per hari, tetapi itu pun tidak selalu ada. Sesekali, saudara mereka membantu, namun mereka juga memiliki kebutuhan sendiri.
Editor : Arief