Oleh: ENDANG SYARIFUDDIN, Banjarmasin.
Abdul Muis ditemui Kamis (4/5) pagi. Penampilannya sederhana, tidak seperti kebanyakan pejabat dengan tampilan yang parlente.
Pria kelahiran Banjarmasin, 5 Februari 1955 itu bercerita panjang lebar bagaimana perjalanan karirnya di dunia politik. Termasuk sampai membuat Jamkesmu untuk konstituennya.
Jamkesmu adalah Jaminan Kesehatan Abdul Muis. Selidik punya selidik, Jamkesmu ini hanya satu dari sekian banyak program yang digagasnya untuk membantu masyarakat. Khususnya di daerah pemilihan (dapil) Banjarmasin Selatan.
“Jamkesmu ini ruang lingkupnya untuk masyarakat di dapil saya,” tuturnya.
“Ini sebagai bentuk sumbangsih terhadap konstituen,” sambung suami dari Hj Siti Noorhasanah ini.
Kartu sakti itu bisa dimanfaatkan masyarakat yang ingin memeriksa kesehatan. Caranya mudah. Cukup menunjukkan kartu tersebut ke dokter yang sudah ditentukan, dr Fajar yang membuka praktek di Jalan Mahat Kasan, Kelayan B.
Kartu itu nilainya Rp750 ribu. Dana sebesar itu bisa digunakan masyarakat yang sedang sakit untuk memeriksa kesehatan dan menebus obat.
Lalu berapa jumlah kartu Jamkesmu yang sudah dibagikan? Haji Mumu, panggilan akrabnya, menyebut totalnya sekarang sudah mencapai 4.816 lembar.
“Total kartu yang dibagikan sesuai dengan jumlah perolehan suara di Pileg 2019-2024,” bebernya.
Menurutnya, kartu tersebut tidak hanya berguna bagi jaminan kesehatan saja. Tapi, juga dapat digunakan untuk keperluan lainnya. Misalnya kematian, perkawinan, dan program kemasyarakatan lainnya.
“Kematian akan mendapat bantuan santunan Rp500 ribu. Sedangkan acara perkawinan dan acara keagamaan Rp250 ribu,” terangnya.
Banyaknya kartu Jamkesmu yang disebar tentu tidak sedikit dana yang harus dikeluarkan. Dari mana dana yang diberikan untuk aksi sosialnya?
Menurut Haji Mumu, dana tersebut murni dari kantong pribadinya. “Murni dari gaji saya sebagai anggota dewan. Gaji wakil rakyat untuk rakyat yang saya sisihkan,” ucapnya.
Lantas berapa besar uang yang harus dikeluarkan untuk aksi sosial itu setiap bulan?
Menurutnya, jumlahnya bervariasi. Jutaan rupiah pasti. Tergantung situasi dan kondisi.
Selama menjalankan program Jamkesmu 14 tahun ini, dana tertinggi yang dikeluarkan sebesar Rp15 juta.
“Bulan ini saja saya akan mengeluarkan santunan kematian untuk delapan orang. Belum ditambah kesehatan, perkawinan, dan sebagainya,” ujarnya.
Baginya dana sebesar itu tidak seberapa jika dibanding melihat masyarakat yang sakit, namun terbatas biaya. Mereka kesulitan mendapatkan pelayanan kesehatan.
Ia memutuskan terjun ke dunia politik bergabung dengan PAN Banjarmasin sekitar tahun 1998, setelah diajak tetangganya Prof H Ridani Fizi. Sejak itu, Haji Mumu sudah berikrar akan mengabdikan diri untuk masyarakat.
“Menjadi anggota DPRD bukan mencari kekayaan, melainkan untuk sosial memperjuangkan aspirasi masyarakat. Jangan mengambil kesempatan untuk kepentingan pribadi, karena kita sudah disumpah,” ujarnya.
Ia masih ingat pertama kali nyalon pada tahun 2004, tapi gagal. Merintis karir memang tak langsung berjalan mulus, penuh lika-liku. Pada masa itu, sistem pemilihan menggunakan proporsional tertutup.
Namun, Haji Mumu tak pantang menyerah. Tahun 2009, ia kembali mencoba. Bahkan agar lebih dekat dengan para pemilihnya, ia memutuskan pindah rumah dari Cempaka Banjarmasin Timur ke Tatah Bangkal Banjarmasin Selatan.
Bermasyarakat sudah menjadi kesehariannya. Tidak salah jika di mana saja, ia selalu banyak teman. “Iya saya pindah, supaya lebih dekat dengan warga. Sampai sekarang,” ujarnya.
Usaha kerasnya membuahkan hasil. Ia meraup suara 1.625, dan mengantarkannya ke DPRD Kota Banjarmasin. Periode berikutnya, lagi-lagi kembali terpilih. Perolehan suaranya bahkan naik menjadi 2.750. Periode 2019-2024 terpilih lagi, kali ini saya memperoleh hampir dua kali lipat, 4.816 suara.
“Satu kali gagal, tiga kali berhasil. Saya sudah niat, apabila pileg mendatang berhasil, Jamkesmu akan saya naikkan nilainya menjadi Rp1 juta, santunan Rp750 ribu, dan santunan perkawinan dan acara keagamaan menjadi Rp500 ribu,” cetus Haji Mumu.(az/dye) Editor : Arief