Zulqarnain, Banjarbaru
Terbaru, banjir merendam sedikitnya 45 rumah di Kelurahan Cempaka pada Senin (5/9/2022) lalu. Beberapa hari terakhir, hujan deras kerap mengguyur kota Idaman. Warga pun kembali harus bersiaga, sewaktu-waktu air berwarna kecoklatan bisa saja masuk ke dalam rumah mereka.
Warga pun mulai terlatih, lebih tepatnya terpaksa untuk terbiasa. Siap mengangkat barang-barang ke loteng rumah, banjir mulai melanda.
Radar Banjarmasin mendapat cerita ini dari dua orang warga Sungai Tiung, Syamli dan Emel, dua orang kakak beradik ini ditemui wartawan di warung Emel.
“Kalau sore seperti sekarang sudah hujan, apalagi sampai malam, orang Cempaka tidak bisa tidur,” kata Syamli salah satu warga di Kelurahan Sungai Tiung, Senin (14/11).
Jika warga Kelurahan Cempaka sudah bersiaga, maka itu menjadi tanda bahaya juga bagi warga di Sungai Tiung.
“Di sini rata-rata rumah sudah ada loteng. Buat persiapan,” kata Emel di warungnya.
Namun uniknya ujar Emel, ada perbedaan air yang merendam Cempaka dan Sungai Tiung. “Air yang merendam Cempaka lebih banyak lumpurnya, kalau yang sampai sini sudah berkurang,” sambungnya.
Tak bisa berbuat banyak, Emel hanya mengangkut barangnya ke loteng waktu itu.
“Kalau Cempaka sudah banjir. Nanti tim SAR datang untuk bersiap evakuasi orang tua dan orang yang sakit. Nanti kalau malam, makanan datang,” kata Syamli.
Banjir itu datang langganan hampir setiap tahun. Menurut Emel, biasanya di penghujung tahun dan awal tahun warga sudah bersiap.
“Jadi Banjir itu dimulai dari Cempaka, ke sini (Sungai Tiung), Ujung Murung, sampai akhirnya di Bangkal,” kata Emel.
Di tempat Syamli misalkan, berada di belakang Masjid Jami Nurul Hasanah Cempaka. Saban kali banjir, rumahnya yang berada agak tinggi menjadi rumah penitipan barang sementara.
“Jadi pintu belakang rumah itu dibuka, tetangga menitip barangnya. Ya memang keluarga juga,” kata Syamli tertawa.
Menurut Syamli wilayah mereka sudah menjadi langganan banjir mulai bahari. Namun yang berbeda adalah rentang waktu kejadian.
“Kalau dulu hujan deras yang lebat beberapa hari, baru ada banjir. Sekarang paling cuma beberapa jam sudah kejadian,” ujar Syamli yang sedari kecil tinggal di sana.
Dia menduga, ini ada keterkaitan dengan gundulnya daerah pegunungan. “Jadi airnya langsung turun.”
Saat ini di daerah pegunungan sekitar sudah menjadi kawasan perumahan. Atau sedang dibangun perumahan.
“Jadi tanahnya itu kan dijual, karena bukan milik pemerintah. Setelah itu baru dibangun perumahan,” pungkasnya. (mr-157/yn/bin)
Editor : Muhammad Helmi