- Oleh: WAHYU RAMADHAN, Banjarmasin
Jumat (11/2) petang, di sebuah lapangan yang tak jauh dari Jembatan Sungai Alalak, Banjarmasin Utara, angin berembus kencang.
Berteduh di bawah pohon akasia, sejumlah pemuda tampak asyik mengutak-atik drone-nya. Salah satunya Hanani Fadlilah.
Ia sibuk memasang dan mengencangkan baling-baling drone-nya dengan sebuah kunci pas. Berat drone 5 inch itu tak sampai 1 kilogram.
Tapi ketika hendak menerbangkan, angin kencang membuat Fadil agak sedikit ragu.
"Yakin saja ah," ujarnya sembari mengenakan googles. Ada semacam antena pemancar di kacamata berkelir hitam itu.
Drone mulai dihidupkan. Baling-balingnya berdesing, mengangkasa dan melesat. Berputar mengelilingi lapangan, sedikit bermanuver, menyeruak pepohonan dan ilalang.
Saat itu, kami asyik memerhatikan pergerakan drone dari sebuah layar monitor mini.
Menampilkan video yang juga dilihat Fadil dari googles-nya. Ibaratnya, Anda seperti sedang menunggangi dan menyetir drone tersebut.
Maka ketika drone itu terbang menukik, meliuk, atau bahkan jungkir balik, seperti itu pula yang Anda lihat dan rasakan.
Nama permainan yang sedang digandrungi ini Drone First Person View (FPV). Nge-drone yang tak hanya memberikan sensasi terbang. Tapi, juga pengendalian drone dengan kecepatan tinggi hingga manuver dramatis.
Tentu, sebagai pilot, Anda bertanggung jawab pada keselamatan drone.
Di luar sana, ada sejumlah kategori atau kelas drone yang sedang marak. Seperti racing class, freestyle flaying dan aerial photography.
Nah, yang diterbangkan Fadil pada Jumat itu lebih kepada racing dan freestyle flying.
Di Kalimantan Selatan, pegiatnya tergabung dalam FVP Banua. Dituturkan Fadil, sebenarnya komunitas ini sudah lama dibentuk. Sekitar 2016 lalu. Tapi kembali digiatkan pada pertengahan 2021 kemarin.
Dijelaskan Fadil, adrenalin lah yang membuat permainan ini menarik. Drone yang diterbangkan umumnya adalah drone yang di-custom. Yang disesuaikan dengan kebutuhan si pilot.
Contoh, drone yang dirakit Fadil bisa menembus kecepatan 150 hingga 200 kilometer per jam.
"Drone yang serba manual dan bebas. Pilot dapat menikmati kecepatan tinggi dan manuver tanpa batas. Seperti melewati hutan, istilahnya 'blusukan'," jelasnya.
"Menjangkau kawasan yang sulit dilewati atau yang dianggap sebagai halang rintang," tambahnya.
"Berbeda dengan drone konvensional alias pabrikan, yang ketinggiannya pun diatur alias terbatas. Pun dengan kecepatannya. Lalu, banyak tambahan fungsi pintar juga. Misalkan sensor rintangan," lanjutnya.
Lantaran hanya punya kamera depan dan full manual. Maka feeling pilot juga tak kalah berperan. Salah sedikit bisa fatal. Di sinilah, keterampilan pilot diuji.
"Tidak sekali atau dua drone ini crash. Tersangkut di dahan atau ranting pohon. Jadi selain nyali, diperlukan juga keikhlasan. Ikhlas saat melihat drone-nya hancur," kata Ogenk, rekan Fadil.
Syukurlah, untuk ongkos perbaikan, lantaran serba custom, biayanya tak semahal drone konvensional.
"Jangan lupa, kalau tidak terbiasa mengenakan googles, kepala bisa puyeng," timpal Fadil.
Disinggung apakah drone miliknya masih bisa digunakan untuk pengambilan video atau gambar? Jawabannya, tentu bisa.
"Bahkan, karena kebebasannya, drone ini mampu mengambil sudut ekstrem. Bisa kita lihat hasilnya di film atau iklan," terangnya.
Lantas, apakah tak ada aturan yang menjeratnya? Mendengar pertanyaan itu, Fadil tersenyum.
Ia menekankan, penerbang drone racing bahkan freestyle hendaknya tetap menjunjung etika.
Contoh, pilot dilarang menerbangkan drone di kawasan sekitar bandara. Atau lalu lalang di atas kawasan privat tanpa berizin.
"Meski terkesan tak ada batasan, sebaiknya kita menjunjung tinggi aturan yang berlaku di kalangan penerbang drone," pungkasnya. (at/fud) Editor : Arief